Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
PT Pupuk Indonesia memutuskan melakukan penyeragaman produk retail urea dan NPK demi mewujudkan efisiensi. Sebelumnya, ada sekitar 100 varian merk pupuk nonsubsidi yang diproduksi dan dipasarkan lima perusahaan di bawah bendera Pupuk Indonesia Grup.
Dengan terobosan kebijakan terbaru ini, perseroan hanya akan memiliki dua produk yakni Urea Nitrea dan NPK Phonska Plus 16-16-16.
Direktur Utama Pupuk Indonesia Bakir Pasaman mengungkapkan, dengan mengandalkan dua brand utama, upaya pengembangan produk akan lebih terkonsentrasi. Selain itu, biaya promosi juga dapat ditekan karena fokus semakin mengerucut. "Selain membuat biaya produksi lebih efisien, strategi penyeragaman diharapkan membuat produk kita semakin berkualitas dan berdaya saing tinggi," ujar Bakir melalui keterangan resmi, Senin (27/12).
Yang tidak kalah penting, sambungnya, single branding akan memperkuat loyalitas konsumen terhadap produk perseroan.
Para petani sebagai pengguna akan semakin yakin pada satu produk yang dihasilkan. "Mereka tidak akan lagi kesulitan memilih atau mengidentifikasi produk yang saat ini diproduksi oleh lima anak perusahaan. Ini juga bagian dari program transformasi bisnis Pupuk Indonesia yang berkomitmen untuk lebih fokus pada pelanggan," tuturnya.
Urea Nitrea adalah produk urea retail non subsidi dengan kandungan nitrogen 46%. Manfaat utamanya adalah memasok unsur nitrogen yang sangat dibutuhkan tanaman terutama dalam pembentukan hijau daun. Adapun, NPK Phonska Plus 16-16-16 adalah pupuk dengan kandungan Nitrogen, Phospor dan Kalium. Jenis tersebut sangat dibutuhkan untuk merangsang pertumbuhan buah, serta memperkuat batang dan akar.
Dalam kesempatan yang sama, Komisaris Utama Pupuk Indonesia Darmin Nasution mengatakan, selain membawa dampak positif, penyeragaman produk juga menimbulkan risiko yang cukup besar.
Bila perseroan tidak serius dalam upaya pengembangan, atau terjadi kesalahan dalam proses produksi, brand tersebut akan langsung dicap buruk di pasar. "Tentunya implementasi single branding ini selain memberi banyak benefit, tentu ada saja risiko yang perlu diperhatikan. Jangan sampai ada kesalahan. Kita harus membangun korporat image yang baik," tegas Darmin.
Risiko itu, lanjut dia, seharusnya bisa menjadi motivasi bagi Pupuk Indonesia untik bekerja lebih baik di masa mendatang. "Kami sadar bukan hal mudah untuk menyatukan brand. Terlebih lagi, kita tau bahwa produk yang kita hasilkan itu berasal dari beberapa perusahaan. Selama ini, dari efisiensi biaya saja mungkin belum ada keseragaman," tandas Darmin. (OL-12)
Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 113 Tahun 2025 merupakan solusi atau jawaban inefisiensi industri pupuk yang diterbitkan berdasarkan temuan Badan Pemeriksa Keuangan.
Pupuk Indonesia menyambut Perpres 113/2025 tentang tata kelola pupuk bersubsidi yang dinilai mendorong efisiensi industri.
Langkah tersebut dilakukan melalui strategi optimalisasi produksi, penguatan distribusi antar-wilayah, serta penyesuaian stok pupuk.
PT Pupuk Indonesia (Persero) melibatkan ribuan inovator dari dalam dan luar negeri untuk mendorong transformasi pertanian nasional melalui penyelenggaraan FertInnovation Challenge 2025.
Pupuk Indonesia dan Kemenko Pangan memantau pilot project i-Pubers di Sidrap untuk memastikan distribusi pupuk subsidi lebih transparan dan tepat sasaran.
PT Pupuk Indonesia (Persero) berkomitmen mendukung pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) binaan untuk bersaing pasar internasional.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved