Senin 02 Agustus 2021, 17:00 WIB

Ramai Rights Issue oleh Perbankan untuk Menaikkan Modal

Fetry Wuryasti | Ekonomi
Ramai Rights Issue oleh Perbankan untuk Menaikkan Modal

ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta

 

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mencatatkan pelaksanaan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue yang dilakukan pars emiten dengan total nilai Rp35,7 triliun dari 16 Perusahaan Tercatat hingga periode Juli 2021.

Dilihat dari nilainya, rights issue meningkat signifikan sebesar 302% (yoy) dibandingkan periode Juli 2020 yaitu sebanyak 8 Perusahaan Tercatat dengan nilai Rp8,9 triliun.

"Sampai dengan saat ini Bursa Efek Indonesia masih menunggu pelaksanaan rights issue dari 42 Perusahaan Tercatat dalam pipeline yang berencana melaksanakan rights issue di tahun 2021," kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna, Senin (2/8).

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menyebutkan total fundraising atau penurunan dana telah naik 211% per 27 Juli 27 2021. Peningkatan pelaksanaan right issue ini antara lain disebabkan oleh banyaknya bank yang melaksanakan rights issue, dalam rangka peningkatan modal sebagai bagian dari salah satu upaya pemenuhan POJK Nomor 12/POJK.03/2020 tentang Konsolidasi Bank Umum.

"Sebagai informasi, 62% dari total nilai right issue periode Juli 2021 berasal dari sektor perbankan. Penyebab lain dari peningkatan pelaksanaan right issue jika dikaitkan dengan penggunaan dana adalah untuk pemenuhan modal kerja, refinancing utang dan beberapa perusahaan berencana melakukan ekspansi usaha," kata Nyoman.

Sesuai POJK Nomor 12/POJK.03/2020 tentang Konsolidasi Bank Umum, OJK telah memberlakukan kenaikan inti modal bertahap mulai tahun 2020 sebesar Rp1 triliun. Sehingga nanti terpenuhi syarat modal inti bank Rp 2 triliun tahun 2021 dan menjadi Rp3 triliun di Desember 2022.

Beberapa perbankan yang akan melakukan Rights Issue antara lain Bank Oke Indonesia (DNAR) yang akan melakukan penawaran umum terbatas (PUT III) melalui skema Rights Issue dengan dana sebanyak-banyaknya 500 miliar dalam RUPSLB pada 6 Mei lalu. Para pemegang saham memberi kuasa kepada direksi untuk melaksanakan segara tindakan terkait PUT III itu.

Baca juga: Inflasi Juli 2021 Tercatat 0,08%, Obat Penyumbang Utama

Kemudian, Bank Neo Commerce (BBYB), menggelar Penawaran Umum Terbatas (PUT) IV melalui rights issue dengan menerbitkan sebanyak-banyaknya 832.724.404 saham baru. Nilai nominal dalam aksi korporasi ini sebesar Rp100/saham atau setara dengan Rp 249.817.321.200 (249,82 miliar).

PT Akulaku Silvrr Indonesia dan PT Gozco Capital selaku Pemegang Saham Utama Perseroan telah menyatakan kesanggupan untuk melaksanakan seluruh hak yang dimilikinya untuk membeli saham baru tersebut.

Seluruh dana perolehan akan digunakan untuk modal kerja pengembangan usaha BBYB, berupa penyaluran kredit dan kegiatan operasional perbankan lainnya. Bagi pemegang saham yang tidak melaksanakan haknya akan mengalami penurunan kepemilikan saham (dilusi) sebesar 11,11%. Periode pelaksanaan HMETD berlangsung pada 15 - 21 Juni 2021.

Lainnya, PT Bank Capital Indonesia Tbk (BACA) berencana menggelar Penawaran Umum Terbatas IV (PUT IV) melalui rights issue sebanyak-banyaknya 20 miliar saham. Mengacu pada keterbukaan informasi yang dipublikasikan BACA, nilai nominal rights issue tersebut sebesar Rp 100 per saham.

Manajemen BACA akan meminta restu para pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang akan diselenggarakan pada 25 Agustus mendatang. Dana hasil rights issue akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan. Bagi pemegang saham BACA yang tidak melaksanakan HMETD, persentase kepemilikan sahamnya akan terdilusi sampai dengan sebesar 73,86%

Lalu ada Bank JTrust Indonesia (BCIC) yang berencana rights issue sebanyak 4.665.700 saham atau setara dengan 46,60% saham seri C dengan nominal Rp 100/saham. Pelaksanaan rights issue ini ditujukan untuk meningkatkan modal dasar bank yang sebelumnya bernama Bank Century ini menjadi senilai Rp 20 triliun.

"Menyetujui mengubah seluruh saham portepel Perseroan menjadi saham seri C serta meningkatkan Modal Dasar Perseroan menjadi Rp 20 triliun," ungkap dokumen keterbukaan situs BEI.

RUPS juga merestui penyetoran saham oleh Pemegang Saham Utama Perseroan yakni J Trust Co., Ltd., Jepang, J Trust Asia Pte. Ltd., Singapura dan PT JTrust Investments Indonesia bersama-sama dalam pelaksanaan HMETD yang dilakukan dengan kompensasi Komponen Ekuitas Lain dan Konversi Hak Tagih dari Pinjaman Subordinasi seluruhnya bersama-sama senilai Rp 1,36 triliun dalam penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD).

Lalu ada Allo Bank Indonesia (BBHI), yang sudah menggelar penawaran umum terbatas (PUT) II dalam rangka rights issue. Berdasarkan prospektus,, perseroan menerbitkan sebanyak 7.498.501.776 saham biasa atau sebesar 64,18% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah PUT II dengan nilai nominal Rp100 setiap saham dengan harga pelaksanaan Rp100.

Dengan demikian, jumlah dana yang akan diterima Allo Bank dalam PMHMETD ini sebesar Rp 749.850.177.600 atau hampir Rp750 miliar. Dana akan digunakan untuk pemenuhan modal inti minimum bank dan akan memberikan kemampuan Allo Bank untuk mengembangkan kegiatan usaha dalam bidang kredit dengan inovasi teknologi yang yang dikenal sebagai digital bank. HMETD ini diperdagangkan di BEI dan dilaksanakan selama 5 hari kerja mulai 14 Juli 2021 sampai dengan 21 Juli 2021.

Juga ada Bank MNC Internasional (BABP), yang telah mengumumkan rencana rights issue pada awal Juni lalu. Berdasarkan pengumuman di keterbukaan informasi BEI, jumlah saham baru yang akan diterbitkan tersebut sebanyak-banyaknya 14,23 miliar saham dan merupakan saham Seri B dengan nilai nominal Rp50 per saham atau sebanyak-banyaknya sejumlah 33,33% dari modal disetor setelah pelaksanaan rights issue.

Dana yang diperoleh dari dua aksi korporasi tersebut akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan dalam rangka pemenuhan ketentuan modal inti, memperluas kapasitas pinjaman MNC Bank dan akuisisi nasabah secara digital untuk mendukung pertumbuhan bisnis

BABP juga berencana menambah modal tanpa melalui hak memesan efek terlebih dahulu (non-HMETD) atau private placement sebanyak-banyaknya 2,53 miliar saham Seri B dengan nilai nominal Rp50 per saham atau setara 10% dari modal disetor. (OL-4)

Baca Juga

Antara

Mendag Mau Uji Coba Aplikasi PeduliLindungi di Pasar

👤Fetry Wuryasti 🕔Minggu 26 September 2021, 13:20 WIB
Implementasi aplikasi PeduliLindungi akan diuji coba di enam pasar. Seperti, Pasar Mayestik, Pasar Baltos, Pasar Modern BSD, Pasar Blok M,...
MI/LILIK DARMAWAN

1.000 Penyadap Nira Banyumas Berkoperasi Pasarkan Gula Semut

👤M. Ilham Ramadhan Avisena 🕔Minggu 26 September 2021, 13:01 WIB
Menkop-UKM Teten Masduki meresmikan Koperasi Semedo Manise Sejahtera yang beranggotakan sekitar 1.000 penyadap nira dan memproduksi...
Antara/Wahdi Septiawan.

Indonesia Ekspor Pinang Perdana ke Arab Saudi

👤Fetry Wuryasti 🕔Minggu 26 September 2021, 12:58 WIB
Pinang yang diimpor dari Indonesia umumnya dipakai ekspatriat Asia Selatan yang tinggal di Arab Saudi untuk...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Cegah Konflik di Myanmar semakin Memburuk

Bentrokan antara pasukan perlawanan bersenjata dan militer dalam beberapa hari terakhir telah mendorong gelombang evakuasi baru di wilayah barat laut

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya