Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
EKONOM senior sekaligus salah satu pendiri Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Didik Junaidi Rachbini menilai pemerintah tidak profesional dalam pengendalian harga beras. Gelagat yang ditunjukkan pengambil kebijakan disebut mempertegas tidak profesionalnya pejabat strategis di Tanah Air.
"Ini tidak profesional, karena pemerintahnya sibuk dengan cawe-cawe politik dan macam-macam. Jadi kalau pemerintah itu menyalahkan keadaan, atau beras di luar negeri naik, itu eskapisme. Mencari-cari kesalahan orang lain, pihak lain di luar, eskternal, melarikan diri," ujarnya saat dihubungi, Selasa (5/3).
Pemerintah juga dianggap tak mau mengakui dan menyampaikan kepada publik mengenai akar permasalahan dari melonjaknya harga beras. Mulai dari dampak El Nino, hingga masyarakat Eropa yang tetiba gemar makan nasi dinilai sebagai bentuk lari dari pertanggungjawaban.
Baca juga : Naik Lagi, Harga Beras di Palu Tembus Rp17 Ribu per Kg
Melambungnya harga beras di level konsumen, kata Didik, jelas karena supply saat ini terbatas. Sebabnya ialah begitu masifnya guyuran beras dalam selimut bantuan sosial menjelang Pemilu 2024.
Alhasil, supply beras menjadi terbatas dan kelompok masyarakat yang tak kebagian bansos harus menanggungnya. "Masalahnya, golongan bawah disupply, disogok dengan beras, dengan bansos itu kan sogokan dalam pemilu. Golongan atas tidak menerima itu," kata Didik.
"Jadi mereka kekurangan supply. Jadi tidak usah kemana-mana, sekarang ini beras itu supply-nya kurang, maka itu harganya naik. Ini sudah teori dasar," sambungnya.
Karenanya, Didik menilai manajamen maupun pengelolaan harga dan suplai beras saat ini menjadi yang paling buruk, bahkan bila dibandingkan hingga 50 tahun yang lalu.
"Sekarang ini kondisi kenaikan harga yang paling buruk dan paling tidak profesional pemerintah mengendalikan beras. Memang pemerintah tidak profesional. Pemerintahan Jokowi mengabaikan pengendalian inflasi seperti sekarang. Tugas-tugas tidak dilaksanakan dengan baik," pungkasnya. (Z-8)
Revitalisasi mesti diarahkan pada konsep pengembangan kawasan berorientasi transit atau Transit-Oriented Development (TOD).
Kondisi ini tidak hanya merusak estetika pasar, tetapi juga mulai mengancam kesehatan pedagang dan pengunjung.
Holding UMKM Expo 2025 bertema "Ekosistem Bisnis UMKM Kuat, Siap Menjadi Jagoan Ekspor” menjadi wadah yang sangat baik untuk perkembangan UMKM.
Pasokan sering kosong karena tidak adanya panen di sejumlah sentra pertanian akibat intensitas hujan tinggi.
SEJUMLAH pedagang mengeluhkan harga sejumlah komoditas pangan yang masih mahal saat Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka mengunjungi Pasar Jagasatru.
Keterbatasan pada aspek kemasan, pengelolaan merek, dan strategi pemasaran membuat produk unggulan desa tersebut belum mampu bersaing di pasar modern maupun digital.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved