Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
PANDEMI covid-19 meluluhlantakkan banyak sektor ekonomi, tidak terkecuali di bisnis event organizer (EO). Banyak pelaku bisnis EO berguguran lantaran acara sepi dan perizinan sulit. Namun nasib baik justru datang kepada Reza Nurfadilah dan Ardilla Gayatri (Dilla), pendiri Creativewarehouse. Saat covid-19 melanda, bisnis EO yang dikelola mereka melejit pesat dengan penyesuaian yang ada saat pandemi.
"Mungkin karena kami pemain baru yang muncul di tengah covid-19 sehingga ide dan konsep masih fresh dan beradaptasi dengan keadaan waktu itu," terang Reza dalam keterangan tertulis, Kamis (13/7). Cerita sepasang suami istri itu mendirikan Creatiwarehouse pada 2020 bermodal nekat.
Reza yang memiliki pengalaman lebih dari 10 tahun di dunia event didukung oleh Ardilla yang kawakan di dunia agensi periklanan menawarkan konsep EO yang berbeda. "Kami lebih menjual ide dan servis yang fleksibel sesuai dengan kebutuhan klien. Jadi kami tidak hanya berbicara mengenai awareness, experience, tetapi sampai ke poin sales yang tentu pasti dibutuhkan setiap klien. Dengan segmen klien menengah ke atas yang menginginkan servis taraf atas tetapi dengan bujet yang fleksibel."
Baca juga: PLN Gandeng ACWA Power dan Pupuk Indonesia Kembangkan Hidrogen Hijau
Dengan strategi tersebut, mereka mengaku bisa meraup omzet miliaran rupiah selama pandemi. Kunci keberhasilan Creativewarehose ialah fleksibilitas pada bujet. Setiap klien menginginkan ada event meski dalam skala kecil. Hanya waktu itu terbentur pada peraturan PSBB dan bujet karena bisnis sedang turun sehingga membuat pelaku EO lain memilih menutup usaha, karena tidak bisa menutupi biaya produksi.
Alhasil buat Reza dan Ardilla kondisi itu merupakan celah untuk menjalankan blue ocean strategy dengan cara menciptakan market baru yaitu one stop event organizer. Kini klien mereka berasal dari berbagai perusahaan antara lain Otsuka Group, Kalbe Group, Sinarmas Group, Pegadaian, Wings Group, dan berbagai kementerian serta BUMN.
Bagi Reza dan Dilla, bisnis merupakan dunia yang mereka geluti dari remaja. Berbagai bisnis mereka jajal, mulai dari menjual lampu di pinggir jalan dengan penghasilan Rp50 ribu per hari hingga usaha fotokopi, manajemen SPG/SPB/usher, F&B, sampai akhirnya terjun ke bidang agensi periklanan dan event organizer. Selama 10 tahun ini pasangan suami istri ini mengaku merasakan jatuh bangun, bahkan sempat rugi ratusan juta.
Baca juga: Keuntungan TCS India Dipengaruhi Barat sebagai Pasar Utama
Mendirikan usaha event organizer tanpa sokongan dana dari investor dan di tengah pandemi bukan hal mudah. Namun pasangan ini memiliki mimpi untuk membuka lapangan pekerjaan, terutama bagi teman-temannya. "Kami meyakini dengan niat baik, hasilnya pasti baik. Banyak teman-teman yang harus kehilangan pekerjaan ketika pandemi sehingga kami memutuskan untuk membantu mereka dengan modal yang ada. Hasilnya seperti yang dialami sekarang. Creativewarehouse berhasil bertahan dan tumbuh pesar dengan rata-rata omzet Rp500 juta-Rp750 juta per bulan dengan total lebih dari 10 klien," tandas Reza.
Ke depan, Creativewarehouse terus mengembangkan servisnya, sehingga tidak hanya memenuhi kebutuhan klien dari sisi offline event tetapi bisa mengombinasikan layanan mereka terintegrasi dengan online dan mengembangkan kreativitas sesuai dengan keinginan klien.
Di samping itu, Creativewarehouse berharap bisa membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas lagi. Karena dalam satu kali event, mereka bisa mempekerjakan 30-40 orang. Bayangkan jika setiap hari minimal ada satu event. ini bisa memperkerjakan ratusan orang per minggu. (Z-2)
Program Desaku Maju–GERCEP direncanakan berlangsung dalam 58 kelas di 38 desa.
Yayasan Indonesia Setara bekerja sama dengan Dinas Koperasi, Usaha Kecil, Menengah, dan Perindustrian Perdagangan (DKUKMPP) Kota Cirebon serta Refo menggelar workshop digital marketing.
Data Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2024 mencatat jumlah wirausaha Indonesia telah mencapai 3,47% dari total penduduk, naik dari 3,21% pada tahun sebelumnya.
Program Kartini Bluebird, wadah pemberdayaan bagi istri dan putri pengemudi Bluebird yang berdiri sejak 2014, terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat ekonomi keluarga
Salah satu Ketua Tim Pengabdian Masyarakat, Widayani Wahyuningtyas, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut mengusung tema 'Edukasi kewirausahaan sejak usia dini.
Gus Falah menegaskan, adalah keharusan bagi santri untuk menguasai berbagai bidang, mulai dari teknologi, sains, politik, hingga kewirausahaan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved