Minggu 14 Maret 2021, 22:58 WIB

Kementan Kawal Sumba Tengah Kendalikan Belalang Kembara

mediaindonesia.com | Ekonomi
Kementan Kawal Sumba Tengah Kendalikan Belalang Kembara

Ist/Kementan
Petugas Pengendali OPT (organisme pengganggu tambuhan) melakukan pengendalian hama belalang dengan insektisida.

 

POPULASI belalang kembara (Locusta migratoria) di Kecamatan Umbu Ratu Nggay, Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami peningkatan. Hama ini ditemukan di areal padang rumput (savana) dan pertanaman jagung di Desa Tanambanas, Tanambanas Barat, Tanambanas Selatan, Lenang dan Lenang Selatan. 

Bupati Sumba Tengah, Paulus S. K. Limu, cepat tanggap memimpin dan mengerahkan seluruh jajaran terkait seperti Dinas Pertanian, UPT Proteksi Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan, serta BPD Kabupaten untuk turut serta mengendalikan hama belalang kembara.

“Sedini mungkin hama belalang ini harus dikendalikan sebelum membentuk kelompok yang lebih besar dan merusak produksi tanaman jagung,” ungkap Paulus saat dihubungi Minggu (14/3).

Belalang kembara, merupakan spesies polimorfik yang mengalami tiga kali transformasi populasi yaitu fase soliter, fase transisi, dan fase gregarius. Serangga ini dapat berubah dari fase soliter menjadi fase gregarius jika terjadi kenaikan kepadatan populasi sehingga belalang kembara fase soliter saling berdekatan dan beragregasi.

Dalam fase soliter, belalang kembara bukanlah merupakan hama yang merusak karena populasinya berada di bawah ambang luka ekonomi dan perilakunya tidak rakus. Tahap berikutnya fase transisi, yaitu ketika populasi belalang kembara sudah cukup tinggi dan mulai membentuk kelompok-kelompok kecil.

Fase transisi, sudah perlu diwaspadai karena apabila kondisi lingkungan mendukung maka belalang kembara akan membentuk fase gregrarius. Fase gregarius, merupakan fase ketika kelompok-kelompok belalang kembara telah bergabung dan membentuk gerombolan besar yang sangat rakus dan merusak.

Gabriel Bara Beni, Kepala UPT Proteksi Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (PTPHP) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), mengerahkan petugas Pengendali OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) untuk segera melakukan pengendalian hama belalang dengan insektisida.

Gabriel menjelaskan gerakan pengendalian harus dilakukan sedini mungkin sebelum belalang kembara membentuk gerombolan besar yang sangat merusak.

"Akan lebih mudah jika pengendalian dilakukan pada saat serangga masih kecil atau instar awal karena pergerakannya masih terbatas,” ujarnya.

Labih lanjut Gabriel menjelaskan gerakan pengendalian hama belalang telah dilakukan oleh tim Direktorat Perlindungan, Dinas Pertanian Sumba Tengah, BPD Sumba Tengah, UPT PTPHP, petugas lapangan dan juga masyarakat yang berada di Kecamatan Umbu Ratu Nggay.

Secara kumulatif, spot serangan belalang kembara di beberapa desa sementara ini dilaporkan sejumlah 500 ha. Luas pengendalian hama belalang yang telah dilakukan hingga saat ini seluas 1.365 Ha.

"Kami menggunakan insektisida yang berbahan aktif beta sipermetrin untuk mengendalikan populasi belalang. Insektisida ini dapat membunuh serangga dengan cepat dan memiliki kadar toksisitas rendah terhadap mamalia," sebutnya.

Gerakan pengendalian OPT merupakan langkah responsif untuk menurunkan populasi hama dan mencegah terjadinya ledakan hama dalam rangka mengamankan produksi pangan nasional. Gerdal OPT dapat dilakukan sebelum terjadinya serangan OPT sebagai langkah preemtif.

"Untuk pengendalian hama belalang, sebaiknya dilakukan ketika populasi belalang masih rendah dan belum menyebabkan kerusakan yang besar,” ujar Mohammad Takdir Mulyadi, Direktur Perlindungan Tanaman Pangan saat meninjau lokasi pertanaman jagung yang terserang hama belalang. 

Bantuan sarana pengendalian berupa mistblower sebanyak 10 unit diberikan oleh Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, untuk memudahkan aplikasi penyemprotan pestisida.

Terpisah, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi, menegaskan dukungannya dalam pengawalan produksi tanaman pangan dari serangan OPT.

Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dinas pertanian tingkat provinsi maupun kabupaten berserta jajarannya hingga petugas lapangan (POPT dan penyuluh) serta masyarakat (petani) selalu bersinergi mengawal pengamanan produksi tanaman pangan dari serangan OPT,” jelas Suwandi.

Hal ini sesuai dengan arahan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo, yaitu semua jajaran Kementan dari pusat sampai daerah harus terus mengawal dan mengamankan produksi pangan nasional dari serangan OPT.(RO/OL-09)

Baca Juga

FOTO/Metro TV

Kebersamaan Kunci Keberhasilan Penanganan Pandemi

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 30 November 2021, 10:38 WIB
Sekretaris Kementerian Koordinator Perekonomian Susiwijono mengatakan kebersamaan merupakan kunci keberhasilan dalam penanganan pandemi...
ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Nilai Tukar Rupiah Berpeluang Naik Dibayangi Varian Omicron

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 30 November 2021, 10:34 WIB
Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa (30/11), berpeluang menguat dibayangi...
Ist/Kementan

Pertama di Serbia, ODICOFF Upaya Peningkatan Perdagangan Pertanian

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 30 November 2021, 09:17 WIB
Dirjen Hortikultura Prihasto Setyanto menyatakan bahwa ODICOFF Serbia merupakan salah satu upaya peningkatan potensi ekspor komoditas...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya