Headline
Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.
Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.
Kumpulan Berita DPR RI
Saat ini fintech syariah yang terdaftar sebagai peer to peer lending hanya 12 dari 144 perusahaan.
KEHADIRAN layanan finansial berbasis teknologi (fintech) secara syariah diharapkan menjadi pendobrak terhadap kondisi industri keuangan syariah di Indonesia yang selama ini cenderung stagnan. Saat ini dianggap sebagai momentum bagi fintech syariah untuk beraksi agar tidak tertinggal dengan negara lain.
"Keberadaan fintech yang mengaplikasikan teknologi dapat mendorong pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia. Pasalnya, dalam 25 tahun terakhir, lembaga keuangan syariah yang sudah ada terbukti stagnan," tutur Ketua Umum Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI) Ronald Yusuf Wijaya saat dihubungi Media Indonesia, kemarin.
Sejumlah faktor ditengarai menjadi penyebab stagnasi tersebut. Misalnya, literasi yang tidak berhasil sehingga keuangan syariah hanya menjadi produk dan bukan sebagai konsep. Akibatnya, produknya hanya menjadi opsional semata jika dibandingkan dengan konvensional.
Karena itu, fintech hadir bukan sebagai pengganggu bagi perbankan syariah, melainkan sebagai pelengkap yang mendorong keuangan syariah. Selain itu, fintech dapat mendorong orang menabung di bank syariah.
Menurut Ronald, fintech syariah sekarang tidak sebanyak dengan fintech konvensional. Saat ini fintech syariah yang terdaftar sebagai P2P (peer to peer) lending hanya 12 dari 144 perusahaan dan 12 perusahaan lain masuk kategori inovasi keuangan digital.
Perkembangan di novasi keuangan digital lebih cepat lantaran lebih luas dalam eksplorasi pada akad syariah. P2P lending syariah masih belum banyak karena regulasinya cukup ketat.
Tantangan lain pada fintech syariah, lanjutnya, yaitu perizinan yang yang tidak hanya dari satu departemen, tetapi lebih banyak jika dibandingkan dengan konvensional. "Tiga kali lebih rumit (jika dibandingkan dengan konvensional). Tapi pada saat yang sama itu juga memberi kredibilitas sehingga seharusnya pengawasannya lebih terjamin," terang Ronald.
Investasi asing
Di sisi lain, sudah jamak jika startup, termasuk fintech syariah, menerima investasi asing. Terkait dengan hal ini, Ronald yang juga Co-Founder dan Direktur Utama Fintech Syariah Ethis mengemukakan pihaknya lebih selektif dalam menerima investasi asing.
"Di platform saya sekitar 25% investor nonmuslim. Bagi saya itu suatu yang positif untuk membuka mata investor muslim yang tidak melirik syariah," tutur Ronald.
Fintech syariah lain, Alami, juga belum lama ini mengumumkan komitmen pendanaan dari empat investor asal Singapura dan Malaysia. "Kira-kira US$1 juta (sekitar Rp14 miliar) untuk (investasi) ini," kata CEO Alami, Dima Djani, Jakarta, pekan lalu.
Ia berharap putaran pendanaan tersebut selesai pada awal tahun depan. Keempat penanam modal itu terdiri atas tiga modal ventura dan satu angel investor. Modal ventura yang terlibat, yakni Golden Gate Ventures, Agaeti Ventures, dan RHL Ventures.
Investasi itu pun dipandang Dima sebagai hal baru. Ini karena untuk pertama kali startup syariah Indonesia mampu mengajak investor asing berinvestasi.
Ia berharap ada lebih banyak investor yang mau menanamkan modal di perusahaan rintisan Tanah Air. Alami telah menyalurkan pinjaman lebih dari Rp55 miliar.
Alami ditargetkan dapat memberikan pembiayaan sebesar Rp80 miliar hingga akhir tahun ini. Pada tahun depan, Alami diharapkan menyalurkan pinjaman sekitar Rp200 miliar. (S-3)
Bank Indonesia meluncurkan Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) untuk memperkuat literasi, keamanan, dan inklusi ekonomi digital, didukung pertumbuhan QRIS dan BI-FAST yang kian pesat.
INDUSTRI kripto di Indonesia terus menunjukkan peran aktifnya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi digital yang inklusif.
Data Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) RI menunjukkan tren peningkatan pengaduan serta lonjakan kerugian finansial konsumen dari tahun ke tahun.
Pelaku usaha kini bisa daftar QRIS, terima pembayaran semua bank dan e-wallet, serta pencairan dana tiap jam.
Di tengah ekspansi ekonomi digital yang kian cepat, industri financial technology (fintech) Indonesia memasuki fase baru: dari mengejar pertumbuhan.
Meski potensi ekonomi digital besar, Indonesia masih menghadapi tantangan serius pada aspek literasi.
KETUA PP Muhammadiyah Anwar Abbas menanggapi kritik Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Dalam sebuah kesempatan, Purbaya mendorong agar ekonomi atau perbankan syariah
BERKAT peran community officer sebagai garda terdepan dalam melayani dan mendampingi warga masyarakat inklusi, PT Bank BTPN Syariah Tbk mencatatkan kinerja positif sepanjang 2025.
Penyatuan dua figur dengan latar belakang yang saling mengisi dan menguatkan: investasi global dan ekonomi kerakyatan sejatinya adalah sebuah langkah cerdas
Danantara Indonesia menyampaikan bahwa penguatan Kawasan Thakher berjalan sebagai fondasi awal pengembangan Kompleks Haji.
Dahnil memerinci aset yang kini dimiliki Indonesia di Tanah Suci. Aset tersebut meliputi bangunan yang sudah beroperasi sebagai hotel serta lahan strategis yang siap dikembangkan.
Total aset keuangan syariah diperkirakan naik dari Rp3.158 triliun pada 2025 menjadi sekitar Rp3.508 triliun pada 2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved