Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
Produk Buy Now Pay Later (BNPL) marak diperkenalkan oleh lembaga keuangan sebagai salah satu pembiayaan konsumen dalam beberapa tahun terakhir.
Dengan fasilitas BNPL, konsumen dapat membawa pulang produk dan membayarnya kemudian baik secara cicilan atau penuh. Umumnya fasilitas ini banyak ditemui dalam platform e-commerce yang ada saat ini.
Pefindo Credit Bureau (IdScore) mencoba memotret performa yang ada dalam bisnis BNPL ini. Dari data yang ada ternyata saat ini pemain besar BNPL adalah bank umum konvensional dan multifinance.
Per Juli 2022, tercatat outstanding dari BNPL mencapai Rp3,1 triliun mengalami kenaikan dari bulan sebelumnya sekitar Rp2,9 triliun.
Adapun total debitur yang memanfaatkan layanan ini mencapai 9,4 juta.
Namun ada demikian, ada yang perlu diwaspadai oleh para pengelola bisnis BNPL ini yaitu angka kredit macetnya atau non performing loan (NPL).
"Kalau dilihat, NPL dari BNPL cukup tinggi di kisaran 6%," kata Presiden Direktur IdScore Yohanes Arts Abimanyu dalam temu media, Kamis (29/9).
Multifinance memiliki NPL yang lebih tinggi ketimbang perbankan. Saat ini total kredit yang berkategori I atau lancar mencapai 83,3% dari total pinjaman atau sekitar Rp2,6 triliun.
Abimanyu menegaskan bahwa para pengelola BNPL harus mampu mengelola risiko yang dihadapinya dalam memberikan kredit.
IdScore, lanjutnya, memiliki produk yang bisa dipergunakan oleh pengelola BNPL untuk menilai kelayakan debitur memperoleh fasilitas melalui sistem scoring yang dikembangkan IdScore.
Saat ini IdScore mengolah data dari 92 juta debitur dengan 20 jenis data. Adapun lembaga yang telah memanfaatkan jasa IdScore mencapai 359 lembaga, termasuk koperasi dan non lembaga keuangan.
Kembali pada BNPL, dari data yang ada terlihat bahwa perempuan mendominasi pinjaman jenis ini sebesar 67,2% dan umumnya mengakses melalui e-commerce. Adapun dari sisi usia, sebaran usia 20-30 tahun mendominasi 53,62% diikuti usia 30-40 tahun sebesar 25,31%.
"Yang pasti diingat debitur adalah kalau memperoleh pinjaman adalah harus membayar. Sebab bila tidak, itu akan menutup akses dia kepada layanan kredit lainnya," tandas Abimanyu. (E-1)
Per Desember 2025, kredit perbankan tumbuh sebesar 9,63% secara tahunan (yoy) ditopang penyaluran kredit investasi yang tinggi.
Kebutuhan masyarakat terhadap akses kredit digital yang cepat, mudah, dan terjangkau terus meningkat, terutama di luar kota-kota besar.
Keterbatasan akses pembiayaan masih menjadi persoalan besar bagi pelaku usaha di Indonesia, khususnya UMKM dan generasi muda.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, daya beli masyarakat kelas menengah masih membutuhkan dukungan kebijakan.
Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Hery Gunardi mengungkapkan fasilitas pinjaman perbankan yang belum ditarik atau undisbursed loan masih cukup tinggi.
Ia menegaskan Bank Jakarta menyambut peluang penempatan dana berikutnya dari pemerintah pusat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved