Senin 21 Juni 2021, 12:25 WIB

Covid-19 Menggila, Ekonom Sarankan Lockdown

Insi Nantika Jelita | Ekonomi
Covid-19 Menggila, Ekonom Sarankan Lockdown

ANTARA FOTO/Arnas Padda
Ilustrasi perekonomian pada pelaku UMKM

 

KENAIKAN kasus covid-19 di Tanah Air yang nyaris menyentuh angka 2 juta mendorong pemerintah untuk mengambil opsi penguncian wilayah atau lockdown. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menuturkan sebaiknya pemerintah jangan berkelut dengan kebijakan coba-coba.

"Kalau kondisi ledakan kasus diatas 12.000 per hari mau tidak mau lockdown harus dilakukan. Kita terlambat untuk putuskan lockdown di awal. Pemerintah jangan sering mengadu narasi antara pilihan kesehatan dan ekonomi serta kebijakan coba-coba lainnya," ungkapnya kepada wartawan, Senin (21/6).

Kebijakan coba-coba yang dimaksud Bhima seperti pembukaan tempat wisata saat libur lebaran tahun ini pada Mei lalu. Hal itu dianggap menjadi blunder karena dapat menyebabkan kerumunan di saat kasus covid-19 nasional masih tinggi dan belum terkendali.

"Itu kebijakan yang prematur dan justru blunder bagi ekonomi sendiri. Sebaiknya segera diputuskan saja, kalau mau lockdown ya secara nasional, tidak bisa satu provinsi memutuskan lockdown, tidak akan efektif," tegas Bhima.

Dia menambahkan, persiapan dari sisi anggaran pemerintah harus difokuskan semua ke belanja kesehatan dan perlindungan sosial. Pemerintah juga dimintah setop dulu belanja-belanja infrastruktur karena perlu ada realokasi ekstrem selama masa lockdown.

"Belanja-belanja yang sifatnya tidak urgen seperti belanja perjalanan dinas work from Bali itu batalkan segera. Estimasinya dengan anggaran infrastruktur Rp413 triliun yang dihemat saja akan banyak suport untuk lakukan lockdown," ujar Bhima.

Baca juga: Tertekan Kasus Covid-19, IHSG Anjlok Sampai Level 5.900

Dia menyebut, jika penerapan lockdown efektif maka ekonomi akan tumbuh solid, tidak semu seperti sekarang. Seakan tingkat kepercayaan konsumen naik, tapi setelah ledakan kasus covid-19 berisiko turun lagi.

Pertumbuhan ekonomi di kuartal ke II 2021 pun diperkirakan 2-4%. Meski positif, imbuh Bhima, sifatnya temporer karena ada momen lebaran yang mana daya beli terangkat. Sementara kuartal ke III 2021 diprediksi rentan alami tekanan dan berisiko negatif lagi.

"Kita jangan sampai mengulang lagi di titik nol. Saya yakin pelaku usaha mau mendukung lockdown dengan catatan ada kompensasi yang layak dari pemerintah dan efektif pengawasan dilapangan atau tidak ada diskriminatif," tukas Bhima.(OL-5)

Baca Juga

Dok. Kemenhub

Kemenhub Bangun Pelabuhan Anggrek di Gorontalo lewat Skema KPBU

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Jumat 30 Juli 2021, 23:42 WIB
“Meskipun di tengah pandemi, tetapi kita terus berkomitmen melanjutkan pembangunan. Saya bersyukur dan senang, karena pembangunan...
Anara/Fikri Yusuf

62 Juta Lapangan Kerja Sektor Pariwisata Hilang di 2020, Sandiaga : Ini PR Besar

👤Insi Nantika Jelita 🕔Jumat 30 Juli 2021, 23:11 WIB
Data dari Kemenparekraf menyatakan jumlah wisawatan mancanegara di Indonesia anjlok 75% hingga tahun ini, lalu jumlah wisatawan nusantara...
Dok. BTN

Kolaborasi BTN-KAS Gelar Drive-Thru Akad Kredit Massal Proyek Perumahan

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Jumat 30 Juli 2021, 23:08 WIB
Gelaran ini merupakan inovasi BTN dan PT KAS untuk mempermudah konsumen dalam memiliki hunian di tengah pandemi Covid-19  yang...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Mencari Abdi Negara di Tengah Pandemi

Jumlah pelamar di bawah perkiraan 5 juta orang dan menurun ketimbang perekrutan sebelumnya.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya