Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
MENTERI Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Suharso Monoarfa menyebut hilangnya daya beli masyarakat akibat pendapatan yang hilang, baik secara langsung dan tak langsung, karena pandemi covid-19 diperkirakan mendekati Rp1.000 triliun.
“Ini yang jelas mengapa konsumsi rumah tangga menurun,” kata Suharo dalam jumpa pers akhir tahun secara virtual, kemarin.
Secara rinci, hilangnya daya beli masyarakat akibat pendapatan yang hilang secara langsung mencapai Rp374,4 triliun. Penyebabnya ialah penurunan jam kerja di sektor industri dan pariwisata dengan utilisasi yang hanya 50%.
Sementara itu, sisanya (dari total hampir Rp1.000 triliun itu), adalah pendapatan masyarakat yang hilang secara tidak langsung yang berasal dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) karena mereka kehilangan pasar.
“Kehilangan 50% jam kerja saja, penghasilan berkurang 50%. Belum lagi hilangnya uang ekstra. Akibatnya, mereka tidak belanja makanan di UMKM. Alhasil UMKM kehilangan pasar,” kata Suharso.
Lebih lanjut ia menjelaskan tingkat utilisasi industri selama pandemi turun menjadi 55,3% dari sebelum pandemi yang mencapai 76,3%. Situasi itu berdampak terhadap 29,12 juta pekerja.
Rinciannya, jumlah pengangguran mencapai 2,56 juta orang, bukan angkatan kerja karena covid-19 mencapai 760 ribu, dan sementara tidak bekerja karena covid-19 mencapai 1,77 juta. Adapun, penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja mencapai 24,03 juta orang.
Proyeksi industri
Di kesempatan berbeda, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memproyeksi investasi sektor industri pengolahan pada 2021 mencapai Rp323,56 triliun, berdasarkan asumsi semua subsektor mampu tumbuh positif.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan proyeksi serapan investasi tersebut berdasarkan asumsi terkendalinya pandemi covid-19 setelah adanya vaksin, sehingga aktivitas ekonomi mulai pulih.
Serapan investasi yang tumbuh positif itu sejalan dengan pertumbuhan industri pengolahan nonmigas yang diproyeksikan naik menjadi 3,95% pada 2021.
“Setelah naik 37,1% dibandingkan periode yang sama di 2019, investasi sektor industri pengolahan di 2021 diproyeksikan akan tetap naik hingga mencapai Rp323,56 triliun,” kata Agus dalam Konferensi Pers Akhir Tahun dan Outlook Industri 2021 secara virtual, kemarin.
Agus menjelaskan investasi diperkirakan menjadi faktor penggerak pertumbuhan sektor industri pada 2021. Adanya UU No 11/2020 tentang Cipta Kerja dan komitmen pemerintah untuk menyelesaikan aturan turunannya sesegera mungkin menjadi daya tarik bagi investor.
Selain itu, kata dia, kontraksi investasi di Indonesia cukup rendah jika dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya di tengah pandemi. Terdapat pula rencana relokasi beberapa pabrik dari Tiongkok yang membuktikan Indonesia menjadi salah satu destinasi investasi pascapandemi covid-19.
Ia menambahkan, hingga September 2020, pertumbuhan investasi industri pengolahan mencapai Rp265,28 triliun, naik sebesar 37,1% dibandingkan periode yang sama di 2019. (Mir/Ant/E-2)
Gaya hidup anak muda dalam mengonsumsi komoditas harian seperti kopi, teh, cokelat, dan produk kelapa sawit memiliki dampak signifikan terhadap keberlanjutan lingkungan dan sosial.
Direktur Ekonomi Celios, Nailul Huda, menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi di kuartal IV 2025 tidak akan mencapai seperti yang ditargetkan pemerintah yakni di angka 5,4-5,6%.
Data Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan volume sampah nasional mencapai 70,6 juta ton pada 2024. Angka ini berpotensi membengkak menjadi 82 juta ton per tahun pada 2045.
MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan tambahan penempatan dana pemerintah di bank Himbara cukup menjaga likuiditas dan transmisi kredit yang optimal.
Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) menyampaikan pandangan resmi terkait dampak tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) terhadap konsumsi masyarakat dan pertumbuhan industri nasional.
Anggaran rumah tangga kelas menengah bergeser ke kebutuhan pokok dan pendidikan, sementara belanja fesyen, makan di luar, serta rekreasi dipangkas atau ditunda.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved