Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
EKONOM dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah, menilai koreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional yang dilakukan Kementerian Keuangan terbilang realistis sebab dampak dari pandemi covid-19 cukup besar dan melahirkan ketidakpastian.
“Sejak awal saya sudah menyampaikan perkiraan bahwa pertumbuhan ekonomi triwulan III dan triwulan IV akan berada di zona negatif. Oleh karena itu, secara menyeluruh juga pertumbuhan ekonomi kita akan berada di kisaran minus 2%,” ujarnya, kemarin.
Piter menambahkan, proyeksi yang rendah itu tidak serta-merta menandakan pertumbuhan ekonomi pada 2021 akan rendah pula. Penghitungan proyeksi yang dilakukan semua pihak, termasuk bendahara negara, berasumsi pada kondisi yang tidak pasti. “Jika wabah benar-benar bersih di awal 2021, sangat mungkin kita bisa tumbuh sesuai target di angka 4,5% hingga 5,5%,” imbuh Piter.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati kembali merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional pada 2020 menjadi -1,7% hingga -0,6%. Perkiraan itu lebih dalam dari taksiran pertumbuhan sebelumnya di kisaran -1,1% hingga 0,2%.
Koreksi proyeksi pertumbuhan itu berangkat dari perkiraan kondisi perekonomian nasional di triwulan III yang masih di zona negatif. Perbaikan diperkirakan baru akan terjadi hingga mendekati 0% di triwulan IV 2020.
Menurut Menkeu, konsumsi pemerintah akan menjadi satu-satunya senjata melawan pelemahan ekonomi. Oleh karenanya, diperkirakan pertumbuhannya di triwulan III akan mencapai 9,8% hingga 17%.
“Untuk keseluruhan tahun, kita ada antara di positif 0,6% hingga 4,8% untuk konsumsi pemerintah. Jadi pemerintah sudah melakukan all out melalui kebijakan belanja atau ekspansi fiskalnya sebagai cara untuk counter cyclical,” ujarnya dalam konferensi pers secara virtual, kemarin.
Sementara itu, pertumbuhan konsumi investasi dinilai akan tetap berada dalam zona negatif. Diprediksi pada triwulan III, pertumbuhannya -8,5% hingga -6,6% dan secara menyeluruh berada di kisaran -5,6% hingga -4,4%.
Penurunan juga terjadi pada kinerja ekspor. Menkeu memprediksi kinerja ekspor nasional pada triwulan III akan tumbuh di kisaran -13,9% hingga -8,7%. (Mir/X-11)
Purbaya menjelaskan bahwa meskipun kondisi global penuh ketidakpastian, permintaan domestik masih menjadi mesin utama penggerak ekonomi.
LPEI memperkirakan bahwa ekonomi Indonesia masih diperkirakan tumbuh 4-5 persen dengan mempertimbangkan dinamika harga komoditas dan perdagangan global dengan catatan
Batam mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 6,76% secara tahunan (year-on-year) pada 2025. Angka itu menjadikannya sebagai yang tertinggi di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
UBS menggelar UBS OneASEAN Summit untuk ke-14 kalinya dengan menghadirkan lebih dari 850 investor institusional, pembuat kebijakan, serta pemimpin industri dari berbagai negara.
Bank Indonesia (BI) mengapresiasi catatan surplus neraca perdagangan Indonesia pada Januari tahun ini.
Gubernur BI Perry Warjiyo proyeksikan pertumbuhan ekonomi RI triwulan I 2026 tetap kuat di tengah tantangan global. Simak faktor pendorong dan analisisnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved