Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
MENTERI Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan turut mengomentari penyebab harga bawang merah yang kian naik di pasar tradisional. Masih banyaknya pedagang yang libur lebaran, hingga banjir di Brebes yang merupakan daerah produsen bawang disebut menjadi pemicunya.
Dilansir dari Panel Harga Badan Pangan Nasional per 11.20 WIB, harga rata-rata bawang merah secara nasional tembus Rp53.010 per kilogram.
"Pertama lebaran, orang libur semua, yang dagang kan berkurang, saya kira sekarang sudah normal lagi," ucap pria yang akrab disapa Zulhas saat ditemui di Jakarta pada Rabu (24/4).
Baca juga : Harga Bawang Merah dan Putih di Palu Kembali Naik
Selain itu, ia menilai bahwa stok bawang merah yang kurang sehingga membuat harganya menjadi mahal karena para petani yang belum sepenuhnya kembali bekerja setelah libur lebaran.
"Kalau tidak ada yang motong bawang (petani), kan gaada yang ngirim, karena lebaran maklum lah ya," jelas Zulhas.
Ditemui di tempat yang sama, Direktur Jenderal (Dirjen) Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Isy Karim menyebut harga bawang merah yang meroket diakibatkan oleh banjir yang melanda Kabupaten Brebes, yang merupakan salah satu produsen bawang merah Indonesia.
Baca juga : Usai Lebaran, Harga Bawang Merah di Brebes Tembus Rp50 Ribu/Kg
"Di Brebes itu kan kemarin banjir, sama kan pernyataan dari pak Arif kepala Bapanas kalau di Brebes itu banjir sehingga pasokannya berkurang," ungkap Isy.
Ia pun mengungkapkan bahwa selain di Brebes, saat ini harapan produksi bawang merah Indonesia juga terdapat di Bima, Nusa Tenggara Barat.
"Mudah-mudahan setelah panen lagi, kita kan sedang melihat di Bima di NTB seperti apa. Sumber bawang merah ada di Bima juga bukan hanya di Brebes juga," pungkasnya.
(Z-9)
Adapun total bantuan yang telah disalurkan mencapai sekitar 353,5 ribu ton beras dan 70,7 juta liter minyak goreng.
Harga bahan kebutuhan pokok masyarakat di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, kembali normal sementara, pasokan maupun stok aman dan lancar menjelang Ramadan.
Harga sejumlah komoditas pangan di Pasar Gedhe Klaten, Jawa Tengah, terpantau mulai stabil dan cenderung menurun, paling signifikan terjadi pada komoditas cabai dan telur ayam.
Kebutuhan cabai besar di Kepri mencapai 12.074 ton per tahun. Namun, produksi lokal saat ini baru berada di angka 4.508 ton.
Telur ayam dijual Rp22 ribu per kg, sementara harga di pasaran Rp28 ribu per kg. Gula pasir dijual Rp14.500 per kg, lebih murah dibanding harga pasar Rp17 ribu per kg.
Harga telur ayam semula Rp 31.500 menjadi Rp29 ribu, normalnya Rp 26 ribu perkg, bawang merah Rp 43 ribu, bawang putih Rp40 ribu, cabai rawit merah Rp 54 ribu, cabai keriting Rp 62 ribu.
Petani memanen bawang merah saat panen raya akhir tahun di Gondang, Nganjuk, Jawa Timur.
Petani memeriksa instalasi lampu perangkap hama di Rejoso, Nganjuk, Jawa Timur.
Selain beras dan minyak, bawang merah juga masuk kategori tiga besar bahan pokok yang sering mengalami inflasi.
Bawang merah juga mengalami penurunan Rp3.833 dari Rp47.667 menjadi Rp43.834/kg. Sementara bawang putih turun Rp1.000 dari Rp34.317 menjadi Rp33.317/kg.
Dari pengamatan di lapangan, cabai hijau bahkan ada yang dijual Rp60.000 per kilogram. Harga cabai saat ini dinilai cukup mahal dan jauh di atas harga keekonomiannya
Harga bawang merah turun dari sebelumnya Rp56.667 per kilogram, turun sebesar Rp12.500 menjadi Rp44.167/kg.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved