Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
GELIAT pertumbuhan ekonomi di semester II tahun ini diprediksi tidak akan sebaik capaian semester sebelumnya. Salah satu faktor yang diperkirakan mendorong hal itu ialah kebijakan penaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia.
Demikian dikatakan Periset dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet saat dihubungi, Selasa (23/8). "Proyeksi perekonomian terutama di semester kedua saya kira tidak akan sebaik pencapaian di semester pertama," ujarnya saat dihubungi, Selasa (23/8).
Penaikan suku bunga acuan BI, lanjut dia, akan banyak mempengaruhi suku bunga kredit perbankan untuk ikut meninggi. Itu karena komponen ongkos pembiayaan perbankan juga meningkat akibat naiknya level suku bunga acuan.
Kondisi tersebut menurutnya juga akan sedikit berimbas pada tingkat konsumsi masyarakat. Sebab, beban yang akan ditanggung masyarakat akan lebih tinggi tatkala suku bunga kredit perbankan mengalami kenaikan.
Namun, keputusan BI menaikkan suku bunga acuan juga dapat dipahami sebagai bentuk antisipasi lonjakan inflasi beberapa bulan ke depan. Tingginya harga energi, pangan, serta upaya menjaga stabilisasi nilai tukar rupiah menjadi alasan yang dapat diterima.
"Kita tahu komponen utama seperti konsumsi rumah tangga kinerjanya akan juga tergantung dari seberapa tinggi inflasi. Jadi saya kira kita perlu menunggu seberapa ampuh kebijakan moneter dan juga kebijakan sektor riil untuk menahan lagi inflasi, karena semakin tinggi laju inflasi, potensi pertumbuhan konsumsi rumah tangga tentu berpeluang akan tumbuh di bawah level potensialnya," jelas Yusuf.
Menurut dia, penaikan tingkat suku bunga acuan ke level 3,75% didorong oleh prospek perekonomian beberapa bulan ke yang depan diperkirakan akan cukup menantang, utamanya dari sisi inflasi.
Baca juga: BI Pastikan Likuiditas Perbankan dan Perekonomian Tetap Longgar
Perkiraan kenaikan inflasi tersebut didasari oleh potensi penaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang diwacanakan oleh pemerintah dalam beberapa waktu terakhir. Naiknya harga bensin, kata Yusuf, akan membawa tingkat inflasi di Tanah Air lebih tinggi.
"Jadi ekspektasi inflasi yang berpeluang meninggi di beberapa bulan ke depan ini kemudian menjadi salah satu dasar bagi Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin," jelas Yusuf.
Ke depan, lanjut dia, kebijakan suku bunga BI akan terus mengikuti perkembangan inflasi domestik. Dus, jika inflasi melonjak tinggi, maka kemungkinan besar bank sentral akan kembali menaikan suku bunga acuannya.
Dengan asumsi penaikan harga BBM yang mengerek laju inflasi hingga akhir tahun, BI diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan hingga 25-50 basis poin lagi.
"Saya kira ini juga akan dipengaruhi seberapa jauh pemulihan ekonomi akan terjadi. Karena sebelumnya kita melihat stance kebijakan bank Indonesia menjadi salah satu pihak yang membantu proses pemulihan ekonomi di luar kebijakan fiskal tentunya," kata Yusuf.
Diketahui sebelumnya, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22-23 Agustus 2022 memutuskan untuk menaikkan BI7DRR sebesar 25 bps menjadi 3,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 3,00%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 4,50%. (OL-4)
Ingin tukar uang baru untuk Lebaran 2026? Simak panduan lengkap cara daftar di PINTAR BI, jadwal resmi, hingga syarat penukaran paket Rp5,3 juta. Cek linknya di sini!
Nilai tukar rupiah ditutup melemah 42 poin ke Rp16.828 per dolar AS. Penguatan dolar dan naiknya probabilitas The Fed menahan suku bunga pada Maret 2026 menekan pergerakan rupiah.
BANK Indonesia (BI) mencatat lebih dari 36 persen volume transaksi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) secara nasional berasal dari DKI Jakarta.
Meskipun sejumlah daerah terdampak bencana hidrometeorologi, stok bahan pangan pokok di Sumbar dalam kondisi aman dan mencukupi untuk beberapa bulan ke depan.
LEMBAGA pemeringkat Moody's mempertahankan sovereign credit rating Republik Indonesia pada Baa2 dan melakukan penyesuaian outlook menjadi negatif pada 5 Februari 2026.
BI ingin menjamin masyarakat agar saat menjalani ibadah keagamaan tersebut harga-harga pangan terjangkau dan tersedia.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap butir nasi yang dikonsumsi jemaah haji memiliki kualitas terbaik dan cita rasa nusantara."
Pola belanja rumah tangga di Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan pergeseran penting: konsumsi semakin merata antarwilayah.
Gaya hidup anak muda dalam mengonsumsi komoditas harian seperti kopi, teh, cokelat, dan produk kelapa sawit memiliki dampak signifikan terhadap keberlanjutan lingkungan dan sosial.
Direktur Ekonomi Celios, Nailul Huda, menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi di kuartal IV 2025 tidak akan mencapai seperti yang ditargetkan pemerintah yakni di angka 5,4-5,6%.
Data Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan volume sampah nasional mencapai 70,6 juta ton pada 2024. Angka ini berpotensi membengkak menjadi 82 juta ton per tahun pada 2045.
MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan tambahan penempatan dana pemerintah di bank Himbara cukup menjaga likuiditas dan transmisi kredit yang optimal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved