Sabtu 07 Agustus 2021, 17:50 WIB

Tata Kelola Dampak Perubahan Iklim pada Pengembangan Hortikultura

mediaindonesia.com | Ekonomi
Tata Kelola Dampak Perubahan Iklim pada Pengembangan Hortikultura

DOK KEMENTAN

 

TERJADINYA dampak perubahan iklim (global warming) di Indonesia tidak menyurutkan langkah Kementerian Pertanian (Kementan) untuk mendorong pertumbuhan sektor pertanian. Kurang lebih terdapat 267 juta penduduk Indonesia yang membutuhkan pangan setiap harinya, termasuk sayur dan buah. 

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL)  menginstruksikan jajarannya untuk terus memberikan pendampingan kepada para petani dan petugas lapang. Kendati masih dalam nuansa PPKM, informasi iklim dalam penerapan budidaya hortikultura perlu terus dijalankan.

Menindaklanjuti arahan tersebut, Direktorat Jenderal Hortikultura melakukan bimbingan teknis bertema 'Penerapan Informasi Iklim untuk Mendorong Budidaya Hortikultura' secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting dan YouTube.

Dalam sambutannya, Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto mengatakan, implementasi manajemen iklim turut mendukung dalam suksesnya budidaya pertanian. Informasi iklim merupakan hal yang sangat penting dalam rangkarangka peningkatan produksi dan nilai tambah produk hortikultura.

“Perlunya kombinasi sains, teknologi, dan ilmu leluhur perlu untuk mencegah distorsi dalam produksi pangan sehingga produksi pangan tidak terhambat. Prediksi terhadap iklim makro maupun mikro serta penentuan jadwal tanam yang tepat untuk menentukan langkah adaptasi dan mitigasi yang lebih dini dalam penanganan dampak perubahan iklim menjadi hal yang konkret terhadap upaya real menjaga produksi di kampung hortikultura,” terangnya.

Selanjutnya Direktur Perlindungan Hortikultura, Inti Pertiwi menyampaikan, bahwa dibutuhkan langkah-langkah konkret dalam menangani dampak perubahan iklim di Indonesia.

“Kita membutuhkan strategi dalam menyikapi perubahan iklim dengan cara antisipasi, adaptasi dan mitigasi. Dalam hal ini pemanfaatan informasi iklim sebagai langkah adaptasi dengan menerapkan perencanaan budidaya tanaman dan penentuan jadwal tanam. Kita juga perlu waspada terhadap iklim ekstrem yang menyebabkan kebanjiran dan kekeringan. Selain itu perlu memperhatikan penggunaan teknologi tepat guna dalam meningkatkan produksi dan produktivitas hortikultura misalnya varietas tahan cekaman kering/basah, irigasi dan naungan,” paparnya.

Teknologi naungan dan irigasi di dataran medium
Adaptasi lingkungan yang ideal di dataran medium membutuhkan teknologi untuk memanipulasi iklim mikro (suhu, kelembaban, radiasi, dan air tanah).  Sehingga menyediakan lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan tanaman hortikultura.

Guru Besar Klimatologi Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran Prof Dr Ruminta mengatakan, bahwa untuk melakukan adaptasi perubahan iklim dapat dilakukan dengan beberapa cara. Seperti mengurangi suhu dan radiasi matahari serta meningkatkan kelembaban dan kadar air tanah dengan menggunakan teknologi naungan, irigasi mikro (fog/ mist irrigation), dan mulsa.

“Selain itu pertanian membutuhkan teknologi Smart Farming untuk membantu kegiatan budidaya dan mengurangi biaya produksi. Penerapan menggunakan teknologi otomasi digital (Iot) dan kecerdasan buatan (AI) misalnya sensor fisik dan iklim mikro untuk mengukur kondisi fisik dan lingkungan tanaman,” tuturnya.

Implementasi pemanfaatan informasi iklim
Informasi iklim sangat dibutuhkan dalam pelaksanaan kegiatan budidaya hortikultura. Keragaman pola curah hujan di Indonesia menjelaskan pentingnya mengetahui informasi iklim. Beberapa pola curah hujan yang dikenal antara lain yaitu bimodal, local, monsunal dan multipattern.

“Pola curah hujan monsunal artinya memiliki satu kali periode basah dan satu kali periode kering, dengan perbedaan jumlah hujan yang jelas antara periode basah dengan periode kering. Misalnya di Kabupaten Brebes terjadinya bulan terbasah umumnya pada November/Januari dan bulan terkering umumnya pada Agustus/September, juga memiliki curah hujan tahunan berkisar antara 2.049-3.445 mm/tahun,” terang peneliti Ahli Madya Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi, Aris Pramudia.

Melihat pola curah hujan yang berbeda-beda pada tiap daerah, lanjutnya, maka perlu dilakukan penyesuaian potensi dan pola tanam pada daerah masing-masing. Dirinya bercerita bahwa petani di Kabupaten Brebes mayoritas melakukan awal penanaman pada April-Mei dan Oktober-November.

Selain pengaruh iklim, penanaman bawang merah di Kab. Brebes juga dipengaruhi oleh kepemilikan lahan. Misalnya untuk lahan sewa maka penanaman dilakukan pada Februari-Mei. (RO/OL-10)

Baca Juga

MI/Vicky Gustiawan.

Asuransi Rangka Kapal Milik Jasindo Tumbuh Signifikan

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 27 November 2021, 21:51 WIB
Salah satu pertumbuhan positif tersebut tercatat di lini bisnis asuransi rangka...
Dok kemenhub

Menhub Sebut Integrasi Data Secara Digital Percepat Layanan Pelabuhan

👤RO/Micom 🕔Sabtu 27 November 2021, 19:22 WIB
Pelabuhan Tanjung Priok mengelola hampir 70% kegiatan ekspor-impor...
Antara

Bali Sepi Penerbangan Internasional, Kemenparekraf Galang Kerja Sama dengan Hongaria

👤Insi Nantika Jelita 🕔Sabtu 27 November 2021, 17:29 WIB
Bali masih sepi dari penerbangan internasional, sejak dibuka Oktober tahun...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya