Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
KALANGAN pengusaha masih belum yakin sepenuhnya akan kondisi perekonomian ke depan.
Menurut Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani hal itulah yang jadi penyebab pengusaha belum berani mengambil tambahan kredit modal kerja.
“Kalau spekulasi cashflow-nya nanti meleset dan perusahaan tidak dapat membayar kewajiban, credit rating perusahaan akan memburuk. Akibatnya, bisa terjadi masalah finansial baru dan juga backfire kepada profil kesehatan usaha dan valuasi perusahaan bila perusahaan mau mencari sumber modal lain, misalnya, dengan merger atau corporate actions lainnya,” jelas Shinta saat dihubungi, kemarin.
Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memaparkan bahwa dari berbagai jenis kredit yang ada, hanya kredit modal kerja yang mencatatkan pertumbuhan negatif. Kredit investasi dan konsumsi masih mencatatkan pertumbuhan positif.
Oleh karena itulah, OJK terus mengupayakan agar permintaan kredit bisa meningkat ke depannya.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah mengatakan yang perlu dilakukan pemerintah untuk menggenjot permintaan kredit itu ialah segera menyelesaikan pandemi wabah.
Selama wabah masih berlangsung, masyarakat terbatasi aktivitas sosial dan konsumsi ekonominya. Itu yang membuat pelaku usaha membatasi produksinya.
“Itu yang mengakibatkan pertumbuhan atau konsumsi di Indonesia turun. Lalu tidak ada insentif, tidak ada dorongan pengusaha untuk produksi. Bila dia tidak produksi tentu tidak dibutuhkan modal kerja,” ujarnya.
Shinta sependapat bahwa penanganan pandemi menjadi sebuah prasyarat guna mendorong pertumbuhan produksi dan permintaan ke depan.
“Meskipun ada stimulus konsumsi kepada masyarakat, kami khawatir efeknya tidak akan cukup besar terhadap peningkatan konsumsi bila pandemi di level nasional tidak segera dikendalikan,” tandasnya. (Try/E-1)
PERTUMBUHAN kredit industri fintech peer-to-peer (P2P) lending atau pinjaman daring (pindar) pada 2026 berada di level dua digit.
Per Desember 2025, kredit perbankan tumbuh sebesar 9,63% secara tahunan (yoy) ditopang penyaluran kredit investasi yang tinggi.
Kebutuhan masyarakat terhadap akses kredit digital yang cepat, mudah, dan terjangkau terus meningkat, terutama di luar kota-kota besar.
Keterbatasan akses pembiayaan masih menjadi persoalan besar bagi pelaku usaha di Indonesia, khususnya UMKM dan generasi muda.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, daya beli masyarakat kelas menengah masih membutuhkan dukungan kebijakan.
Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Hery Gunardi mengungkapkan fasilitas pinjaman perbankan yang belum ditarik atau undisbursed loan masih cukup tinggi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved