Rabu 04 Agustus 2021, 16:54 WIB

Permintaan Meningkat, Harga Batu Bara Acuan Agustus Tembus US$130,99/ton

Insi Nantika Jelita | Ekonomi
Permintaan Meningkat, Harga Batu Bara Acuan Agustus Tembus US$130,99/ton

Dok MI
Ilustrasi batu bara

 

KEMENTERIAN Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan peningkatan permintaan batu bara di Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan yang memengaruhi Harga Batubara Acuan (HBA) pada Agustus 2021.

Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi mengungkapkan, HBA untuk bulan ini menembus US$130,99 per ton, angka tersebut disebut menjadi tertinggi lebih dari 1 dekade terakhir ini

"Melambungnya harga batu bara dunia dipengaruhi musim penghujan yang ekstrem di Tiongkok yang mengganggu kegiatan produksi batu bara di negara tersebut, sementara kebutuhan batu bara meningkat untuk pembangkit listrik yang melampaui kapasitas pasokan batu bara domestik negara tersebut," ujarnya dalam keterangan yang dikutip Rabu (4/8).

Agung juga menambahkan, menguatnya harga juga didorong meningkatnya permintaan batu bara dari Jepang dan Korea Selatan yang menjadi faktor naiknya harga batu bara global. Sebelumnya, pada Februari 2021 rekor HBA tertinggi dicatatkan sebesar US$127,05 per ton.

Sempat melandai pada Februari-April 2021, HBA dalam negeri sempat tercatat mengalami kenaikan beruntun pada periode Mei-Juli 2021 hingga menyentuh angka US$115,35 per ton di Juli 2021. Kenaikan tersebut terus berlanjut hingga Agustus 2021.

Sebagai informasi, HBA adalah harga yang diperoleh dari rata-rata indeks Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platt's 5900 pada bulan sebelumnya, dengan kualitas yang disetarakan pada kalori 6322 kcal/kg GAR, Total Moisture 8%, Total Sulphur 0,8%, dan Ash 15%.

ESDM menerangkan, terdapat dua faktor turunan yang memengaruhi pergerakan HBA yaitu, supply dan demand. Pada faktor turunan supply dipengaruhi oleh season (cuaca), teknis tambang, kebijakan negara supplier, hingga teknis di supply chain seperti kereta, tongkang, maupun loading terminal.

Sementara, dari faktor turunan demand dipengaruhi oleh kebutuhan listrik yang turun berkorelasi dengan kondisi industri, kebijakan impor, dan kompetisi dengan komoditas energi lain, seperti LNG, nuklir, dan hidro. (OL-8)

 

Baca Juga

Antara/Dhemas Reviyanto

Menteri BUMN : Mitratel Terus Lakukan Perbaikan

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 03 Desember 2021, 07:46 WIB
Mitratel melakukan IPO tidak saja ingin memperkuat keuangan, tapi juga...
dok.ant

Wall Street Bangkit Dari Kerugian akibat Omicron

👤Muhamad Fauzi 🕔Jumat 03 Desember 2021, 07:15 WIB
SEBUAH reli luas mengirim Wall Street ke penutupan yang lebih tinggi pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB (3/12). Memulihkan...
Dok.Ist

Ketua Dekom LPS : Jangan Berutang untuk Investasi

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 03 Desember 2021, 07:00 WIB
investor pemula perlu mengenali produk maupun jasa keuangan agar tidak tergiur untuk menanam modal berdasarkan dari bujukan atau imbauan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya