Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
MEDCO E&P Grissik Ltd (MEPG) selaku kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) yang mengoperasikan Blok Corridor, Sumatra Selatan, mengaku akan giat melakukan pengeboran sumur setelah amandemen kontrak bagi hasil atau production sharing contract (PSC) di blok tersebut disetujui kembali menjadi cost recovery dari sebelumnya skema gross split.
"Pada Desember 2023 diputuskan Menteri ESDM (Arifin Tasrif) kalau Blok Corridor menjadi cost recovery. Skema ini membuat kami aktif melakukan pekerjaan (pengeboran) lebih lanjut," ujar Senior Vice President (VP) Corridor Asset Medco E&P Tri Laksono di Blok Corridor, Rabu (6/3).
Cost recovery merupakan biaya operasi yang dikeluarkan terlebih dahulu oleh KKKS untuk melaksanakan kegiatan eksplorasi, eksploitasi, dan produksi minyak dan gas (migas). Sementara, gross split adalah skema dengan perhitungan bagi hasil pengelolaan wilayah kerja migas antara pemerintah dan KKKS dengan perhitungan dimuka.
Baca juga : MedcoEnergi Raih Dua PROPER Predikat Hijau 2023
Ali menuturkan dengan beralihnya ke skema cost recovery dapat memikat pengusaha berinvestasi di Blok Corridor guna peningkatan lifting (produksi siap jual) gas. Pasalnya, selama menerapkan skema bagi hasil gross split, dianggap kurang menggenjot lifting gas.
"Kalau dilihat program sebelumnya, tidak ada program lebih lanjut, tetapi dengan kembali ke cost recovery ada pasar yang menyerap gas. Sayang kalau pipa gasnya itu kosong," ujar Ali.
"Kami beri kesempatan kepada produsen lain bergabung dengan kami menggunakan pipeline yang untuk memacu pengembangan gas lebih lanjut di Blok Corridor," sambungnya.
Baca juga : Kantongi FID Rp4,6 T, Pertamina akan Bor Sumur Baru di Blok Mahakam
Blok Corridor memiliki satu lapangan minyak di Suban Baru dan tujuh lapangan gas yakni di Suban, Dayung, Sumpal, Gelam, Letang, Tengah & Rawa yang berproduksi di Sumatra Selatan. Blok yang berada di Banyuasin itu memiliki dua fasilitas pengolahan gas utama yaitu Kilang Gas Suban dan Kilang Gas Pusat Grissik.
Produksi gas Blok Corridor telah tercatat meningkatkan produksi migas Medco pada 2022. Produksi migas Medco E&P mencapai 161 ribu barel setara minyak per hari (mboepd) hingga September 2022, naik 73% dibanding periode yang sama di 2021.
Ali menegaskan MEPG berkomitmen menjaga ketahanan energi dengan melakukan pengembangan sumur-sumur baru di Blok Corridor, salah satunya Sumur Suban 27.
Baca juga : Pemerintah Setujui Amendemen PSC Blok Corridor Jadi Cost Recovery
"Dengan skema cost recovery menjadi motivasi buat kami untuk pengembangan pengeboran ke depannya," pungkas Ali.
Ia berharap Blok Corridor terus berkontribusi dalam ketahanan energi. Pada akhir tahun 2023, Blok Corridor telah menandatangani perjanjian jual beli gas bumi dengan Perusahaan Gas Negara (PGN). Perjanjian ini menjadi komitmen pemerintah, KKKS, dan PGN dalam melayani industri dan ritel di sepanjang Pulau Sumatra, Jawa bagian Barat, dan Kepulauan Riau.
(Z-9)
Melalui proyek ini, fasilitas open-cycle berkapasitas 70 MW yang sudah ada dikonversi menjadi pembangkit listrik combined cycle berkapasitas 109 MW.
PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) terus memperkuat peran strategisnya dalam mendukung ketahanan energi Indonesia melalui peningkatan kapasitas produksi gas.
Sektor hulu migas membuktikan tidak hanya berkutat pada eksplorasi dan produksi minyak dan gas. Pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasi juga menjadi perhatian.
South Sumatra Block (SSB), salah satu tulang punggung pasokan gas domestik di bawah pengelolaan Medco E&P, telah mencatat produksi gas mencapai 53,6 juta standar kaki kubik per hari
Medco bakal langsung melakukan pengeboran dua sumur di Bonjol untuk mencari potensi didirikannya PLTP.
MedcoEnergi memperkuat posisinya sebagai pemain kunci dalam transisi energi di kawasan Asia Tenggara melalui pengembangan portofolio yang terdiversifikasi.
Industri minyak dan gas (migas) global kini berada di bawah mikroskop regulasi lingkungan yang semakin ketat, terutama terkait emisi gas rumah kaca.
Inovasi teknologi migas kembali diadaptasi PT Pertamina Gas (Pertagas) untuk menjawab persoalan dasar masyarakat desa, khususnya dalam menjaga infrastruktur pipa air.
INSTITUTE for Essential Services Reform (IESR) menyoroti capaian rata-rata lifting minyak bumi (termasuk Natural Gas Liquid/NGL) pada 2025 sebesar 605,3 ribu barrel per hari.
Industri penunjang minyak dan gas (migas) dalam negeri semakin menunjukkan peran strategisnya.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan melelang delapan blok migas.
Komitmen PHE OSES dalam menurunkan emisi dari sektor hulu migas kembali memperoleh pengakuan nasional.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved