Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Pusat Statistik (BPS) melakukan survei terhadap pelaku usaha yang terdampak pandemi covid-19. Hasilnya, pelaku usaha berskala kecil maupun besar mengalami penurunan pendapatan.
Adapun survei berlangsung pada 10-26 Juli 2020. Dalam hal ini, penurunan pendapatan terjadi di sektor Usaha Menengah Kecil (UMK) dan Usaha Menengah Besar (UMB)
Survei BPS menyasar 34.559 pelaku usaha. Mayoritas atau 80% merupakan pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).
Baca juga: Indef: Pemerintah Masih Lamban Bantu UMKM
"Covid-19 ini betul-betul memukul dunia usaha, baik UMK maupun UMB. Sebanyak 84% UMK dan 82% UMB mengalami penurunan pendapatan," ungkap Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Selasa (15/9).
Dari survei BPS, juga terlihat sebanyak 59,8% UMK masih beroperasi secara normal. Kemudian, 24% melakukan pengurangan kapasitas, 10,1% berhenti beroperasi, 5,4% bekerja dari rumah dan 0,5% melebihi kapasitas.
Sementara UMB yang masih beroperasi sekitar 49,4% dan pengurangan kapasitas 28;8%. Kemudian, sekitar 5% berhenti beroperasi, 16,3% bekerja dari rumahs dan 0,5% melebihi kapasitas.
Baca juga: BPS: Ekspor Agustus 2020 Alami Penurunan
"Kita lihat ada beberapa pelaku usaha yang kegiatan bisnisnya melebihi normal. Tentunya dengan komoditas tertentu. Di tengah covid-19, industri ini justru mendapatkan keuntungan lebih dibandingkan situasi normal," imbuh Suhariyanto.
Komoditas usaha yang menuai keuntungan ialah industri jamu, penjualan masker, penjualan sepeda, hingga penjualan jasa internet. Diketahui, hanya 13% UMK yang pendapatannya tetap dan 2% pendapatannya cenderung meningkat.
Sementara itu, 14% UMB menyebut pendapatannya tetap dan 3% pendapatannya meningkat. Banyak pelaku usaha akomodasi, makanan, dan minuman terdampak cukup dalam dengan persentase 92,47%.
Baca juga: Berjuang Saat Pandemi, UMKM Butuh Pendampingan
Kemudian, pelaku usaha sektor transportasi dan pergudangan juga terdampak sekitar 90,34%. Adapun 87,94% pelaku kontruksi juga mengalami penurunan pendapatan dan pelaku industri pengolahan 85,98% juga mengalami hal serupa.
"Ada sektor perdagangan yang 84,60% pelaku usahanya mengalami penurunan pendapatan. Jasa lainnya sebanyak 90,90%. Bila dibandingkan kuartal II 2020, survei ini sangat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang terkontraksi," tandasnya.(OL-11)
DALAM lima tahun terakhir, harga beras di tingkat konsumen terus naik.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Februari 2026 secara tahunan (yoy) tercatat sebesar 4,76%, berbanding terbalik dengan kondisi Februari 2025 yang mengalami deflasi 0,09%.
BADAN Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor Indonesia pada Januari 2026 mencapai 22,16 miliar dolar AS atau tumbuh 3,39 persen dibandingkan Januari 2025
BPS beberkan data perdagangan RI di jalur Selat Hormuz di tengah konflik Iran-Israel. Intip nilai ekspor-impor miliaran dolar yang terancam jika jalur ini lumpuh.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor mencapai US$22,16 miliar. Angka itu meningkat 3,39% secara tahunan.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 mencatat surplus sebesar 0,95 miliar dolar AS.
Thomas Djiwandono mengusulkan agar pemerintah dan bank sentral meninggalkan skema burden sharing yang diterapkan pada masa pandemi covid-19.
Melihat ancaman besar terhadap keberlanjutan layanan kesehatan dasar, dr. Harmeni mendirikan Symptomedic, platform telemedisin dan layanan pengantaran obat.
ANCAMAN kesehatan global kembali muncul dari Tiongkok. Setelah virus corona yang menyebabkan pandemi covid-19, kali ini virus baru influenza D (IDV) ditemukan.
Sengketa gaji Cristiano Ronaldo dengan Juventus terkait penundaan pembayaran saat pandemi covid-19 masih berlanjut. Putusan arbitrase dijadwalkan 12 Januari 2026.
Teknologi vaksin mRNA, yang pernah menyelamatkan dunia dari pandemi covid-19, kini menghadapi ancaman.
Menteri Kesahatan AS Robert F. Kennedy Jr. membuat gebrakan besar dengan mencabut kontrak dan membatalkan pendanaan proyek vaksin berbasis teknologi mRNA, termasuk untuk covid-19.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved