Jumat 25 Maret 2022, 10:53 WIB

Loyalitas dan Etos Kerja Karyawan Penting Bagi Perusahaan

Cahya Mulyana | Ekonomi
Loyalitas dan Etos Kerja Karyawan Penting Bagi Perusahaan

theconversation.com
Ilustrasi.

 

Country Managing Director EngageRocket Indonesia Audi Lumbantoruan mengatakan karyawan merupakan aset dan sama pentingnya dengan target perusahaan. Pegawai yang unggul serta memiliki etos kerja yang tinggi merupakan roh bagi perusahaan.

Namun, kata dia, banyak perusahaan yang belum menyadarinya. Akibatnya karyawan mudah untuk keluar untuk berpindah ke perusahaan lain. "Mindset karyawan Indonesia tidak seekstrim karyawan Amerika Serikat. Di Indonesia, karyawan cenderung akan mencari pekerjaan baru terlebih dahulu sebelum mengajukan resign. Apalagi ditambah adanya peraturan terkait  yang hingga saat ini masih direvisi ulang," paparnya, Jumat, (25/3).

Kedua hal inilah yang dapat menyebabkan rendahnya dampak dari The Great
Resignation di Indonesia. Bahkan menurut Audi, Indonesia justru akan mengalami
the great attraction, atau perekrutan besar-besaran.

Ia mengatakan perusahaan harus bersiap-siap menghadapi siklus perpindahan karyawan yang biasanya terjadi usai lebaran. Perusahaan tidak boleh kecolongan dengan aset mereka berpindah ke perusahaan lain. "Jadi komunikasi antara human resources (HR) dengan para pegawai. Perusahaan harus mendengarkan aspirasi dan keinginan mereka serta memacu loyalitas dan etos kerja. Itu dapat mencegah perusahaan kehilangan pegawainya," ujarnya.

Setiap tahun, Lebaran menjadi salah satu penyebab gangguan produktivitas tenaga kerja di Indonesia. Namun, Lebaran tidak dapat dipisahkan dari employee experience secara keseluruhan.

Menilik data Amerika Serikat, kata dia, musim liburan dan hari raya terbukti memengaruhi produktivitas karyawan. Sebanyak 32% karyawan kesulitan berfokus pada tanggung jawab pekerjaan menjelang liburan. Sementara itu, 23% mencemaskan
beban kerja yang menumpuk ketika harus kembali bekerja selepas liburan.

Prinsip yang sama juga berlaku di Indonesia. Di situasi normal, lebih dari 33 juta pekerja meninggalkan kota-kota besar untuk merayakan Idul Fitri bersama keluarga di kampung halaman. Bahkan, meski pemerintah menetapkan larangan mudik, nyatanya sebanyak di tahun 2021. Bila pemerintah berhasil menekan angka penyebaran COVID-19 hingga bulan April 2022, Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) memprediksi situasi kali ini akan menjadi lebih longgar dibanding dua tahun sebelumnya.

"Lebaran sendiri sering menjadi momen pengunduran diri banyak karyawan sekaligus. Rencana resign setelah menerima Tunjangan Hari Raya (THR) sudah menjadi rahasia umum di antara para pekerja. Terlebih lagi karena peraturan pemerintah yang bagi karyawan tetap maupun freelance yang telah bekerja terus menerus selama lebih dari 30 hari, menunggu THR cair adalah tindakan bijak bagi karyawan yang memang sudah tidak kerasan di perusahaannya," urainya.

Gangguan produktivitas dan tren pengunduran diri sudah menjadi hal yang tak dapat dihindari dari tahun ke tahun. Meski begitu, dampak atrisi karyawan dari tren ini dapat ditekan dengan berbagai pencegahan dan persiapan dari perusahaan.

Keputusan untuk mencari penghidupan yang lebih layak, kata dia, merupakan salah satu alasan perpindahan karyawan. Tapi kenyamanan dan jaminan mendapatkan upah layak juga turut andil. "Ingat bahwa mencari pegawai baru ongkosnya 15% lebih tinggi daripada memberikan tambahan penghasilan," katanya.

Ia mengatakan perusahaan yang baik mampu menjadikan karyawannya sebagai bagian dari usaha mencapai target, visi dan misi perusahaan.

Menurut Audi, perusahaan secara berkala perlu menggelar survei terhadap karyawannya. Nantinya akan diperoleh sejumlah data yang dapat ditindaklanjuti untuk membuat kebijakan.

Termasuk pula untuk menentukan langkah pencegahan karyawan mengundurkan diri, memacu loyalitas dan mendorong etos kerja. "Dampak dari semuanya akan terlihat dari pembukaan akhir tahun. Ketika pekerja merasa diperhatikan akan berbanding lurus dengan peningkatkan keuntungan dan sebaliknya," tuturnya.

Audi mengatakan untuk mencegah atau menekan risiko terjadinya resign besar-besaran pasca Lebaran, perusahaan perlu mengambil tindakan nyata sepanjang tahun agar level keterlibatan karyawan tetap stabil. Penting diingat bahwa meskipun tingkat atrisi cukup tinggi di momen hari raya, tetapi hal ini terjadi karena berbagai hal yang dialami karyawan sepanjang tahun.

"Berfokus pada engagement di momen hari raya saja tidaklah cukup, namun perlu diimbangi dengan berbagai pendekatan yang mengutamakan employee experience secara terus-menerus," pungkasnya. (RO/OL-12)

Baca Juga

dok.Ist

Workshop Scalling UP, SMKPPN Tempa Calon Wirausaha Muda Pertanian

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 03 Februari 2023, 23:01 WIB
BADAN Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan bersama Internasional Fund for Agricultural Development (IFAD) gencar...
DOK pribadi.

Akselerasi Pebisnis Kuliner Bandung, ESB Hadir di BIFHEX 2023

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 03 Februari 2023, 21:08 WIB
ESB menghadirkan teknologi software yang terintegrasi khusus untuk operasional bisnis kuliner F&B, baik restoran, cloud kitchen, warung...
Dok MI

Industri Layanan Pernikahan Berpotensi Menjadi Panggung Bisnis

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 03 Februari 2023, 21:01 WIB
Industri pernikahan berpotensi menjadi panggung bisnis, mengingat tingginya angka pernikahan di...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya