Jumat 18 Desember 2020, 14:45 WIB

Outlook Indonesia 2021: Ekonomi Diprediksi Membaik

Faustinus Nua | Ekonomi
Outlook Indonesia 2021: Ekonomi Diprediksi Membaik

MI/FAUSTINUS NUA
Seminat Outlook Indonesia 2021 yang digelar Universitas Kristen Indonesia, Jumat (18/12).

 

Pandemi covid-19 yang berlangsung hampir setahun penuh pada 2020 telah berdampak pada pertumbuhan ekonomi semua negara di dunia termasuk Indonesia.

Pada triwulan pertama ekonomi Indonesia masih tumbuh 2,97% secara year on year (YoY). Namun memasuki kuartal kedua ekonomi Indonesia mengalami kontraksi di angka -5,32% secara YoY.

"Kuartal III ekonomi mulai ada perbaikan, mulai pulih. Orang sudah mulai menyesuaikan diri, sehingga kontraksinya lebih kecil -3,49% YoY. Dan kuartal IV, pengamatan sepintas saya, orang sudah mulai melakukan kegiatan ekonomi, ada perbaikan," ucap pakar ekonomi keuangan Universitas Kristen Indonesia (UKI) Roy H.M. Sembel dalam diskusi Outlook Indonesia 2021 di Jakarta, Jumat (18/20).

Baca juga: Metro TV Sabet 3 Gelar di KPI Awards, CEO Media Group: Pacu Kreasi

Roy mengungkapka optimismenya terhadap perekonomian Indonesia di awal tahun 2021. Dengan adanya vaksin yan akan segera dibagikan, maka potensi ekonomi Indonesia sangatlah besar.

Lebih lanjut, investasi asing juga akan terus masuk ke Tanah Air. Pasalnya di era teknologi, munculnya mobil listrik telah memberi harapan baru. Apalagi Indonesia memiliki sumber daya yang luar biasa banyak untuk pembuatan battery mobil listrik.

Selain itu, UMKM Indonesia mempunyai potensi besar untuk terus berkembang yang didukung dengan digitalisasi. Begitu pun dengan bonus demografi yang menjadi keunggulan bangsa Indonesia bila dimaksimalkan.

"Yang pasti pertumbuhan ekonominya sudah bisa lebih baik, karena penyesuaian sudah ada, ada digital ekonomi, vaksinnya sudah ada. Ada optimisme di situ," tuturnya.

Rektor UKI Dhaniswara K. Harjono selaku pakar pembangunan ekonomi mengatakan bahwa kebijakan pembatasan karena Covid-19 berdampak besar pada ekonomi nasional. Namun, dibalik musibah tersebut ada berkah di mana masyarakat atau pelaku usaha dipaksa untuk lebih kreatif dan inovatif.

Meski tengah dilanda krisis, Indonesia mampu menghadirkan produk hukum baru yang memberi harapan yakni Omnibus Law atau UU Cipta Kerja. "Sekarnaga kalau kita bikin peusahaan mudah gak perlu banyak modal, kalo dulunya minimal Rp50 juta sekarang gak ada," terangnya mengutip salah satu sisi positif dari Omnibus Law.

Menurut Dhaniswa, memang ada pro kontra terkait UU tersebut dan itu merupakan hal yang wajar dalam berbangsa dan bernegara. Hukum adalah panglima tertinggi di negeri ini, sehingga konsen publik tersebut patut diapresiasi.

Dia menilai, dengan adanya Omnibus Law tersebut, Indonesia bisa memaksimalkan bonus demografinya. Mengingat, bonus demografi layaknya pedang bermata dua, bila tidak dipersiapkan saat seperti menyediakan lapangan pekerjaan, justru akan berdampak buruk di masa depan.

"Prosepek bonus demografi mulai 2020, puncak di 2030 dan berakhir 2040. Bonus demografi ini seperti pisau bermata dua, kalai tidak hati-hati ini akan membawa malapetaka, sehingga usia-usia profuktif ini harus kita siapkan dengan baik," tambahnya.

Meski demikian, Indonesia menurutnya masih punya pekerjaan rumah seperti kesenjangan sosial. Di tahun 2021, dia berharap ada perbaikan pada masalaj tersebut.

Pakar hukum bisnis UKI Hulman Panjaitan menilai ada perbaikan dalam penegakan hukum di Tanah Air. Isu mafia peradilan di 2020 berkurang dibandingakan dengan tahun-tahun sebelumnya.

"KPK itu ternyata tidak tumpul, saya catat dari periode pertama 85 orang, yang ditahan 61 orang. Kemudian ada 160 perkara korupsi yang sudah disidik," ungkapnya.

Di samping itu, di tengah pandemi legislatif pun masih mampu mengahdirkan produk hukum baru termasuk Omnibus Law yang ramah investor. Dari 11 UU di twhun 2020, 7 diantaranya adalah UU yang berkaitan dengan hukum ekonomi atau bisnis.

Untuk tahun 2021, lanjutnya, peluang petumbuhan ekonomi Indonesia tentu makin besar karena Indonesia akan kembali merumuskan Ombus Law pajak.

Sementara itu, Angel Damayanti pakar Hubungan Internasional menambahkan bahwa perkembangan dunia internasional akan sangat berdampak pada Indonesia. Sepanjang tahun 2020 yang sulit ini ada harapan-harapan yang muncul seperti terpilihnya Joe Biden untuk menggantikan Donald Trump sebagai Presiden AS.

Biden, kata dia, akan memiliki kebijakan yang berbeda dengan Trump yang terbilang sangat protektif. Mantan wakil presiden Obama itu dinilai akan kembali memperbaiki hubungannya dengan Tiongkok sekaligus meredakan pe4ang dagang yang juga berdampak pada negera-negara lain seperti di kawasan ASEAN.

"Biden naik ada banyak harapan, Biden kan pernah jadi wakilnya Obama yang dekat dengan Indonesia. Kalau dia jadi seperti Obama, US privat di Asia akan semakin tinggi. Paling tidak ada keseimbangan kekuatan," imbuhnya.

Adapun, membaiknya hubungan beberapa negara arab dan Israel menjadi tantangan baru Indonesia di 2021. Sikap Indonesia yang tegas mendukung Palestina akan dihadapi dengan berbagai isu-isu baru ke depan.

Baca Juga

MI/Dwi Apriani

Pusri Tandatangani Kontrak Gas Dengan Medco

👤Dwi Apriani 🕔Jumat 03 Desember 2021, 11:15 WIB
PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Palembang, Sumsel menandatangau dokumen perjanjian jual beli gas (PJBG) dengan PT Medco E&P...
dok.Ant

Pengertian dan Perbedaan Iklan Media Cetak - Elektronik

👤Nabil 🕔Jumat 03 Desember 2021, 11:15 WIB
MEMANFAATKAN media cetak untuk mempromosikan sebuah produk adalah cara yang sudah sangat lazim dilakukan oleh banyak orang sejak...
dok.ist

Wege Bangun PIDI 4.0, Jendela Digitalisasi Indonesia

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 03 Desember 2021, 08:31 WIB
KEMENTERIAN Perindustrian (Kemenperin) meluncurkan  Pusat Industri Digital Indonesia 4.0 (PIDI...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya