Minggu 08 Mei 2022, 21:00 WIB

Pelonggaran Pembatasan, PDB RI Kuartal I-2022 Diperkirakan Tumbuh 4,8%-5,0%

Fetry Wuryasti | Ekonomi
Pelonggaran Pembatasan, PDB RI Kuartal I-2022 Diperkirakan Tumbuh 4,8%-5,0%

Antara/Muhamamd Adimaja
Suasana gedung bertingkat di Jakarta

 

EKONOM Ryan Kiryanto memperkirakan pertumbuhan ekonomi atau produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal I-2022 berpeluang tumbuh pada kisaran 4,8%-5,1% secara tahunan (yoy). Pelonggaran kebijakan pembatasan sosial yang menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan.

Pelonggaran kebijakan pembatasan sosial, sebagai dampak program vaksinasi masif yang mencapai 75% dari target populasi penduduk yang harus divaksin. Sehingga ini membuat Indonesia mendekati level herd immunity (kekebalan kelompok) sesuai kriteria Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan bersiap diri menuju fase endemi.

"Pelonggaran kebijakan pembatasan tersebut telah mendorong mobilitas orang dan barang secara masif," kata Ryan, Minggu (8/5).

Dibukanya berbagai jalur dan moda transportasi semakin meningkatkan permintaan masyarakat terhadap berbagai jenis barang dan jasa. Meski sempat dibayangi oleh penyebaran varian Covid-19 Omikron pada awal 2022, kesigapan pemerintah telah mampu mengatasi efek negatif lebih lanjut dari sebaran Omikron tersebut.

Sistem dan manajemen kesehatan nasional juga semakin baik, membuat kepercayaan diri masyarakat semakin meningkat untuk melakukan berbagai kegiatan ekonomi dan sosial.

Persentase pola kerja di kantor (work from office/WFO) telah ditingkatkan dan pola kerja di rumah (work from home/WFH) diturunkan. Semua itu pada gilirannya mampu mendongkrak sisi permintaan masyarakat secara signifikan.

"Itulah yang mendasari pertumbuhan PDB Indonesia di kuartal pertama tahun ini berkisar 4,8-5,1% yoy," kata Ryan.

Pola yang sama juga akan diperkirakan terjadi di kuartal II-2022. Terlebih adanya kebijakan cuti bersama dan aktivitas selama Ramadan disertai fenomena mudik lebaran, telah mendorong permintaan masyarakat melonjak signifikan dibandingkan periode yang sama dalam dua tahun terakhir.

Permintaan dadakan (pent-up demands) pun terdorong meningkat tajam setelah dua tahun lebih hasrat konsumsi masyarakat tertahan karena pandemi.

Baca juga : Libur Tetap Produktif, Panen Padi dan Tanam Kedelai di Kulon Progo

Disposal income masyarakat yang tinggi mendorong perilaku konsumtif ketika masyarakat percaya diri untuk keluar rumah dan melakukan berbagai aktivitas, termasuk aktivitas konsumsi.

Pada periode kuartal I-2022 juga kegiatan di sisi pemerintahan juga berjalan relatif normal, yang memacu konsumsi pemerintah meningkat.

Kegiatan investasi langsung oleh pelaku usaha juga meningkat, baik penanaman modal asing (PMA) maupun penanaman modal dalam negeri (PMDN). Para investor tetap yakin bahwa prospek ekonomi Indonesia kedepannya akan bagus karena ditopang oleh manajemen fiskal, moneter dan sektor keuangan yang solid dan kolaboratif.

Kegiatan ekspor dan impor pun masih berjalan baik kendati dihadapkan pada ketegangan politik terkait agresi militer Rusia ke Ukraina sejak 14 Februari lalu.

Mobilitas arus barang dan jasa akan sedikit terganggu karena disrupsi berbagai moda transportasi laut dan udara setelah Amerika Serikat dan sekutu Barat-nya memberlakukan sanksi ekonomi kepada Rusia. Dalam hal ini Indonesia tetap mampu memupuk surplus neraca perdagangan selama lebih dari setahun terakhir.

Kegiatan ekspor komoditas tetap berjalan normal di tengah kenaikan harga di pasar dunia lantaran permintaan eksternal yang juga tetap solid mendukung kinerja ekspor.

Pada saat yang sama, aktivitas impor berjalan normal seiring dengan meningkatnya permintaan domestik baik berupa barang modal maupun bahan baku dan barang setengah jadi untuk mendukung manufaktur.

Purchasing Manager Index (PMI) pun berada di zona ekspansi, tepatnya di atas level 50. Indeks tendensi bisnis juga meningkat disertai kenaikan indeks kepercayaan konsumen ritel dan indeks penjualan ritel.

"Untuk keseluruhan tahun 2022, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap akan positif pada rentang 4,75-5,05% meskipun dibayang-bayangi potensi kenaikan inflasi dan suku bunga acuan yang tetap terukur dan akomodatif untuk bisa menopang perekonomian nasional," tutup Ryan. (OL-7)

Baca Juga

Ist

Inilah Strategi PT Sarana Abadi Raya Hadapi Kompetisi Industri Konstruksi 

👤Media Indonesia 🕔Rabu 04 Oktober 2023, 00:20 WIB
Salah satu perusahaan yang telah berhasil mengatasi tantangan ini adalah PT Sarana Abadi Raya, yang kini menjadi panutan dalam industri...
Antara

Kereta Cepat Baru Bisa Balik Modal 70 Tahun Mendatang

👤Insi Nantika Jelita 🕔Selasa 03 Oktober 2023, 22:48 WIB
Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh baru bisa balik modal hingga 70 tahun lamanya sejak...
Dok. Behaestex

Rayakan Hari Batik Nasional, Behaestex Hadirkan Produk Sarung Batik

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Selasa 03 Oktober 2023, 22:10 WIB
Dari brand BHS, yang terbaru menghadirkan produk kolaborasi proses pembuatan ATBM dengan batik yang pembuatannya dominan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya