Senin 11 Oktober 2021, 19:51 WIB

Perusahaan Asuransi ikut Dukung Pertumbuhan Industri Keuangan Syariah 

M. Ilham ramadhan Avisena | Ekonomi
Perusahaan Asuransi ikut Dukung Pertumbuhan Industri Keuangan Syariah 

Ilustrasi
Ilustrasi asuransi

 

PT Asuransi Allianz Life Indonesia (Allianz Life) mendukung perkembangan dan pertumbuhan industri keuangan, salah satunya ialah asuransi syariah. Dukungan itu ditunjukkan dengan partisipasinya dalam Online Executive Program yang diselenggarakan oleh Islamic Financial Services Board (IFSB) bertema Managing Digital Transformation Risks for Islamic Finance Institutions (IFIs). 

Tujuan dari program tersebut yakni untuk meningkatkan pemahaman peserta tentang risiko operasional, peraturan, pengawasan, pemantauan, termasuk penilaian dan mitigasi risiko komprehensif, serta implementasi terkait percepatan transformasi digital untuk perbankan, pasar modal dan lembaga keuangan syariah lainnya, 

Direktur & Chief of Partnership Distribution Officer Allianz Life Indonesia Bianto Surodjo mengungkapkan, kondisi Indonesia dengan besarnya penduduk muslim memberikan peluang bagi bisnis keuangan syariah. Setidaknya 87% dari 270 juta penduduk Indonesia merupakan muslim. 

Belum lagi kelompok kelas menengah diperkirakan terus bertumbuh. Hal itu merupakan peluang yang bisa dimanfaatkan oleh sektor asuransi untuk memperbesar kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. 

"Penetrasinya masih 3% dari PDB, sementara kontribusi syariah hanya 6% dari industri," ujar Bianto yang turut menjadi pembicara dalam Online Executive Program bertema Managing Digital Transformation Risks for Islamic Finance Institution, Senin (11/10). 

Menurutnya, saluran dan cara menjadi komponen penting untuk menjangkau banyak masyarakat Indonesia. Sektor perbankan, kata Bianto, masih cukup krusial lantaran lebih dari 100 juta masyarakat Indonesia ialah nasabah bank. 

"Perbankan juga dianggap kredibel bagi nasabah, sehingga bank atau bancassurance masih menjadi saluran yang sangat relevan bagi perusahaan asuransi yang ingin menjangkau sebagian besar Indonesia, termasuk Allianz," tambah Bianto. 

Dia menambahkan, industri asuransi akan mengalami perjalanan yang mirip dengan sistem pembayaran digital yang dimulai dari pembentukan ekosistem, dan pengguna akan menentukan model operasi tersebut diterima dengan baik atau tidak. 

Bisnis digital juga saat ini didominasi oleh e-commerce, sedangkan perbankan mengejar solusi disrupsi yang dilakukan perusahaan digital. Kombinasi dari semuanya menjadi jangkar dalam bisnis digital, karena mereka dapat mencapai lebih dari 100 juta orang secara bersamaan. 

Baca juga : Dorong Digitalisasi Layanan Jemaah Haji, Bank Aladin Syariah Gandeng BPKH

Pertumbuhan bisnis dapat terjadi dengan memanfaatkan ekosistem tersebut secara efektif. Menurut Bianto, kerja sama dengan pihak lain yang telah memiliki ekosistem digital akan menjangkau masyarakat yang belum tersentuh produk asuransi sebelumnya. 

Memberikan customer journey yang sederhana, termasuk di dalamnya pembayaran, menjadi sangat penting untuk mencapai tujuan peningkatan angka penetrasi asuransi di Indonesia. 

"Ketika membahas mengenai digital, saya ingin mengulangi bahwa digitalisasi tidak dapat diimplementasikan pada semua produk asuransi. Digitalisasi, tidak hanya dalam kerangka penjualan secara full digital, namun juga solusi digital yang sifatnya hybrid karena produk yang lebih kompleks masih memerlukan interaksi antar manusia dalam prosesnya," imbuhnya. 

"Di Allianz, kami menerapkan proses digital secara end-to-end mulai dari proses pembelian polis asuransi dengan tatap muka digital, proses pembayaran dan aktivitas pasca pembelian secara digital, klaim dan layanan transaksi digital untuk nasabah, sampai dengan program loyalty," sambung Bianto. 

Karenanya, untuk mempercepat perkembangan asuransi syariah, diperlukan ekosistem dan keterhubungan antara perusahaan asuransi dengan bank, institusi keuangan lain, fintech hingga nasabah. Edukasi mengenai keuangan dan asuransi syariah, Bianto bilang, juga harus dilakukan secara berkesinambungan. 

Kerja sama dan kolaborasi dalam menumbuhkan industri syariah dan digital di berbagai bidang perlu dilakukan, antara lain dalam hal dialog dengan regulator, pencegahan fraud, peraturan yang seimbang dengan industri lain agar seimbang antara perlindungan nasabah, perlindungan perusahaan asuransi, kecepatan dan stimulasi untuk inovasi yang harus dilakukan. 

"Selain itu, dukungan pemerintah dan regulator untuk industri syariah tentu menjadi hal yang sangat krusial sebagai pelengkap keseluruhan upaya ini," pungkas Bianto. 

Sementara itu, Direktur Utama Bank Syariah Indonesia (BSI) Hery Gunardi menuturkan, pihaknya berkomitmen mendukung perkembangan ekosistem ekonomi syariah nasional yang lebih kuat. Salah satu yang dilakukan ialah melalui pemanfaatan teknologi digital dan meningkatkan teknologi mobile banking. 

"Tujuannya tidak lain untuk memperluas jangkauan dan transaksi nasabah, sehingga kebutuhan nasabah dapat terpenuhi baik dari transaksi finansial, sosial yang dapat membantu sesama, sampai dengan kebutuhan spiritual," ujarnya. (OL-7)

Baca Juga

Antara

Rupiah Jadi Alat Pemersatu Bangsa

👤M. Ilham Ramadhan Avisena 🕔Jumat 19 Agustus 2022, 13:42 WIB
Rupiah merupakan instrumen penting yang tidak hanya berfungsi sebagai alat pembayaran, namun juga menunjukkan eksistensi kedaulatan...
Ist/DPR

RAPBN 2023 Wajib Lanjutkan Agenda Strategis Nasional

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 19 Agustus 2022, 13:13 WIB
Ketua Banggar DPR RI Said Abdullah menyatakan setidaknya ada dua isu besar dalam desain Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja...
Ist

Terapkan Sistem Keamanan Informasi, Manulife Raih Sertifikat ISO

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 19 Agustus 2022, 13:06 WIB
Manulife Indonesia secara resmi menerima sertifikasi ISO/IEC 27001:2013, suatu standar internasional dalam menerapkan sistem manajemen...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya