Kamis 18 Maret 2021, 14:40 WIB

Holding Ultra Mikro Perluas Akses Pembiayaan

Despian Nurhidayat | Ekonomi
Holding Ultra Mikro Perluas Akses Pembiayaan

Antara
Ilustrasi sejumlah nelayan yang beraktivitas di pesisir Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

 

KEMENTERIAN BUMN optimistis bahwa integrasi bisnis atau pembentukan holding ultra mikro dari BRI, Pegadaian dan PNM mampu menjangkau pembiayaan dan pemberdayaan usaha ultra mikro lebih luas.

Dalam hal ini, dengan jaringan yang terintegrasi dan tetap menjaga bisnis model masing-masing. "Di mana BRI akan fokus pada KUR, Pegadaian fokus produk gadai dan PNM fokus di produk pemberdayaan Mekaar," ungkap Wakil Menteri II BUMN Kartika Wirjoatmodjo dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI, Kamis (18/3).

Pria yang akrab disapa Tiko, menyebut saat ini terdapat 60 juta nasabah ultra mikro. Lalu, baru setengahnya yang mampu mengakses pembiayaan formal.

Pemerintah pun berupaya memberdayakan dan memberikan akses pembiayaan formal dengan biaya yang lebih murah. Jangkauan menjadi kunci utama dalam pembentukan holding ultra mikro.

Baca juga: Investasi Perusahaan BUMN Mengarah pada Pemulihan Ekonomi

"Kami yakini integrasi tiga entitas usaha ini bisa memberikan layanan usaha yang semakin lengkap, terintegrasi dan luas. Targetnya dalam empat tahun bisa melakukan on board sekitar 30 juta nasabah baru di tiga entitas bisnis ini secara terintegrasi," papar Tiko.

Saat ini, pihaknya tengah melakukan piloting location. Adapun kantor cabang BRI nantinya dilengkapi dengan loket Pegadaian, agar masyarakat bisa menggadaikan barang. Selain itu, kantor cabang BRI juga akan menjadi pos untuk para AO dari Mekaar, yang akan menjangkau pemberdayaan masyarakat. Khususnya, kaum ibu dengan konsep social lending.

"Kami juga tengah menanggapi isu mengenai efisiensi. Kami sudah melakukan berbagai simulasi dan sudah ada KPI-nya. Kami meyakini cost of fund (PNM dan Pegadaian) akan turun dengan cepat," jelasnya. 

Baca juga: Holding Ultra Mikro Ciptakan Ekosistem Terintegrasi bagi UMKM

"Cost of fund BRI itu 2,3%. Sementara kalau kita lihat pembiayaan di PNM dan Pegadaian masih bergantung pada pasar modal. Di mana biaya dana di Pegadaian sekitar 6-7% dan biaya dana di PNM berkisar 9-10%," imbuh Tiko.

Efisiensi lainnya, lanjut dia, dalam konteks jaringan. Ke depan, ekspansi Pegadaian tidak perlu lagi menyewa atau membangun unit baru. Namun, cukup menempel pada unit desa atau cabang BRI. Pegadaian cukup membangun counter dan self deposit untuk menyimpan emas atau barang gadai lain. Sehingga, biaya pembukaan kantor Pegadaian ke depan akan jauh lebih murah.

Dari konteks Mekaar, AO yang bertugas di PNM jumlahnya melampaui 40 ribu. Nantinya, mereka dilengkapi peralatan berbasis digital dan terkoneksi dengan BRI dalam konteks cabang desa BRI maupun agen BRI. Hal itu dapat menghasilkan efisiensi.(OL-11)

Baca Juga

DOK KEMENTAN

E-Commerce: Solusi Jitu Pemasaran Hortikultura di Masa Pandemi Covid-19

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 30 Juli 2021, 10:30 WIB
Memastikan pangan tetap ada, terang Prihasto, adalah tugas Kementerian Pertanian. Tak hanya sampai di sana, usai berproduksi maka poin...
MI/Pius Airlangga

BI Sebut 4 Hal Ini bisa Dorong Akselerasi Pertumbuhan Kredit Perbankan

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 30 Juli 2021, 09:00 WIB
Indonesia sebagai negara berbasis komoditas akan bisa menikmati dampak dari naiknya harga komoditas sehingga  mampu mendorong...
Dok.Ist

Pemerintah Terus Kembangkan Penggunaan Energi Panas Bumi

👤Raja Suhud 🕔Jumat 30 Juli 2021, 08:30 WIB
Kondisi Indonesia mirip dengan Jepang, memiliki potensi energi panas bumi yang cukup besar namun masih rendah...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Atletik Jadi Lumbung Medali

SALAH satu cabang olahraga yang akan sangat menarik untuk disaksikan di Olimpiade 2020 ialah atletik.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya