Selasa 14 September 2021, 10:30 WIB

Harga CPO Naik Seiring Kekhawatiran Menurunkan Produksi Komoditas Sawit

Fetry Wuryasti | Ekonomi
Harga CPO Naik Seiring Kekhawatiran Menurunkan Produksi Komoditas Sawit

Antara
Pekerja memasukkan kelapa sawit untuk diproses menjadi minyak kelapa sawit (CPO)

 

KINERJA pergerakan harga minyak kelapa sawit (CPO) sepanjang 2 bulan terakhir meningkatkan optimisme terhadap naiknya perolehan kinerja pada kuartal III-2021 dimana kenaikan harga rata – rata menjadi katalis positif bagi emiten.

Kenaikan harga jual CPO merupakan dampak masih tingginya permintaan di pasar internasional, di tengah adanya kekhawatiran produksi komoditas ini turun.

"Permintaan diproyeksikan masih akan terus naik, sehingga kami menilai harga CPO masih akan melanjutkan kenaikannya pada September dan bisa menjadi tertinggi di tahun 2021," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, Selasa (14/9).

Berdasarkan data dari GAPKI, Harga CPO di September yang rata-rata sebesar Rp12.594 per kg itu, di atas harga rata-rata bulan Agustus yang masih Rp12.515 per kg. Harga jual tertinggi CPO asal Sumut pada September terjadi pada tanggal 8 yaitu sebesar Rp12.728 per kg.

Berdasarkan data, harga CPO di Sumatera Utara semakin bergerak sejak Agustus. Pada Januari-Juli, harga CPO masih berada di kisaran Rp 9.000an hingga Rp 11.000an per kg, dan pada Agustus sudah bisa rata-rata Rp12.515, dan naik lagi di September menjadi Rp12.594 per kg.

Jika mengacu pada harga acuan global, Harga CPO diperkirakan akan lebih stabil di level 4.000 Ringgit Malaysia per ton hingga tahun. Saat ini ketatnya produksi di tengah naiknya permintaan menjadi trigger dari naiknya harga tersebut. Dampak dari pandemi yang berkepanjangan memberikan tekanan pada hasil produksi Malaysia.

Krisis pekerja juga ikut memberikan tekanan pada industri sawit Malaysia. Hal ini seiring dengan pekerja asing yang telah kembali ke negara asalnya tidak dapat kembali karena perbatasan ditutup dan penerimaan pekerja migran dibekukan oleh pemerintah.

Industri kelapa sawit Malaysia sangat bergantung pada pekerja asing, terutama dari Bangladesh dan Indonesia, yang merupakan hampir 80% mendominasi angkatan kerja.

Di sisi lain, data Malaysian Palm Oil Board (MPOB) stok minyak sawit Malaysia turun 7,3% menjadi 1,49 juta ton pada akhir Juli. Data MPOB juga menunjukkan bahwa produksi minyak sawit pada bulan Juli turun 5,1% menjadi 1,52 juta ton pada bulan tersebut.

"Kami memperkirakan hal itu akan menjadi katalis positif bagi harga CPO di tengah pemulihan ekonomi pasca vaksin juga akan menaikkan permintaan," kata Nico. (OL-13)

Baca Juga: Tren Kasus Covid-19 Turun, IHSG Diperkirakan Rebound

Baca Juga

Dok.Jokowi Centre

Pelibatan Petani dalam Program Biodiesel Masih Perlu Ditingkatkan

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 28 September 2021, 19:36 WIB
Pengembangan program mandatori BBN bertujuan untuk meningkatakan kesejahteraan petani yang memiliki 40% dari total lahan perkebunan sawit...
Ant

Erma: Digitalisasi Menjadi Kebutuhan UMKM Hadapi Situasi Pandemi

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 28 September 2021, 19:16 WIB
PELAKU UMKM alah satu sektor yang mengalami pukulan berat menghadapi situasi Pandemi. Dalam situasi tersebut, digitalisasi...
ANTARA FOTO/Reno Esnir

Sistem Perpajakan Baik, Jika Kewenangan Otoritas Pajak Lengkap

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 28 September 2021, 19:15 WIB
Pungutan pajak merupakan sumber utama penerimaan sebuah negara di seluruh dunia, tak terkecuali...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Porsi Terbesar Operasi untuk Edukasi

Protokol kesehatan pun menjadi fokus Operasi Patuh Jaya 2021

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya