Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
BANK Indonesia mencatat kebutuhan pembiayaan korporasi semakin meningkat pada November 2020. Hasil survei permintaan pembiayaan perbankan korporasi mengindkasikan permintaan pembiayaan pada November 2020 meningkat, dengan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 12,1%, atau lebh tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 2,3%.
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono mengatakan sejumlah sektor dengan kebutuhan pembiayaan yang meningkat antara lain pertambangan dan penggalian (2,41%), perdagangan besar dan eceran (2,06%), serta pertanian kehutanan, dan perikanan (1,55%).
Sektor ini membutuhkan pembiayaan terutama untuk mendukung aktivitas operasional (79,1%), membayar kewajiban yang jatuh tempo (38,4%) dan mendukung pemulihan pasca era new normal (38,4%).
"Kebutuhan pembiayaan yang meningkat sebagian besar dipenuhi dari dana sendiri (53,5%), pinjaman ke perbankan di dalam negeri (8,1%) dan pinjaman utang dari perusahaan induk (8,1%)," kata Erwin melalui pernyataan resmi yang diterima, Jumat (18/12).
Responden yang memilih menggunakan dana sendiri beralasan karena kemudahan dan kecepatan perolehan dana (54,2%) dan optimalisasi fasilitas eksisting (22%).
Sementara responden yang memilih untuk menambah pinjaman ke perbankan dalam negeri lebih karena kemudahan dan kecepatan perolehan dana (75%) dan biaya suku bunga yang lebih murah (25%).
Adapun responden yang memilih melakukan pinjaman/utang dari perusahaan afilasi/induk berpendapat bahwa kemudahan dan kecepatan perolehan dana (100%) menjadi faktor utama.
Dari survei, Bank Indonesia memprakirakan kebutuhan pembiayaan dalam tiga bulan yang akan datang atau pada Februari 2021 akan meningkat.
Keyakinan ini terindikasi dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 18,6%, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang sebesar 15,1%.
Peningkatan kebutuhan pembiayaan 3 bulan ke depan dindokasi terjadi pada sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, lalu perdagangan besar dan exeran, transportasi dan pergudangan, informasi dan komunikasi, serta jasa pendidikan.
Responden menjawab kebutuhan pembiayaan tersebut terutama dipenuhi dari dana sendiri (63,4%), pinjaman/utang dari perusahaan induk (17,9%), dan pinjaman perbankan dalam negeri (15,2%).
Pembiayaan tersebut dibutuhkan untuk mendukung aktivitas operasional (87,5%), mendukung pemulihan permintaan domestik pasca penerapan new normal (31,3%) dan membayar kewajiban jatuh tempo yang tidak dapat di roll over (23,2%).
Kredit Rumah Tangga
Sedangkan untuk kebutuhan pembiayaan rumah tangga pada November 2020, responden yang mengajukan penambahan pembiayaan melalui utang mayoritas memperolehnya dari Bank Umum (33,8%), diikuti dari teman (15,4%) dan koperasi (15,1%).
Porsi responden yang mengajukan pembiayaan dari perbankan, teman dan koperasi meningkat dari bulan sebelumnya yang masing-masing sebesar 23,38%, 14,8%, dan 14,8%. Sedangkan yang menurun adalah pengajuan pembiayaan dari leasing dari 15,5% menjadi 14,8% dan fintech dari 9,2% menjadi 6,8%
Sementara itu, jenis pembiayaan yang paling banyak diajukan oleh rumah tangga pada November 2020 adalah Kredit Multi Guna (KMG) (35,7%), diikuti Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) (19,4%) dan Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) (8,5%).
Pengajuan KMG pada bulan November 2020 meningkat dari Oktober yang sebesar 27,2%. Sementara jenis kredit lain mengalami penurunan dari bulan sebelumnya.
Selanjutnya jika dirinci menurut tingkat pengeluaran, pengajuan pembiayaan pada November 2020 mayoritas diajukan oleh rumah tangga dengan tingkat pengeluaran Rp1-3 juta per bulan (52,9%) meningkst meningkat dari Oktober 2020 yang sebesar 50,8%.
Kenaikan pengajuan pembiayaan pada rumah tangga juga terjadi pada rumah tangga dengan pengeluaran di atas Rp 5 juta per bulan, yaitu dari 10,5% menjadi 11,4%.
Tapi pada rumah tangga dengan pengeluaran Rp3-5 juta per bulan terjadi penurunan permintaan kredit dari 38,6% pada Oktober menjadi 35,7% di November.
"Rumah tangga menyatakan tingkat suku bunga masih menjadi aspek pertimbangan utama dalam mengajukan pembiayaan pada November 2020 (35,9%). Faktor lainnya antara lain adminstrasi seperti kelengkapan berkas pengayuan kredit, persyaratan, dan sebagainya (20,9%), serta faktor persetujuan dari lembaga peminjam (16,6%)," kata Erwin.
Kebutuhan Pembiayaan Rumah Tangga ke Depan
Pada November 2020, sebanyak 9,3% dari responden yang tidak melakukan penambahan pembiayaan di bulan laporan berencana untuk melakukan penambahan pembiayaan pada waktu ke depan. Pangsa responden yang memiliki rencana pembiayaan ke depan tersebut lebih rendah dari Oktober 2020 yang tercatat sebanyak 14%.
Rumah tangga masih menjadikan Bank umum sebagai preferensi utama sumber pembiayaan apabila akan mengajukan pembiayaan di masa mendatang (56,2%). Prioritas alternatif sumber pembiayaan responden rumah tangga selanjutnya adalah dari koperasi (15,3%), teman (9,5%), serta leasing (8,9%).
Sementara menurut jenis pembiayaan, KMG masih menjadi prioritas utama rencana rumah tangga dalam pengajuan pembiayaan ke depan (47,6%), kemudian KPR dan KKB dengan pangsa masing-masing 17,5% dan 15,1%. (OL-2)
GUBERNUR Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan berdasar kajian kondisi perekonomian sepanjang 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 diperkirakan berada pada kisaran 4,7%-5,5%.
Thomas Djiwandono mengusulkan agar pemerintah dan bank sentral meninggalkan skema burden sharing yang diterapkan pada masa pandemi covid-19.
DEPUTI Gubernur Bank Indonesia (BI) terpilih Thomas Djiwandono mengaku tidak pernah ada pembahasan langsung dengan Presiden Prabowo Subianto terkait penunjukan dirinya.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk meninggalkan sikap wait and see atau bereaksi menunggu terhadap dinamika pasar.
GUBERNUR Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan bank sentral melakukan intervensi di pasar keuangan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.
GUBERNUR Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan masih terbuka peluang penurunan lanjutan suku bunga acuan atau BI Rate pada tahun ini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved