Senin 27 Desember 2021, 22:05 WIB

Anggota DPR Minta OJK dan BI Periksa Kemungkinan Adanya Kejahatan Perbankan

Mediaindonesia.com | Ekonomi
Anggota DPR Minta OJK dan BI Periksa Kemungkinan Adanya Kejahatan Perbankan

DPR RI
Anggota DPR RI Firman Soebagyo.

 

ANGGOTA DPR RI, Firman Soebagyo,  meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia untuk memeriksa kemungkinan adanya kejahatan perbankan dalam kasus salah transfer terbesar di Indonesia oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, dengan nilai fantastis mencapai GBP1.714.842 (Rp32,5 miliar).

Pada Selasa, 21 Desember 2021 lalu, nasabah prioritas BRI bernama Indah Harini, melalui kuasa hukumnya, mengumumkan menggugat bank BUMN tersebut sebesar Rp 1 triliun atas kerugian materiil dan immateriil akibat kasus salah transfer yang menyebabkan dirinya dikriminalisasi menggunakan UU No 3 Tahun 2001 Tentang Transfer Dana. 

Baca juga: TPMA Realisasikan Pengadaan Pengangkutan Nikel

Kasus ini menyedot perhatian publik lantaran besarnya nilai transfer oleh BRI, yang disebut sebagai salah transfer dengan keterangan Invalid Kredit Account Currency dan lamanya waktu sebelum pihak bank mempermasalahkan dana fantastis yang telah ditransfernya, yakni memakan waktu sekitar 11 bulan.

“Sebaiknya direksi hingga komisaris perlu diminta keterangan terkait salah transfer. Pasalnya dengan akumulasi nilai yang fantastis hingga mencapai Rp 30 miliar patut diduga ada unsur kesengajaan, kejahatan  atau unsur lain yang harus diteliti yang sangat merugikan nasabah,” kata Firman Subagyo di Jakarta, Minggu 26 Desember 2021.

Firman mengatakan adalah hal yang tidak logis BRI baru mempermasalahkan dana yang ditransfer ke nasabah prioritasnya tersebut setelah 11 bulan. 

Menurut keterangan resmi kuasa hukum Indah, sejak 1 Desember 2019 sampai sebelum 6 Oktober 2020, BRI tidak pernah mempermasalahkan transfer dana tersebut. 

Namun pada 6 Oktober 2020, seorang account officer BRI, yang biasa melayani Indah sebagai nasabah prioritas, menelepon dan memberi tahu bahwa telah terjadi kekeliruan dalam transaksi tabungan valas miliknya, dengan angka fantastis sebesar GBP 1,714,842.00 yang diterima Indah pada kurun waktu 25 November 2019 sampai 15 Desember 2019.

Mengomentari hal tersebut, Firman menggaris bawahi beberapa kejanggalan, diantaranya, jika transaksi tersebut terjadi pada Desember 2019, maka ketika tutup buku di tahun yang sama, kesalahan tersebut seharusnya sudah terdeteksi dan dapat dikoreksi. 

“Ada yang janggal. Regulator sebaiknya tidak mendiamkan kasus seperti ini. Khawatirnya bisa menjadi preseden buruk bagi industri perbankan, khususnya bagi bank pelat merah,” kata Firman, seraya menambahkan jangan sampai ada kesengajaan yang merugikan nasabah perbankan.

”Motif ini yang harus ditelusuri agar nasabah tidak terus meneruskan di PHP-kan dan dikecewakan dengan layanan yang tidak profesional,” kata Firman Subagyo. (RO/OL-6)

Baca Juga

Antara/Irwansyah Putra.

Saudi Pengekspor Kurma Terbesar Sedunia pada 2021

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 28 Mei 2022, 20:52 WIB
Jumlah pohon palem mencapai 33 juta. Ini mewakili 27% dari total jumlah pohon palem di...
Dok Kementerian Koperasi dan UKM.

Kolaborasi Kunci Keberhasilan Transformasi Digital UMKM

👤Widhoroso 🕔Sabtu 28 Mei 2022, 19:15 WIB
MENTERI Koperasi dan UKM Teten Masduki menyatakan kolaborasi antarpemangku kepentingan menjadi kunci keberhasilan transformasi digital...
dok.KNPI

DPP KNPI: Kinerja Pembantu Jokowi Bidang Perekonomian Perlu Perbaikan

👤Selamat Saragih 🕔Sabtu 28 Mei 2022, 17:50 WIB
KINERJA pemerintahan bidang perekonomian mendapat sorotan publik karena kinerja yang buruk. Karena itu, Jokowi harus mengambil langkah...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya