Kamis 10 September 2020, 10:55 WIB

Migrasi Pengguna LPG ke Kompor Induksi Listrik akan Hemat APBN

M Iqbal Al Machmudi | Ekonomi
Migrasi Pengguna LPG ke Kompor Induksi Listrik akan Hemat APBN

MI/Andri Widiyanto
Gas LPG untuk konsumsi rumah tangga

 

PENGAMAT Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi menilai langkah Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero untuk mendorong penggunaan kompor industri listrik akan menghemat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Termasuk rencana migrasi 1 juta pengguna kompor liquefied petroleum gas (LPG) ke kompor industri listrik. Hal itu disampaikan Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini untuk mendorong penggunaan kompor induksi listrik di masyarakat.

"Migrasi itu akan menghemat dana APBN dalam jumlah besar, yang selama ini untuk membiayai impor dan subsidi LPG. Lebih dari 70% kebutuhan LPG di dalam negeri harus diimpor, sehingga selain membebani APBN, juga ikut memperbesar defisit neraca perdagangan migas dalam beberapa tahun terakhir ini," ujar Fahmy melalui keterangan tertulisnya, Kamis (10/9).

Sedangkan subsidi terhadap gas melon cenderung meningkat setiap tahunnya. Pada 2019, subsidi gas melon kembali naik hingga mencapai sebanyak 6,97 juta metric ton atau senilai Rp75,22 triliun.

"Subsidi itu lebih besar ketimbang subsidi listrik yang mencapai Rp62,2 triliun pada periode yang sama," ucap Fahmy.

Baca juga: DPR Keberatan Pemerintah Turunkan Volume LPG Subsidi 3 Kg

Menurut Fahmy, migrasi dari kompor gas ke kompor listrik induksi akan berhasil digunakan seluruh lapisan masyarakat, termasuk pelanggan listrik 450 VA, jika kompor listrik yang digunakan berdaya listrik rendah, maksimal 150 watt.

"Dengan penggunaan daya listrik yang rendah, biaya kompor induksi jatuhnya bisa lebih murah ketimbang biaya penggunaan kompor LPG 3 kg," tuturnya.

Data menunjukkan, biaya untuk memasak 10 liter air menggunakan kompor LPG sebesar Rp2.055, sedangkan biaya untuk kompor induksi hanya Rp1.426. Migrasi secara masif juga dapat mengatasi potensi kelebihan pasokan (over supply) listrik PLN pasca selesainya proyek listrik 35.000 MW.

Selain itu, migrasi ke kompor listrik juga akan memicu berkembangnya industri kompor listrik induksi berdaya listrik rendah di Indonesia.

"Penggunaan kompor listrik secara luas memang lebih ramah lingkungan daripada kompor gas. Namun, PLN juga harus melakukan migrasi penggunaan energi primer dari energi fosil ke energi baru terbarukan (EBT), yang lebih ramah lingkungan," jelasnya.

"Tanpa peningkatan penggunaan EBT dalam pembangkit listrik PLN, penggunaan kompor listrik tidak akan memberikan kontribusi signifikan terhadap pengurangan pencemaran udara," pungkasnya.(OL-5)

Baca Juga

Ist/BP Batam

Perintah Presiden, Pelabuhan Batu Ampar Mulai Bersih dari Gudang

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 17 Mei 2021, 21:26 WIB
Pemerintah Pusat meminta BP Batam agar mengubah Pelabuhan Batu Ampar menjadi Pelabuhan yang modren dan lebih...
Antara/Mohamad Hamzah

Realisasi dan Serapan Program PEN 2021 Dinilai Lebih Baik

👤M. Ilham Ramadhan Avisena 🕔Senin 17 Mei 2021, 20:53 WIB
“Realisasi Program PEN saya kira relatif lebih baik dari tahun lalu. Walaupun perbaikan itu utamanya lebih didukung di sektor-sektor...
Antara/Indiranto Eko Suwarso

Dukung Impor Bawang Putih, KPPU : Jaga Stok Dalam Negeri

👤Insi Nanrtika Jelita 🕔Senin 17 Mei 2021, 20:32 WIB
Wakil Ketua KPPU Guntur Syahputra Saragih berpendapat, hampir dipastikan tidak ada produk subsitusi di dalam negeri yang cukup alias...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Optimalkan Potensi Zakat, Ekonomi Bergerak

Berdasarkan data outlook zakat Indonesia pada 2021 yang dipublikasikan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), potensi zakat Indonesia mencapai Rp327,6 triliun.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya