Kamis 22 September 2022, 07:40 WIB

Kantongi Cuan dari Tas Cantik

Fathurrozak | Ekonomi
Kantongi Cuan dari Tas Cantik

Dok. FLICKA BAGS
Produk andalan Flicka Bags.

 

DI depan layar ponsel yang tersemat di sebuah lampu bundar, seorang perempuan begitu sibuk bergonta-ganti mengenakan tas. Mulai dari yang bisa disematkan di bahu hingga yang ditenteng. Satu perempuan lagi juga tak kalah repot. Ia harus meladeni beberapa perempuan yang datang mengerubungi toko dadakan Flicka.

Siang itu, akhir Agustus di Gedung Smesco, Jakarta Selatan, merek tas asal Sidoarjo, Jawa Timur, Flicka, tengah mengikuti pertemuan UMKM Grab Indonesia. Stan mereka menjadi salah satu yang cukup ramai dikunjungi. Utamanya oleh para perempuan. Tas-tas yang berjejer di atas meja, satu per satu diambil oleh para pelanggan yang datang. Seakan tidak ingin kehilangan momen, ketika itu Flicka juga sekaligus membuka toko daringnya dengan cara berjualan secara live di Tiktok.

Salah satu yang menjadi daya tarik merek tas tersebut ialah harganya yang murah, tetapi secara desain memiliki kesan premium. Hampir kebanyakan, produk tas dari Flicka dibanderol dengan harga di bawah Rp100 ribu.

“Modelnya simpel, dan yang kami siasati, dengan harga yang kami tawarkan, sebenarnya di bahan dan desainnya. Kalau modelnya simpel itu boleh dibilang ya secara ongkos bisa ditekan,” kata Co-founder dan COO Flicka, Agung Raharja, saat dihubungi Media Indonesia lewat konferensi video, Sabtu (17/9).

 

Manfaatkan Influencer

Pasar Flicka sejak awal memang terbentuk dari media sosial. Lahir pada 2014, Flicka ketika itu sebenarnya menjadi salah satu cara bagi Putri Rizka dan Agung Raharja untuk menambah uang saku kuliah. Di samping, Putri juga merupakan penggemar tas.

Namun, sebagai penggemar tas, juga posisinya sebagai anak kuliahan, Putri susah untuk menemukan tas cantik dengan harga terjangkau. Ia pun kemudian terdorong untuk memulai bisnis bersama pacarnya saat itu, Agung, yang kini menjadi suaminya.

“Ketika itu saya terpikir, kayaknya sih bisa bikin tas lucu dan bagus, tapi harga masih bisa dijangkau sama anak kuliahan deh. Melihat juga di daerah suami saya, di Sidoarjo, memang banyak perajin tas,” kenang Putri.

Bermodalkan pinjaman Rp5 juta dari orangtua, mereka pun memulai jalan bisnis tersebut. Saat awal, produksi masih sebatas satu hingga dua lusin tas. Sisa modal, setelah dialokasikan untuk produksi dan pengemasan, mereka gunakan untuk promosi. Ketika itu, Instagram menjadi jalur mereka menawarkan produk tas Flicka.

Karena saat itu iklan di media sosial belum begitu jamak dilakukan, metode yang ditempuh ialah dengan cara beriklan konvensional di media sosial. Endorsement ke beberapa pemengaruh (influencer).

“Di tahun-tahun itu, memang influencer belum begitu banyak. Brand di toko daring juga masih beberapa. Ketika kami menggunakan endorsement, ya sangat berimpak sekali ke penjualan. Orang tuh pengen langsung beli apa yang dipakai sama influencer yang ngiklanin produk kami. Mungkin sekitar sepekan influencer posting, produk kami langsung ludes,” jelas Putri.

“Saat itu bahkan salah satu influencer ngetop sekarang rate-nya masih Rp250 ribu. Ya bujet endorsement itu enggak sampai Rp500 ribu lah per satu influencer,” tambah Agung.

 

Perbanyak konten

Dua tahun berselang, skala bisnis Flicka pun berkembang. Mereka mulai merekrut karyawan produksi, seperti menambah penjahit dan tim kontrol kualitas. Dari yang semula skala produksinya cuma paling mentok sampai dua lusin dan model terbatas, pada 2016 mereka sudah mampu memproduksi hingga 480-an item.

Pada tahun tersebut, lahirnya berbagai lokapasar digital juga turut menjadi pintu tambahan bagi penjualan Flicka. Menurut Putri, lokapasar digital punya berbagai instrumen penawaran yang menarik, baik bagi pelaku UMKM maupun konsumennya, seperti tawaran gratis ongkos kirim maupun kupon-kupon diskon.

“Ya setelah 2016 itu kan selain masuk ke lokapasar digital, dan Instagram juga sudah berkembang, banyak banget caranya. Tentu pakai iklan, dan yang utama sih bagi kami itu memperbanyak konten yang punya kedekatan dengan kehidupan sehari-hari orang-orang karena itu akan menjangkau lebih banyak audiens. Jadi strategi digitalnya kami variasikan konten. Kalau sekarang mungkin seperti banyakin video dan reels, serta konten soft selling,” terang Putri yang menjabat CEO Flicka.

Saat ini, Instagram Flicka, @flickabags, diikuti 674 ribu pengikut, dengan interaksi konten-kontennya yang sangat tinggi. Seperti beberapa video reels-nya yang ditonton dari 29 ribuan hingga 249 ribu orang. Adapun Tiktok mereka, kini diikuti 169 ribu pengikut dengan jumlah suka 3,2 juta.

Untuk menyiasati perkembangan platform digital terkini, Flicka pun merekrut tim kreatif sejak 2020. Hal itu dilakukan agar mereka bisa terus bertumbuh. Biasanya produksi konten masih ditangani Putri dan Agung. “Untuk bujet di digital, biasanya kami alokasikan 5% dari omzet,” kata Putri.

Saat ini, Agung mengatakan, dengan skala produksi yang sudah mencapai ribuan item per bulannya, omzet Flicka pun sudah mencapai ratusan juta per bulannya. Menurut Agung, salah satu kunci keberhasilan mereka ialah karena saat itu Flicka bisa hadir sebagai produk tas yang menyasar pasar anak muda, pada saat di tempatnya, Sidoarjo, banyak produsen tas masih berfokus ke pasar perempuan dewasa paruh baya.

 

Dijiplak

Salah satu dampak yang secara konkret dirasakan Flicka dengan mengandalkan berbagai instrumen digital, mereka kini bisa menjangkau pasar yang lebih luas, bukan terbatas di Jawa Timur.

“Biasanya kan kami ikut pop up store itu cuma di seputar Jawa Timur. Nah, beberapa waktu kemarin, Flicka sempat ikut di salah satu acara di Jakarta. Ternyata antusiasmenya membeludak sekali. Bahkan ada yang datang ke booth kami itu mereka sudah pakai tas Flicka, dan datang ya untuk beli lagi. Jadi bisa dibilang ini terjadi karena beberapa tahun belakang kami sudah main di online.”

Para pembeli produk Flicka pun banyak yang berasal dari kota di luar Jawa Timur, seperti Jabodetabek dan Bandung. Selain itu, mereka juga memiliki beberapa stockist di beberapa kota di luar Jawa Timur, di samping toko resmi mereka di Sidoarjo dan Surabaya.

Meski diakui Putri ekosistem ekonomi digital punya impak yang begitu besar bagi Flicka, masih ada hal yang menjadi tantangan. Sebagai produk fesyen, khususnya tas, ia kerap menemukan foto-foto produk mereka dicuri oleh merek lain yang ada di lokapasar digital.

“Banyak banget foto kami dipakai, dicuri. Jadi ambil fotonya dan dijiplak tasnya. Kami pernah menghubungi secara baik-baik dari yang kami temukan, tapi merekanya malah lebih jahat. Cara kami agar konsumen tidak tertipu dengan hal-hal tersebut, ya kami terus sosialisasikan akun-akun resmi lokapasar digital kami saja, dan mempromosikan stockist kami itu ada di mana saja.” (M-4)

Baca Juga

Dok. Pribadi

Anggota DPR Tegaskan Penggunaan Kompor Listrik Masih Tahap Sosialisasi

👤Thomas Harming Suwarta 🕔Sabtu 24 September 2022, 23:35 WIB
“Uji coba ini untuk mengetahui, seberapa efektif penggunaan kompor listrik ini dibandingkan elpiji. Lebih bisa menekan impor gas,...
Dok.hanabank.co.id

Pinjamlah Di TempatĀ  Yang Benar

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 24 September 2022, 22:16 WIB
OJK telah menghentikan kegiatan 5.468 pinjol dan investasi ilegal. Tapi itupun masih banyak juga masyarakat yang terkena pinjol...
DOK/DHL

DHL Sesuaikan Tarif Layanan Ekspres naik 7,9%

👤Bayu Anggoro 🕔Sabtu 24 September 2022, 21:40 WIB
Dengan penyesuaian harga tahunan memungkinkan perusahaan untuk dapat berinvestasi pada infrastruktur dan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya