Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Harga Emas Naik Setelah Terkoreksi Tiga Hari Berurut-Turut

Antara
29/5/2020 08:27
Harga Emas Naik Setelah Terkoreksi Tiga Hari Berurut-Turut
HARGA emas berjangka naik pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB) setelah selama tiga hari berturut-turut jatuh.(ANTARA)

HARGA emas berjangka naik pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB) setelah selama tiga hari berturut-turut jatuh. Harga emas terangkat oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok, namun memangkas keuntungan di sesi awal menyusul kenaikan di Wall Street.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Agustus di divisi COMEX New York Mercantile Exchange naik US$1,5 atau 0,09%, menjadi ditutup pada US$1.728,30 per ounce.

Emas berjangka melemah US$1,4 atau 0,08% menjadi US$1.726,8 pada Rabu (27/5), setelah jatuh US$29,9 atau 1,72% menjadi US$1.705,60 pada Selasa (26/5), dan turun US$8,20 atau 0,47% menjadi US$1.726,40 pada Senin (25/5).

"Ekuitas AS telah mendapat dukungan sepanjang hari," kata Phil Streible, kepala strategi pasar di Blue Line Futures di Chicago. 

Ia menambahkan banyak investor melikuidasi posisi emas mereka karena takut kehilangan perdagangan ekuitas.

Indeks utama Wall Street naik, didorong oleh kenaikan saham kesehatan dan teknologi.

Namun, harga emas didukung oleh tanda-tanda baru pukulan ekonomi dari virus korona, serta meningkatnya ketegangan AS-Tiongkok dengan pemerintahan Trump mencari opsi untuk menghukum Tiongkok atas pengetatan cengkeramannya terhadap Hong Kong.

"Kami melihat ketegangan meningkat antara AS dan Tiongkok ... Kami melihat buih pasar masih dengan sekumpulan data ekonomi negatif dan itu jelas mendukung pasar emas," kata David Meger, direktur perdagangan logam di High Ridge Futures.

Baca juga: Bank Terus Pacu Restrukturisasi Kredit

Emas juga mendapat dukungan karena laporan yang dirilis oleh Departemen Tenaga Kerja AS pada Kamis (28/5/2020), menempatkan klaim pengangguran awal pada 2,12 juta pekan lalu, angka yang sesuai dengan harapan, tetapi masih dekat level rekor tertinggi.

Sebuah laporan yang dirilis oleh Departemen Perdagangan AS pada hari yang sama menunjukkan produk domestik bruto mengalami penurunan sebesar lima persen pada kuartal pertama 2020, lebih buruk dari yang diperkirakan.

Kekhawatiran tentang kemungkinan suku bunga negatif, sebuah ide yang dilayangkan oleh Presiden AS Donald Trump dalam cuitannya dalam beberapa pekan terakhir juga masih bertahan. Suku bunga negatif berarti inflasi, prospek yang mendukung emas.

"Kami telah menguji US$1.700 dan bangkit kembali, jadi kami menantikan pasar terus memperkirakan lebih banyak stimulus dari Federal Reserve dan bank-bank sentral lainnya," kata Bart Melek, kepala strategi komoditas di TD Securities.

Langkah-langkah stimulus besar cenderung mendukung emas, yang sering dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan penurunan nilai mata uang.

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Juli naik 21 sen atau 1,18%, menjadi ditutup pada US$17,967 per ounce. Platinum untuk pengiriman Juli turun US$10 atau 1,14%, menjadi menetap ada US$868,1 per ounce. (A-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dwi Tupani
Berita Lainnya