Selasa 10 Agustus 2021, 18:15 WIB

HSBC Galang Kemitraan Dorong Percepatan Penggunaan Energi Terbarukan

Fetry Wuryasti | Ekonomi
HSBC Galang Kemitraan Dorong Percepatan Penggunaan Energi Terbarukan

Antara/Adwit B Pramono
Pekerja melakukan pengawasan operasional di Area situs Pembangkit Listrik tenaga Panas Bumi (PLTP) Lahendong, Tomohon, Sulawesi Utara.

 

HSBC Global Research bekerja sama dengan World Resources Institute (WRI) dan WWF, meluncurkan proyek lima tahun untuk mempercepat penggunaan energi terbarukan dan mendorong investasi sektor swasta. 

Tujuannya guna mendukung transisi menuju energi terbarukan, dengan fokus pada sektor komersial dan industri di Indonesia.

"Proyek ini merupakan bagian dari inisiatif global HSBC, Climate Solutions Partnership senilai US$100 juta, untuk mengatasi hambatan pembiayaan bagi perusahaan dan proyek yang bertujuan untuk mengatasi dampak perubahan iklim," kata President Director, PT Bank HSBC Indonesia Francois de Maricourt, Selasa (10/8).

Di Indonesia, program ini akan mendukung proyek-proyek berkelanjutan yang seringkali mengalami hambatan untuk mendapatkan pembiayaan akibat belum adanya kerangka kebijakan, kesenjangan antara permintaan dan suplai, atau kurangnya perangkat pengukuran dan business case.

Selama lima tahun ke depan, kemitraan ini akan berfokus pada meningkatkan ketersediaan solusi pembiayaan yang dapat menumbuhkan permintaan akan energi terbarukan, mendukung pengembangan kebijakan dan peraturan yang mendorong komersialisasi energi terbarukan,dan mengembangkan akses terhadap solusi pembiayaan bagi inisiatif efisiensi energi di sektor komersial dan industri.

“Memenuhi target penurunan emisi karbon membutuhkan pemikiran dan teknologi terkini, dan sektor keuangan memiliki peran yang penting dalam perjalanan ini. Walaupun Indonesia sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim, namun banyak juga solusi yang muncul di negara ini. Melalui program ini, kami membuka peluang untuk mendukung transisi menuju energi terbarukan dan mengembangkan inisiatif efisiensi energi bersama dengan mitra kami WRI dan WWF,” kata Francois de Maricourt.

Menurut HSBC Global Research, perubahan iklim merupakan krisis besar bagi Indonesia. Meningkatnya tinggi permukaan air laut telah berdampak pada kota-kota besar di Asia, seperti Bangkok, Jakarta dan Mumbai.

Selain itu, perubahan cuaca yang drastic juga membahayakan keamanan pangan di kawasan Asia. Peningkatan satu derajat suhu bumi saja akan berdampak sangat buruk bagi 1.800 km garis pantai di Indonesia, keamanan pangan, kesehatan, serta perekonomian Indonesia.

Oleh karena itu, jika manusia mengabaikan dampak perubahan iklim bagi masyarakat, maka pertumbuhan perekonomian yang berkelanjutan di Indonesia juga akan terhambat.

Langkah Pemerintah 

Pada kesempatan yang sama, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengungkapkan sejumlah strategi jangka panjang sektor energi menuju karbon netral di 2060 telah disiapkan pemerintah.

Dari sisi suplai, ada tiga strategi yang akan diterapkan pemerintah untuk mencapai karbon netral. Pertama, pengembangan energi baru terbarukan (EBT) secara masif.

“Strategi jangka panjang sektor energi menuju karbon netral pada sisi suplai kami bertumpu pada pengembangan EBT, termasuk pemanfaatan energi lain, seperti nuklir, hidrogen, dan battery energy storage system,” ujar Arifin dalam acara HSBC Energy Transition Project, Selasa (10/8).

Kedua adalah pengurangan pemanfaatan energi fosil atau pemanfaatan teknologi carbon capture and storage atau carbon capture, utilization, and storage (CCS/CCUS). Saat ini, pemerintah telah merancang program penghentian operasional PLTU dan PLTGU sesuai dengan usia pembangkit. Pemerintah juga tidak lagi menambah PLTU baru kecuali yang kontraknya telah berjalan.

“Kami juga terus mengikuti perkembangan teknologi CCS/CCUS, dan saat ini kami sudah lakukan program konversi penggantian PLTD dengan gas untuk transisi sebelum digantikan EBT,” kata Arifin.

Ketiga, pengembangan interkoneksi transmisi dan smart grid. Pemerintah menargetkan interkoneksi transmisi listrik di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi dapat selesai pada 2024.

Sementara itu, dari sisi permintaan, ada empat strategi yang dicanangkan pemerintah. Di sektor rumah tangga, pemerintah mendorong pemanfaatan kompor listrik dan jaringan gas (jargas). Pemerintah menargetkan rata-rata penambahan kompor listrik 1,4 juta rumah tangga per tahun dan penambahan sekitar 10 juta sambungan jargas rumah tangga sampai dengan 2030.

Di sektor transportasi, pemanfaatan sepeda motor listrik ditargetkan mencapai 100 persen pada 2040 dan mobil listrik pada 2050. Pemerintah juga menargetkan setop impor BBM dan LPG maksimal di 2030 dan mendorong penggunaan biodiesel.

“Saat ini sudah mulai ada sosialisasi dan demand terhadap kendaraan listrik. Memang kendaraan listrik masih mahal, tapi ke depan dengan teknologi semakin berkembang, harga akan semakin kompetitif dan menarik untuk bisa kita kembangkan besar-besaran,” kata Arifin.

Di sektor industri, pemerintah akan mendorong pertumbuhan industri sesuai jenis proses industri yang ada dan mendorong adanya transisi energi. Sedangkan di sektor komersial dan lainnya, pemerintah mendorong optimasi konsumsi energi pada bangunan gedung di swasta dan pemerintahan.

Direktur WRI Indonesia, Nirarta Samadhi menyatakan, transisi energi terbarukan adalah inisiatif yang telah lama ditunggu-tunggu di Indonesia untuk memastikan bahwa Indonesia dapat memenuhi komitmen kepada dunia untuk memitigasi dampak krisis iklim.

"Kolaborasi antara HSBC, WRI, dan WWF akan memungkinkan kami untuk bekerja dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah Indonesia dan sektor komersial dan industri, untuk memastikan bahwa setiap orang dapat memperoleh manfaat dari transisi energi terbarukan," kata Nirarta.

Ketua Badan Pengurus, Yayasan WWF Indonesia Alexander Rusli mengatakan inisiatif ini membuka peluang bagi sektor keuangan dan industri untuk bekerja sama dalam mendukung terbentuknya ekosistem yang dapat mendorong pertumbuhan permintaan akan proyek-proyek energi terbarukan di Indonesia guna mendukung target penurunan emisi karbon pemerintah Indonesia.

"Hal ini merupakan bagian dari komitmen kami untuk berkontribusi dalam menciptakan masa depan yang lebih cerah dan berkelanjutan di Indonesia," kata Alexander.

Program Climate Solutions Partnership sendiri merupakan bagian dari strategi iklim HSBC yang diumumkan di bulan Oktober 2020. HSBC berkomitmen untuk menyelaraskan strategi pembiayaan menuju net zero di tahun 2050, sesuai dengan komitmen Paris Agreement, dan berkomitmen untuk memberikan hingga US$1 triliun dalam pembiayaan dan investasi hingga 2030 untuk mendukung nasabah dalam transisi menjadi net-zero.

HSBC juga berkomitmen untuk bekerja sama dengan sektor keuangan dan lainnya untuk mempercepat solusi yang dapat mengurangi dampak katastropik dari perubahan iklim. Program Climate Solutions merupakan bagian penting dari strategi ini. (Try/E-1)

Baca Juga

Antara

Sandiaga Ingin Kembangkan Ekonomi Kreatif Unggulan di Jambi

👤Ant 🕔Rabu 08 Desember 2021, 23:57 WIB
Ia menilai Jambi memiliki potensi wisata yang kaya dengan dibuktikan adanya dua Kawasan Strategis Pariwisata...
Dok. INPP

INPP Gandeng Cornerstone dan Cushman & Wakefield Dalam Pengembangan Antasari Place 

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Rabu 08 Desember 2021, 23:08 WIB
"“Sejak awal kami perlu memastikan pemenuhan hak konsumen untuk mendapatkan layanan yang berkualitas untuk calon...
Dok. Blibli

CEO Blibli Kusumo Martanto Raih Penghargaan Marketing Champion Marketeer Of The Year 

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Rabu 08 Desember 2021, 23:05 WIB
Pengakuan itu dinilai dewan juri dari keberhasilan Kusumo menavigasi Blibli lewat gebrakan bisnis dan inovasi pemasaran yang memberikan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya