Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
HYUNDAI Engineering Co., Ltd., perusahaan Engineering, Procurement dan Construction (EPC) asal Korea Selatan, akan kembali menunjukkan kompetensinya di Indonesia melalui Pembangunan Pusat Produksi Olefin dan Aromatic milik PT Trans-Pacific Petrochemical Indotama (TPPI), yang merupakan anak usaha dari PT. Pertamina (Persero).
Hal ini diketahui setelah Hyundai Enginering Co., Ltd., yang merupakan pimpinan dari JO Hyundai Engineering Co., Ltd - Saipem S.p.A - PT. Rekayasa Industri - PT, Enviromate Technology International (JO Hyundai Engineering Co., Ltd.) dinyatakan sebagai salah satu bidder yang lolos dalam tender Design Build Competition (DBC) TPPI Olefin Complex Development, bersama dengan satu bidder lainnya yaitu Konsorsium Technip Italy S.p.A – PT. Tripatra Engineers & Constructors – PT. Technip Indonesia – Samsung Engineering Co., Ltd. (Consortium Technip).
Pertamina melaksanakan tender dengan Strategi Kontrak Design Build Competition (DBC), yaitu menetapkan dua penawar terbaik untuk melaksanakan pekerjaan Design, yang mencakup pemilihan Technology/Licensor, dan pekerjaan design (BED & FEED). Selanjutnya untuk ruang lingkup EPC nantinya akan dipilih satu pemenang yang lebih kompetitif dari sisi biaya dan harga, untuk melaksanakan konstruksi.
Proses tender ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk segera mewujudkan harapan Pemerintah Indonesia dalam menekan angka impor Migas.
Proyek dengan investasi senilai Rp50 triliun atau dikenal dengan TPPI Olefin Complex ini bakal memproduksi High Density Polyethylene (HDPE) sebanyak 700 ribu ton per tahun, Low Density Polyethylene (LDPE) sebanyak 300 ribu ton per tahun, dan Polipropilena (PP) 600 ribu ton per tahun.
Mengingat pentingnya proyek ini bagi bangsa Indonesia, PT Pertamina (Persero) selaku pemilik 51 persen saham PT TPPI mendesain jalannnya proses tender DBC TPPI Olefin Complex dengan bersih dan transparan. Bahkan seluruh proses tender ini dijalankan oleh Pertamina dengan pendampingan dari Tim Jamintel, Bareskrim Polri, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan juga berkonsultasi dengan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), sehingga Governance-nya sangat terjaga dengan baik.
"Kami sangat bersyukur proses tendernya berjalan lancar, bersih, dan transparan dan sesuai dengan harapan kita bersama. Sehingga proyek ini dapat segera terealisasi, dan Hyundai Engineering Co., Ltd. akan kembali memberikan sumbangsihnya bagi perekonomian bangsa Indonesia,” ujar VP Corporate Secretary Hyundai Engineering Co., Ltd, Eum Hong Seok, melalui keterangan tertulisnya, Selasa (29/9).
Eum Hong Seok menepis tudingan negatif dari sejumlah oknum yang tengah beredar saat ini terkait rekam jejak pengalaman Hyundai Engineering Co., Ltd. dalam mengerjakan proyek serupa dalam 20 tahun terakhir. Sebagaimana diketahui, salah satu poin syarat yang ditetapkan panitia tender adalah leader (pimpinan) konsorsium wajib memiliki pengalaman membangun EPC proyek serupa dan bertindak sebagai pimpinan konsorsium dalam 20 tahun terakhir.
Telah di verifikasi dan terkonfirmasi bahwa Hyundai Engineering Co., Ltd telah memiliki pengalaman dalam membangun proyek serupa sampai selesai dalam 20 tahun terakhir, yaitu pada proyek Petrochemical Complex di Turkmenistan.
“Hyundai Engineering Co., Ltd. telah berhasil menyelesaikan pekerjaan EPC proyek Petrochemical Complex di Turkmenistan pada tahun 2018. Pengalaman pada proyek inilah yang menjadi bukti bahwa Hyundai Engineering Co., Ltd merupakan perusahaan EPC yang kompeten, dan layak untuk terpilih menjadi bidder yang lolos dalam tender TPPI Olefin Complex,” ungkap Eum Hong Seok.
Tudingan lain dari sejumlah oknum adalah dengan mengaitkan Hyundai Engineering Co., Ltd. dengan kasus suap yang tengah menjerat Hyundai Engineering & Construction Co., Ltd pada proyek PLTU Cirebon 2. Namun fakta sebenarnya mengatakan bahwa Hyundai Engineering & Construction Co., Ltd. (HDEC) dan Hyundai Engineering Co., Ltd (HEC) merupakan dua entitas usaha yang berbeda.
"Bersama ini saya tegaskan kembali faktanya bahwa Hyundai Engineering & Construction Co., Ltd. (HDEC) dan Hyundai Engineering Co., Ltd (HEC) merupakan dua entitas usaha yang berbeda. Hal ini pun telah disampaikan oleh management Hyundai Engineering Co., Ltd (HEC) kepada management Pertamina dan panitia tender, dan telah dikuatkan oleh surat pernyataan dari Kedutaan Besar Korea Selatan di Indonesia yang menyatakan bahwa kedua entitas usaha tersebut adalah berbeda”, tegas Eum Hong Seok.
Ia menambahkan “Saya sangat yakin bahwa tudingan tidak baik ini dihembuskan oleh pihak yang ingin menjatuhkan nama baik Hyundai Engineering Co., Ltd, sehingga realisasi proyek ini dapat tertunda atau bahkan dibatalkan”.
Sebagai informasi, Hyundai Engineering Co., Ltd. merupakan perusahaan Engineering, Procurement dan Construction (EPC) yang berasal dari Korea Selatan, dan merupakan organisasi EPC terbesar di Korea Selatan. Sepak terjangnya di kancah dunia telah menjadikan Hyundai Engineering Co., Ltd. sebagai salah satu kontraktor terbaik di dunia.
Di Indonesia, Hyundai Engineering Co., Ltd. telah mengukir pengalamannya sejak tahun 1992 melalui proyek PLTP Darajat, di Jawa Barat. (OL-13)
Baca Juga: Presiden Minta Kilang TPPI Tuban Rampung 3 Tahun
Pertamina menegaskan BBM subsidi untuk nelayan terbagi dalam JBT, JBKP, dan JBU. Nelayan perlu memahami perbedaannya agar akses BBM tepat sasaran.
Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menyebut kegiatan bermain golf yang dilakukannya saat menjabat sebagai Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) sebagai hal yang lumrah.
Ahok menyatakan tidak pernah mendapat laporan mengenai hal tersebut. Ahok mengaku tidak mengenal Riza Chalid.
Ahok mengungkapkan kekecewaannya terhadap kebijakan subsidi energi yang selama ini diterapkan pemerintah.
Ahok membongkar potensi keuntungan jumbo yang menguap akibat tidak dijalankannya transformasi sistem subsidi energi.
Menjawab pertanyaan jaksa, Ahok yang merupakan Komisaris utama Pertamina periode 2019-2024 mengaku belum bergabung dengan Pertamina.
Fakta persidangan telah membuktikan nilai Rp 2,9 triliun bukanlah kerugian negara. Nilai itu adalah pembayaran Pertamina atas penyewaan tangki BBM milik PT OTM.
MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadahlia mengatakan akan menyetop impor solar untuk stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) swasta di 2026.
Airlangga Hartarto optimistis Indonesia dapat mewujudkan swasembada solar dan mengurangi ketergantungan impor solar setelah RDMP Balikpapan diresmikan
MENTERI ESDM Bahlil Lahadalia optimistis dengan adanya kilang minyak atau Refinery Development Master Plan (RDM) Balikpapan sehingga Indonesia tak lagi impor bbm solar
Modernisasi Kilang Minyak Balikpapan merupakan proyek strategis yang mencakup revitalisasi kilang eksisting serta pembangunan unit proses dan infrastruktur pendukung.
PRESIDEN Prabowo Subianto bakal meresmikan modernisasi kilang minyak milik Pertamina di Balikpapan, Kalimantan Timur.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved