Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
Presiden Joko Widodo, untuk pertama kalinya, menjajal Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB), Rabu (13/9). Dalam kegiatan tersebut, sejumlah wartawan turut diajak untuk bisa merasakan langsung sensasi menumpangi kereta terbanter se-Asia Tenggara itu.
Perjalanan uji coba dimulai dari Stasiun Halim, Jakarta. Cukup sulit menemukan stasiun tersebut. Karena masih baru, petunjuk arah menuju tempat pemberhentian itu belum muncul di peta. Alhasil, sejumlah wartawan, bahkan polisi bingung mencari lokasinya.
"Ini saya mau apel juga tidak tahu masuk dari mana," ucap seorang anggota polisi di sekitar Stasiun Halim.
Baca juga: PT KAI Siapkan Angkutan Feeder, Dukung Kereta Cepat Jakarta Bandung
Akhirnya, setelah bertanya pada penduduk setempat, pintu masuk ditemukan. PT Kereta Cepat Indonesia China membuka jalan baru untuk akses masuk dan keluar. Titiknya di sebelah Stasiun Pengisian Bahan bakar TNI Kementerian Pertahanan Cawang.
Meski waktu pengoperasian tinggal sebulan lagi, Stasiun Halim masih belum sepenuhnya rampung. Masih ada pengerjaan yang dilakukan, terutama di sisi luar.
Untuk bagian dalam, sudah rapi. Sebagian besar fasilitas seperti eskalator, dan toilet, juga sudah berfungsi penuh. Papan informasi juga lengkap. Musola dan ruang menyusui pun ada.
Baca juga: KCIC Usul Tarif Paket Kereta Cepat-LRT-Feeder Rp300 Ribu
Lalu, bagaimana dengan keretanya? Tampilan luarnya mewah. Warna merah, silver dan hitam di badan kereta meninggalkan kesan yang gagah.
Dari segi kapasitas, satu rangkaian KCJB terdiri dari delapan gerbong yang bisa menampung 600 hingga penumpang.
Di bagian dalam, untuk kategori premium ekonomi, bisa dibilang sudah cukup oke. Gerbong kantin, ada. Tempat mengisi daya, ada. Hanya saja kursinya kurang empuk. Untungnya, perjalanannya sangat cepat, jadi penumpang tidak akan sampai pegal-pegal.
Sangat cepat, memang. Dari Stasiun Halim menuju Stasiun Padalarang, Bandung Barat, Jawa Barat, hanya butuh 28 menit. Jika menumpangi mobil, dalam kondisi tidak macet, waktu tempuh bisa dua jam.
Tidak hanya cepat, KCJB juga nyaman. Meski melaju dengan kecepatan 350 kilometer per jam, penumpang tidak merasa ada guncangan. Berjalan di lorong gerbong pun aman.
Presiden Joko Widodo bahkan berjalan-jalan dari gerbong satu ke gerbong lain untuk menyapa para penumpang.
"Saya memang baru pertama kali tadi mencoba. Nyaman. Dengan kecepatan 350 kilometer per jam, tidak terasa sama sekali, baik saat duduk atau berjalan," ujar Jokowi di Stasiun Padalarang, Jawa Barat, Rabu (13/9).
Penumpang yang hendak ke kota Bandung memang direkomendasikan berhenti di Padalarang karena KCJB tidak berhenti di Stasiun Bandung.
Dari Padalarang, penumpang bisa melanjutkan perjalanan menggunakan kereta api (KA) feeder atau pengumpan menuju Stasiun Bandung.
Hal itu pun dicoba Jokowi. Turun di Padalarang, ia berpindah ke KA pengumpan. Di sini, proses perpindahannya tidak merepotkan. Penumpang hanya perlu menyeberang dari peron KCJB ke peron KA feeder. Eskalator untuk menyeberang sudah disediakan dan berfungsi penuh.
Perjalanan dari Stasiun Padalarang ke Stasiun Bandung pun hanya butuh sekitar 20 menit. Dengan begitu, secara akumulasi, waktu tempuh dari Stasiun Halim ke Stasiun Bandung hanya 50 menit.
Itu sangat jauh lebih cepat dibandingkan kereta Argo Parahyangan yang rata-rata butuh waktu 2 jam 45 menit.
Moda transportasi baru tersebut tentu bisa menjadi alternatif bagi warga yang mencari kecepatan. Presiden berharap KCJB bisa menarik perhatian publik sehingga pengguna kendaraan pribadi dari Jakarta ke Bandung maupun sebaliknya bisa berkurang sehingga tingkat kemacetan dan polusi udara bisa ditekan.
Jokowi mengatakan, selama ini, kemacetan dan polusi memiliki andil besar dalam peningkatan kerugian daerah. Berdasarkan kalkulasi yang dilakukan pemerintah, Jabodetabek dan Bandung menderita kerugian hingga Rp100 triliun per tahun karena dua masalah pelik tersebut.
"Saya kira arahnya ke situ karena setiap tahun, karena macet dan polusi, di Jabodetabek dan Bandung kehilangan sudah lebih dari Rp100 triliun," tuturnya.
SELAMA masa Angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 KCIC mencatat bahwa layanan Whoosh tidak hanya diminati oleh penumpang domestik, tetapi juga wisatawan mancanegara.
Tujuh gajah Asia liar tewas setelah tertabrak kereta ekspres di Assam, India.
PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) resmi membuka penjualan tiket kereta cepat Whoosh untuk periode libur akhir tahun.
Sejumlah pakar menilai pemerintah perlu segera mengambil langkah strategis untuk melakukan restrukturisasi utang kereta cepat yang selama ini membebani BUMN anggota konsorsium
KPK mengungkapkan modus yang terungkap ini sangat merugikan negara karena mengharuskan pemerintah membeli kembali tanah yang seharusnya sudah menjadi milik negara.
Ia menilai wajar jika penyidikan KPK menemukan potensi penyimpangan bukan hanya dalam pembiayaan APBN, tetapi juga dalam pengadaan lahan proyek.
Penjualan tiket Whoosh diprediksi akan terus bertambah dan diperkirakan dapat melampaui 23 ribu penumpang hingga malam nanti, seiring tingginya mobilitas saat libur Natal 2025.
lembaga negara didesak menindaklanjuti dugaan mark up proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung atau Whoosh yang sebelumnya diungkapkan oleh mantan Menko Polhukam Mahfud MD.
GENERAL Manager Corporate Secretary KCIC, Eva Chairunisa turut buka suara menjawab pernyataan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) soal proyek Whoosh.
KPK menegaskan tetap melanjutkan penyelidikan dugaan korupsi proyek kereta cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh meski Presiden Prabowo Subianto tanggung jawab utang Whoosh
Presiden Prabowo Subianto meminta publik tak perlu cemas dan khawatir mengenai permasalahan utang dari proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) Whoosh
MANTAN Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), M Praswad Nugraha, meminta penanganan kasus dugaan korupsi kereta cepat Jakarta-Bandung, Whoosh, transparan dan independen.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved