Headline
BANGSA ini punya pengalaman sejarah sangat pahit dan traumatis perihal kekerasan massal, kerusuhan sipil, dan pelanggaran hak asasi manusia
BANGSA ini punya pengalaman sejarah sangat pahit dan traumatis perihal kekerasan massal, kerusuhan sipil, dan pelanggaran hak asasi manusia
MANTAN Menteri Koordinator Maritim Rizal Ramli mengkritik banyaknya tenaga kerja asing (TKA) yang masuk ke Indonesia. Hal itu dinilai menjadi kekurangan pemerintah.
"Ini karena kelemahan pemerintahan Presiden Jokowi yang terlalu semangat untuk menarik investasi dari China ," kata Rizal dalam diskusi virtual Crosscheck Metrotvnews.com bertajuk '10 Tahun Hubungan Ekonomi Indonesia-China,' Minggu (30/7).
Rizal mengatakan Indonesia sudah menjalin hubungan investasi dan perdagangan dengan banyak negara. Namun hanya Tiongkok yang mengirim penduduknya dalam jumlah besar ke Indonesia untuk menjadi pekerja dan staf.
Baca juga: Indonesia Disebut Perlu Mencermati Teknik Pinjaman Utang Tiongkok
"Kita puluhan tahun dengan Jepang, Eropa, Amerika Serikat, paling mereka datang membawa 20 orang staf yang penting-penting doang," ujar dia.
Rizal menyebut banjirnya TKA berdampak pada sumber daya manusia di Indonesia. Tenaga terampil Indonesia menjadi tidak dapat kesempatan untuk mendapat pekerjaan.
Baca juga: Kerja Sama dengan Tiongkok Harus Menguntungkan Indonesia
Rizal membandingkan situasi serupa sempat terjadi saat Malaysia dipimpin itu Perdana Menteri Najib Razak. Namun situasi berubah di era Perdana Menteri Mahathir Mohamad.
"Mahathir negosiasi dengan (Presiden Tiongkok) Xi Jinping, maksimal lima persen tenaga kerja China dari total tenaga kerja yang boleh ke Malaysia," ujar dia.
Ketegasan lainnya, yakni kompleks perumahan di Johor hanya boleh dibeli rakyat Malaysia. Tenaga kerja Tiongkok tidak diperkenankan membeli perumahan.
"Jadi kita lihat pemimpin tangguh yang memperjuangkan hak-hak rakyatnya, tidak mau dibanjiri ratusan ribu bahkan jutaan tenaga kerja China," tutur Rizal.
Menurut Rizal, Jokowi seharusnya berani membatasi jumlah tenaga kerja dari Tiongkok. Supaya menguntungkan kedua belah pihak agar tidak ada konflik sosial dan pihak Tiongkok disambut dengan baik.
"Kita merdeka itu ingin menjadi negara yang punya kemandirian, kekuatan untuk melindungi, dan meningkatkan kesejahteraan. Bukan memberi pekerjaan ke negara lain," ucap dia. (Z-3)
Xi Jinping menekankan Tiongkok dan India perlu bersatu demi perdamaian dan kemakmuran di Asia dan di seluruh dunia.
Tiongkok dan Rusia terkadang menyebut Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) sebagai alternatif terhadap aliansi militer NATO.
Beberapa analis menilai perayaan besar pada 3 September mendatang tidak hanya bersifat simbolis.
Para militer juga dirancang untuk menunjukkan kemajuan signifikan militer Tiongkok dalam proses modernisasi dan peningkatan kemampuan tempur.
XI Jinping Undang 26 Pemimpin Dunia Hadiri Parade Militer Hari Kemenangan Tiongkok ke-80. Presiden Tiongkok Xi Jinping mengundang 26 pemimpin asing, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin
Tiongkok melakukan uji coba darat roket Long March-10 sebagai persiapan misi berawak ke Bulan sebelum 2030.
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved