Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
MEMASUKI kuartal ketiga 2021, Bank Universal BPR terus mengalami pertumbuhan positif meski di tengah pandemi Covid-19
Hal itu dibuktikan dengan pertumbuhan kredit sebesar 36.2% dan dana pihak ketiga 58.7% year-on-year (YoY) dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya.
Hingga saat ini, Bank Universal BPR memiliki aset sebesar Rp596 miliar di Jabodetabek dan Rp851 miliar secara konsolidasi grup.
"Prospek kredit ke depan baik dengan telah melewati zona khawatir dari isu pandemi dan likuiditas menuju pertumbuhan dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian dalam pemberian kredit,” ujar Direktur Utama Universal BPR Reyhan Satyahadi pada webinar Strategi Perbankan di Momentum Kebangkitan Kredit.
Baca juga : Danacita Angkat Gita Wirjawan Sebagai Advisor
Pertumbuhan positif ini didukung dengan beberapa strategi inovatif seperti peluncuran produk Deposito Peduli dan brand ambassador Prof. Rhenald Kasali.
“Kami akan terus menjaga tren pertumbuhan positif yang terjadi saat ini dan berfokus untuk melayani kebutuhan modal kerja yang diharapkan dapat membantu para pelaku usaha agar bisa tumbuh dan survive. Pemberian kredit ini tentunya akan tetap kami jaga dari sisi kualitas pinjaman agar rasio kredit macet (non performing loan/NPL) tetap rendah. Hal ini sejalan dengan misi kami yaitu meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” ujar Reyhan.
Sebagai catatan, Universal BPR merupakan lembaga keuangan bank yang menerima simpanan dana pihak ketiga dalam bentuk deposito dan tabungan, lalu disalurkan kembali ke masyarakat dalam bentuk pinjaman dengan jaminan sertifikat rumah (SHM/SHGB).
Universal BPR didirikan pada 2003 oleh Kaman Siboro dan Stephen Satyahadi. Bank Universal BPR terdaftar dan diawasi OJK serta merupakan peserta program penjaminan LPS. Universal BPR secara group afiliasi memiliki 10 kantor layanan yang tersebar di 8 kota Indonesia. (RO/OL-7)
PT Bank Negara Indonesia (BNI) dinilai berada pada posisi yang lebih siap memasuki 2026 dibandingkan bank-bank besar lainnya.
Menurut Pramono, pencatatan saham Bank Jakarta di BEI tidak hanya akan meningkatkan kepercayaan publik, tetapi juga mendorong profesionalisme perusahaan.
MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku telah menarik dana pemerintah sebesar Rp75 triliun dari total penempatan Rp276 triliun Saldo Anggaran Lebih (SAL) di sistem perbankan.
MANTAN Kepala PPATK Yunus Husein menilai pemajangan uang tunai hasil rampasan kasus korupsi dan sitaan negara oleh aparat penegak hukum tidak diperlukan dan cenderung tidak efisien.
PERUBAHAN status Bank Syariah Indonesia (BSI) menjadi persero dinilai memperkuat posisi bank tersebut, terutama dari sisi kredibilitas dan persepsi keamanan.
Bank Indonesia (BI) menyebut penurunan suku bunga kredit perbankan cenderung lebih lambat. Karena itu, BI memandang penurunan suku bunga kredit perbankan perlu terus didorong.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved