Rabu 02 November 2022, 19:47 WIB

Pertemuan G20 di Bali Harus Lahirkan Kesepakatan Ketersediaan Pangan

Mediaindonesia.com | Ekonomi
Pertemuan G20 di Bali Harus Lahirkan Kesepakatan Ketersediaan Pangan

Antara/Budi Candra Setya.
Petani memanen buah delima di perkebunan Kampung Merak, Situbondo, Jawa Timur, Senin (24/10/2022).

 

INDONESIA perlu meningkatkan fungsi kerja sama bilateral dengan negara-negara tetangga. Hal ini penting untuk menjaga ketersediaan pangan nasional di balik ancaman krisis pangan global.

Hal itu diungkapkan dosen Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Ronnie S Natawidjaja. Menurut Ronnie, pertemuan G20 di Bali pada 15-16 Nopember mendatang harus dapat melahirkan kesepakatan-kesepakatan strategis dalam menjaga ketersediaan pangan.

"Kesepakatan antarnegara harus dibuat untuk mengantisipasi krisis pangan ke depan. Fungsi kerja sama bilateral harus ditingkatkan lagi," kata Ronnie ketika dihubungi, Jumat (28/10).

Di sisi lain, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menekankan pentingnya kolaborasi global untuk mengatasi krisis pangan yang kini mengancam banyak negara di dunia. Kolaborasi memungkinkan memitigasi dan mengatasi triple krisis yakni krisis energi, pangan, dan keuangan.

Syahrul menjelaskan, sebagai bagian dari komunitas global, G20 berkomitmen mendukung peran krusial dari sektor pertanian dalam menyediakan pangan dan gizi bagi semua orang. Ini juga menjamin pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. 

Dalam berbagai kesempatan, Syahrul berulang kali menegaskan bahwa kunci mengatasi krisis pangan global ialah kebersamaan. "Tidak boleh ada negara yang terlewatkan dan tertinggal. Kolaborasi menjadi kunci untuk mengatasi tantangan saat ini dan di masa datang," tegas Syahrul.

Sistem barter

Ronnie menjelaskan, kerja sama bilateral itu bisa diwujudkan dalam sistem barter. Masing-masing negara memberikan yang terbaik dari miliknya. 

"Misal, Indonesia banyak produksi buah, lalu Australia banyak memproduksi gandum. Ini bisa saling tukar, barter. Jadi, stok (pangan) aman dan harga pun bisa dikontrol," jelas Ronnie.

Indonesia, kata dia, tak perlu memaksakan diri untuk menghasilkan komoditas tertentu yang memang tidak bisa diproduksi secara maksimal. Sebaliknya, Indonesia mesti meningkatkan potensi yang ada untuk kemudian dijadikan komoditas unggulan.

Ronnie mengambil contoh komoditas kedelai. Dikatakannya, faktor geografis, yaitu penyinaran matahari, membuat produksi kedelai nasional tidak mampu mengimbangi produksi kedelai dari Tiongkok.

"Kedelai kita itu wangi dan bulirnya besar tetapi butuh penyinaran yang lama. Penyinaran bisa dibantu oleh penggunaan lampu di green house, tetapi dijualnya mahal nanti. Sudah kita pakai kedelai dari Tiongkok, lalu kita kasih yang Tiongkok butuhkan yang ada di kita. Itu namanya memaksimalkan potensi kerja sama bilateral," ungkapnya.

Ronnie juga mencontohkan komoditas gandum yang bisa didapat dari Australia. Menyusul krisis yang terjadi antara Rusia dan Ukraina, pasokan gandum ke Indonesia menjadi terhambat. "Harganya pun naik 35% dan sepertinya akan naik lagi. Kita bisa minta Australia untuk support kebutuhan gandum kita," pungkasnya. (RO/OL-14)

Baca Juga

Ist

Bank Himbara Diminta Tingkatkan Penyaluran KUR Khusus Penyediaan Alsintan

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 27 November 2022, 15:15 WIB
Penerapan model pertanian padat modal melalui penggunaan teknologi akan menjadi solusi konkret bagi peningkatan produktivitas pertanian di...
Biro Pers Setpres

Kebijakan Jaring Pengaman Sosial Jokowi Dorong Pemulihan Ekonomi

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 27 November 2022, 13:30 WIB
Salah satu kebijakan Jokowi untuk mempercepat pemilihan ekonomi masyarakat bawah adalah dengan memberikan jaring pengaman...
dok.ist

Sandiaga Dorong Pelaku UMKM dan IKM Manfaatkan Teknologi di Ternate

👤Hijrah Ibrahim 🕔Minggu 27 November 2022, 12:45 WIB
Dalam kunjungannya ke kota yang terkenal kaya akan rempah-rempahnya itu, Sandiaga mendorong para pelaku UMKM dan IKM untuk lebih...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya