Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBAGIAN besar konsumen di Tanah Air memiliki kesadaran ihwal pentingnya kelestarian lingkungan. Mereka bahkan ingin membeli produk berkelanjutan meskipun harus merogoh kocek lebih dalam. Hal ini tergambar dari temuan Survei Katadata Insight Center (KIC) “Katadata Consumer Survey on Sustainability” yang publikasikan Selasa (23/8).
Survei yang merangkum pendapat 3.631 responden dari seluruh Indonesia itu menunjukkan bahwa tingkat kesetujuan konsumen untuk membayar lebih tinggi/mahal mencapai skor 6,54 (skala 10).
“Konsumen memang sensitif dengan harga, namun skor di atas 6 ini cukup menggembirakan,” kata Head of Katadata Insight Center, Adek Media Roza, dalam webinar SAFE Forum 2021 yang diselenggarakan Katadata.
Skor yang lebih tinggi diberikan oleh responden pada pernyataan “membeli produk berkelanjutan karena dianggap menguntungkan” (7,91) dan “bersedia membeli produk yang dibuat oleh merek/perusahaan yang diyakini memiliki gerakan cinta lingkungan & Kesehatan” (7,61).
Adek menambahkan, harga produk memang menjadi pertimbangan penting yang dikemukakan 66% responden. Namun, sebanyak 82,7% menyatakan kebutuhan/kegunaan barang merupakan yang utama. Selanjutnya, faktor yang menjadi pertimbangan adalah kualitas/rasa/bahan (53,4%) dan ulasan pelanggan (28,1%), yang terkait dengan meningkatnya tren belanja online
Survei ini juga mengungkap bawah 74,5% konsumen pernah berbelanja secara online, meski aktivitas belanja dengan berkunjung ke lokasi penjualan tetap dilakukan. Adapun yang hanya berbelanja dengan mengunjungi toko/pasar/mall/supermarket dalam tiga bulan terakhir hanya mencapai 24,5% responden.
Baca juga : CSIS: Harus Ada Revolusi Manajemen Bantuan Sosial di Era Pandemi
Sebanyak 62,9% responden survei mengaku pernah membeli produk berkelanjutan. Dari kelompok responden ini, 56,7% membeli makanan, diikuti produk rumah tangga (47,8%) dan pakaian (37,4%). “Lalu apa alasan mereka membeli produk-produk tersebut? Ternyata 60,5% konsumen ingin berkontribusi dalam melestarikan bumi, selanjutnya adalah suka/puas menggunakan produk ramah lingkungan (41,3%),” ujar Adek.
Adapun dari kelompok 37,1% responden yang belum pernah membeli produk berkelanjutan atau ramah lingkungan beralasan bahwa produk tersebut tidak tersedia di sekitar lingkungan mereka (50,8%) dan kurang mendapat informasi tentang produk berkelanjutan (44,0%).
“Nah, ini adalah peluang bagi pelaku industri. Produsen hendaknya memastikan ketersediaan produk, karena pasarnya ada,” Adek menambahkan.
Ia juga mengatakan, selain ketersediaan, perlu sosialisasi dan edukasi pentingnya penggunaan produk berkelanjutan. Pernyataan ini juga didukung oleh hasil riset ini yang menunjukkan bahwa responden yang pernah mendengar istilah “produk berkelanjutan” dan mengetahui maknanya umumnya membeli produk berkelanjutan. Responden yang tidak memahami makna “produk berkelanjutan” biasanya tidak tahu apakah barang yang mereka beli adalah produk berkelanjutan atau bukan.
Survei Katadata Insight Center (KIC) “Katadata Consumer Survey on Sustainability” dilakukan terhadap 3.631 konsumen yang mengambil keputusan dalam pembelian produk atau berbelanja. Survei dilakukan secara online pada responden berusia berusia 17-60 tahun, pada 30 Juli - 1 Agustus 2021 yang mencakup hampir seluruh wilayah Indonesia. (RO/OL-7)
Meningkatnya kompleksitas teknis konsol gim menjadikan proses perbaikan perangkat hiburan digital sebagai aktivitas berisiko tinggi apabila tidak ditangani secara tepat.
Menurut Niti, tanpa adanya insentif, khususnya untuk mobil listrik, harga kendaraan listrik akan melonjak dan berisiko menurunkan daya beli konsumen.
Di tengah perubahan perilaku konsumen yang kian serba cepat dan berbasis lokasi, perusahaan-perusahaan di Indonesia menghadapi tantangan baru.
Kemendag terus melakukan pengawasan terhadap distribusi barang kebutuhan pokok Minyakita jelang Nataru
PEMILIHAN rumah sakit rujukan dengan standar dan komitmen layanan terbaik yang sama dengan perusahaan asuransi menjadi salah satu penentu kualitas layanan kepada peserta.
KESADARAN masyarakat Indonesia sebagai pasar Muslim terbesar di dunia terhadap pentingnya memilih produk kesehatan yang bersertifikasi halal terus menguat.
Menurutnya, kepercayaan publik yang sudah terbentuk perlu dijaga agar tidak menurun di tengah dinamika kebijakan dan tantangan pemerintahan.
Fernando menyebut, posisi Sjafrie sebagai sahabat karib sekaligus menteri paling berpengaruh di kabinet menjadikannya sosok yang sangat kuat.
Founder Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, mengatakan, survei terbaru menunjukkan langkah Kejagung menunjukkan uang sitaan mendapat apresiasi.
Berdasarkan survei terhadap 1.000 responden pada akhir 2025, sebanyak 82% pekerja Indonesia mengaku bahagia di tempat kerja.
Mayoritas publik atau sekitar 67 persen percaya bahwa penempatan Polri di bawah kementerian berpotensi mengurangi independensi kepolisian.
Data survei juga mengungkap fakta menarik bahwa penolakan ini tidak terkonsentrasi pada satu kelompok demografi atau politik tertentu
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved