Minggu 20 Juni 2021, 19:59 WIB

Ini Luas Karhutla di Indonesia yang Diidentifikasi KLHK

Ferdian Ananda Majni | Ekonomi
Ini Luas Karhutla di Indonesia yang Diidentifikasi KLHK

Antara
Ilustrasi

 

PERBANDINGAN total jumlah hotspot Tahun 2020 dan 2021 pertanggal 1 Januari – 20 Juni 2021, berdasarkan Satelit Terra/Aqua (NASA) Conf. Level ?80% sebanyak 625 titik, pada periode yang sama tahun 2020 jumlah hotspot sebanyak 856 titik. Menunjukkan penurunan jumlah hotspot sebanyak 231 titik atau 26,99 %.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK, Basar Manullang menyampaikan bahwa luas karhutla sampai dengan proses penghitungan terakhir sampai dengan 31 Mei 2021 teridentifikasi seluas 35.271 hektare.

"Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 9,13% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2020," kata Basar kepada Media Indonesia Minggu (20/6).

Selanjutnya untuk pelaksanaan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di wilayah Sumatera Selatan dan Jambi yang telah dimulai tanggal 10 Juni, sampai dengan tanggal 17 Juni 2021 ini telah dilakukan sebanyak 8 sorti, jumlah bahan semai 6.400 kg NaCl, total volume curah hujan yang dihasilkan 18,51 juta m3.

"Dimana selama pelaksanaan operasi TMC, pantauan hotspot (confident level >80%) di Sumatera Selatan dan Jambi terpantau nihil. Terjadi peningkatan curah hujan di beberapa wilayah seperti di wilayah Banyuasin, Palembang, dan Ogan Ilir," paparnya.

Upaya-upaya rutin pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang rutin dilaksanakan, lanjut Basar yakni monitoring atau pemantauan hotspot. Sehingga dari hotspot yang terpantau segera dilakukan groundcheck atau verifikasi lapangan apakah hotspot tersebut adalah kejadian karhutla.

"Karena hotspot atau titik panas ini baru merupakan indikasi terjadinya karhutla," jelasnya

Kemudian Groundcheck dilakukan oleh para petugas lapangan, baik oleh Manggala Agni atau terpadu bersama unsur POLRI, TNI, BPBD, atau berdasarkan laporan masyarakat. Begitu juga bila ditemukan karhutla maka segera dilakukan upaya pemadaman.

Selanjutnya melakukan patroli pencegahan karhutla sejak awal tahun pada wilayah-wilayah rawan karhutla yang dilaksanakan oleh Manggala Agni atau secara terpadu bersama unsur POLRI, TNI, tokoh masyarakat dan Masyarakat Peduli Api (MPA).

"Dalam patroli tersebut selain dilakukan pemantauan lapangan juga memberikan sosialisasi dan kampanye pencegahan karhutla kepada masyarakat," terangnya.

Baca juga : Selamat! Indonesia Terpilih Wakili Asia Jadi Anggota Dewan FAO (2021-2024)

Sebelumnya, Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, KLHK, Laksmi Dhewanthi mengungkapkan bahwa diperlukan kesiapan serta upaya pencegahan untuk menghadapi bencana hidrometerologi seperti karhutla. Salah satunya adalah melalui penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca.

“Tahun lalu, TMC telah menjadi salah satu solusi permanen dalam pencegahan karhutla, dimana operasi TMC dilakukan untuk membasahi lahan gambut, menjaga kelembaban dan menjaga tinggi muka air agar tetap stabil sehingga tidak mudah terbakar, mengisi kanal-kanal, embung dan kolam-kolam,” sebut Laksmi.

Menurutnya pelaksanaan TMC merupakan bentuk sinergitas para pihak dalam operasionalisasinya. BPPT sebagai penyedia infrastruktur, teknologi, sarana prasarana, dan bahan-bahan untuk pelaksanaan operasi TMC, BNPB dan mitra kerja swasta (PT. Sinar Mas dan PT. Riau Andalan Pulp and Paper) memberikan dukungan anggaran, TNI AU mendukung armada pesawat dan pangkalan udara, BMKG sebagai penyedia data dan informasi prediksi cuaca serta rekomendasi dalam pelaksanaan TMC, serta KLHK dan BRGM mendukung dalam penyediaan data dan informasi kerawanan karhutla dan kondisi tinggi muka air gambut dan anggaran.

“Saat ini sudah ada empat provinsi yang telah menetapkan Status Siaga Darurat, yaitu Provinsi Riau, Kalimantan Barat, Jambi, dan Sumatera Selatan yang perlu segera dilakukan peningkatan upaya pengendalian karhutla agar kondisi tetap terkendali dan tidak terjadi bencana kabut asap,” lanjut Laksmi.

Prediksi BMKG juga menunjukkan beberapa wilayah di Sumatera perlu segera mendapat perhatian karena jika dilihat dari prakiraan curah hujan bulanan tahun 2021, pada bulan Juni di wilayah Riau, Jambi, dan Sumsel berada kategori rendah-menengah. Jika dilihat dari siklus tren titik panas (hotspot), pada bulan Juni juga menunjukkan pola peningkatan di beberapa wilayah Sumatera.

Laksmi mengungkapkan TMC merupakan terobosan dalam mitigasi karhutla dengan memanfaatkan teknologi yang diharapkan dapat bermanfaat dalam mempertahankan kebasahan lahan terutama lahan gambut untuk meminimalisir potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

“Saya mengucapkan terima kasih atas kerjasama yang baik oleh para pihak selama ini, sehingga operasi TMC ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjadi salah satu langkah permanen dalam pengendalian karhutla di Indonesia,” pungkas Laksmi. (OL-2)

 

Baca Juga

Dok. Kemenhub

Kemenhub Bangun Pelabuhan Anggrek di Gorontalo lewat Skema KPBU

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Jumat 30 Juli 2021, 23:42 WIB
“Meskipun di tengah pandemi, tetapi kita terus berkomitmen melanjutkan pembangunan. Saya bersyukur dan senang, karena pembangunan...
Anara/Fikri Yusuf

62 Juta Lapangan Kerja Sektor Pariwisata Hilang di 2020, Sandiaga : Ini PR Besar

👤Insi Nantika Jelita 🕔Jumat 30 Juli 2021, 23:11 WIB
Data dari Kemenparekraf menyatakan jumlah wisawatan mancanegara di Indonesia anjlok 75% hingga tahun ini, lalu jumlah wisatawan nusantara...
Dok. BTN

Kolaborasi BTN-KAS Gelar Drive-Thru Akad Kredit Massal Proyek Perumahan

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Jumat 30 Juli 2021, 23:08 WIB
Gelaran ini merupakan inovasi BTN dan PT KAS untuk mempermudah konsumen dalam memiliki hunian di tengah pandemi Covid-19  yang...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Mencari Abdi Negara di Tengah Pandemi

Jumlah pelamar di bawah perkiraan 5 juta orang dan menurun ketimbang perekrutan sebelumnya.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya