Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
DUNIA usaha mengapresiasi keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 6%. Hal itu dinilai mampu menjaga stabilitas ekonomi makro dan memberikan sedikit ruang bagi pebisnis untuk melakukan usaha meski terbatas.
"Kami mengapresiasi keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 6%. Ini kami rasa sangat prudent," ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani saat dihubungi, Kamis (21/12).
Langkah BI mempertahankan suku bunga acuan juga sejalan dengan kondisi inflasi nasional yang masih berada dalam rentang kisaran target. Itu menurut Shinta patut dijaga lantaran dalam tiga bulan terakhir ada kecenderungan peningkatan inflasi akibat kenaikan harga-harga bahan pangan.
Baca juga: Ekonomi Indonesia masih Berpotensi Terdampak Kondisi Global
Selain itu, faktor eksternal yang memengaruhi stabilitas makro ekonomi domestik juga cenderung mengalami stabilisasi. Dengan kata lain, tak ada risiko besar yang harus diantisipasi oleh BI melalui penaikan suku bunga. Karenanya, langkah mempertahankan level BI Rate patut diapresiasi.
"Kebijakan mempertahankan tingkat suku bunga saat ini kami rasa sudah sangat tepat, meskipun belum ideal untuk mendongkrak kinerja usaha dan pertumbuhan ekonomi ke level yang lebih tinggi," kata Shinta.
Baca juga: Suku Bunga AS Diyakini Turun pada Semester II 2024
Dia menambahkan, keputusan BI mempertahankan BI Rate juga akan memberi dampak positif bagi sektor riil. Sebab, pelaku usaha tak perlu khawatir soal risiko kenaikan beban usaha dan penurunan daya beli pasar yang umumnya terjadi pascakenaikan suku bunga acuan.
"Dengan demikian, kami bisa lebih fokus pada peningkatan kinerja usaha dengan memanfaatkan momentum konsumsi akhir tahun," terang Shinta.
Dunia usaha, sambungnya, berharap agar BI tetap waspada dalam upaya menjaga stabilitas makro. Itu juga perlu diikuti dengan penciptaan stabilitas nilai tukar dan inflasi melalui optimalisasi instrumen-instrumen intervensi lain seperti SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) maupun SVBI (Sekuritas Valas Bank Indonesia).
BI juga tetap perlu menjadikan upaya penaikan suku bunga sebagai upaya terakhir. "Saat ini pun pelaku usaha sudah merasa tingkat suku bunga riil tidak kompetitif bila dibandingkan negara-negara ASEAN-5 dan tidak affordable, khususnya bagi UMKM, sehingga ekspansi kinerja usaha menjadi terbatas," kata Shinta.
"Karena itu, bila tren inflasi global di negara-negara utama dunia sudah turun secara stabil, risiko monetary tightening global mereda, dan faktor geopolitik lain yang dapat menciptakan inflasi domestik cenderung stabil, kami berharap BI bisa segera melakukan relaksasi/penurunan suku bunga ke level yang bersaing agar ekspansi kinerja usaha dan pertumbuhan ekonomi bisa didongkrak lebih tinggi daripada saat ini," pungkas dia. (Mir/Z-7)
GUBERNUR Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan masih terbuka peluang penurunan lanjutan suku bunga acuan atau BI Rate pada tahun ini.
Terpilihnya Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) dinilai menjadi langkah positif bagi penguatan kebijakan ekonomi nasional.
Sejumlah ekonom memproyeksikan Bank Indonesia akan mempertahankan BI Rate di level 4,75% pada pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Januari 2026, Rabu (21/1) siang ini.
Sikap menahan suku bunga acuan (BI Rate) dinilai paling rasional di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
IHSG Bursa Efek Indonesia 8 Januari 2026 ditutup melemah. Analis Pasar Modal Indonesia Reydi Octa mengatakan IHSG kemungkinan sedikit terdampak suku bunga acuan dan inflasi
BI resmi mengganti Jibor dengan Indonia mulai 1 Januari 2026. Indonia berbasis transaksi riil (weighted average), menjamin transparansi pasar.
Federal Reserve (The Fed) hampir dipastikan akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam keputusan kebijakan terbaru yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu (28/1) sore waktu setempat
Managing Director, Chief India Economist and Macro Strategist, Asean Economist HSBC Pranjul Bhandari menyebut masih ada kemungkinan Bank Indonesia terus memangkas suku bunga.
Update pasar saham properti 9 Januari 2026. Saham DILD dan ASRI catatkan kenaikan signifikan di tengah sentimen IKN dan suku bunga, sementara APLN bergerak moderat.
Bank Indonesia (BI) menyebut penurunan suku bunga kredit perbankan cenderung lebih lambat. Karena itu, BI memandang penurunan suku bunga kredit perbankan perlu terus didorong.
Ekonom Hossiana Evalisa Situmorang menyebut keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen agar transmisi suku bunga lebih cepat
DEWAN Gubernur Bank Indonesia menyebut masih ada ruang penurunan suku bunga ke depan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved