Selasa 30 Maret 2021, 18:35 WIB

Sebelum Merger, Pemerintah Perlu Evaluasi Kinerja Indosat dan Tri

Mediaindonesia.com | Ekonomi
Sebelum Merger, Pemerintah Perlu Evaluasi Kinerja Indosat dan Tri

Antara/Ujang Zaelani
Petugas memeriksa BTS

 

PEMERINTAH  perlu mengevaluasi kinerja operator telekomunikasi sebelum menyetujui mereka merger.  Sebab  banyak faktor turunan lainnya yang akan terkait, misalnya penggunaan frekuensi  atau lainnya.

Pengamat kebijakan publik Agus Pambagio mengatakan persetujuan penggabungan frekuensi tidak serta merta dikabulkan tanpa melihat kinerja mereka sebelumnya.

"Harus dilihat dong kinerja mereka seperti apa. Dulu saat mendapat alokasi frekuensi kan ada yang diperjanjikan, misalnya membangun BTS. Nah ini perlu direview kinerjanya. Jangan karena merger langsung dikasih ijin," kata Agus saat dihubungi, Selasa (30/3).

Agus memahami bahwa di rejim UU Cipta Kerja terjadi beberapa perubahan yang signifkan terhadap pengaturan yang ada di industri sebelumnya. Pengalihan frekuensi yang di UU Penyiaran dilarang,kini diperbolehkan dalam UU Ciptaker yang telah disusun aturan pelaksanaannya dalam Peraturan Pemerintah. 

Namun demikian, ia meminta ada peran pemerintah untuk tidak dengan mudah begitu saja memberikan ijin tanpa melihat kinerja yang ada sebelumnya. 

Sebagai informasi, saat ini dua operator yang sedang dalam penjajakan untuk melakukan merger adalah PT Indosat Ooredoo Tbk dan PT Hutchinson 3 Indonesia (Tri). Pemegang saham pengendali di kedua operator itu telah melakukan perjanjian untuk menfinalisasi kerja sama baru di antara keduanya paling lambat akhir April 2021. 

Salah satu yang menjadi perhatian adalah penggabungan frekuensi antara Indosat dan Tri yang menjadikan mereka otomatis sebagai pemegang frekuensi terbesar nomor 2 mendekati pemain terbesar di industri telekomunikasi bergerak yaitu Telkomsel. Permasalahannya adalah jumlah pelanggan dari gabungan Tri dan Indosat jauh lebih sedikit dari jumlah pelanggan Telkomsel. Gabungan Indosat Tri memiliki pelanggan sekitar 98 juta pelanggan, sementara Telkomsel 170 juta. 

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) akan memasukkan perhitungan frekuensi dalam pertimbangan penguasaan pasar. Dengan demikian posisi dominan di market tidak lagi berdasarkan penguasaan pelanggan tapi juga aset perusahaan. KPPU akan menggunakan itu untuk menemukan ada tidaknya persaingan tidak sehat dalam industri telekomunikasi.

Terkait masalah konsultasi publik yang saat ini dijalankan pemerintah guna mendapat masukan dalam menyusun peraturan menteri, Agus Pambagio menyarankan agar pelaku usaha atau akademisi dan juga masyarakat memberikan masukan langsung ke Kementerian Komunikasi dan Informasi.

"Tidak terlalu terpaku dengan jadwal konsultasi publik. Kirim saja masukannya langsung ke Kominfo. Nanti kan tercatat jadwal digitalnya. Sehingga kalau nanti ada masalah, bisa dilihat catatannya bahwa sudah memberikan masukan," tandasnya. (E-1)

Baca Juga

Antara/Indrianto Eko Suwarso

Serapan Program PEN 2021 Sudah Lebih dari Rp200 Triliun

👤M. Ilham Ramadhan Avisena 🕔Kamis 24 Juni 2021, 21:24 WIB
Dia menyebutkan, hingga 18 Juni 2021, realisasi program PEN 2021 telah mencapai Rp226,63 triliun, atau 32,4% dari total anggaran sebesar...
Ist/PG Bungamayang

Mulai Giling, Pabrik Gula Bungamayang Siap Produksi 55 Ribu Ton

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 24 Juni 2021, 20:27 WIB
SEVP Operation I Budi Susilo mengatakan tahun 2021 ini, Pabrik Gula Bungamayang akan memproduksi gula dari 55 ribu ton tebu dari kebun...
Antara/Anis Efizudin.

Kemenhub Ajak Pemda dan Pengelola Tempat Wisata Majukan Kendaraan KSPN

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 24 Juni 2021, 20:01 WIB
Ajakan itu juga diharapkan dapat mendorong prinsip berkelanjutan di tengah kawasan pariwisata. Ini karena layanan itu berdampak baik bagi...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Diplomasi Jalur Rempah di Kancah Dunia

Perjalanan sejarah Indonesia terasa hambar tanpa aroma rempah. Warisan sosial, ekonomi, serta budaya dan ilmu pengetahuan itu kini dikemas dan disodorkan kepada dunia untuk diabadikan.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya