Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH Amerika Serikat (AS) memberikan fasilitas sistem tarif preferensial umum (Generalized System of Preference/GSP) kepada 3.572 produk Indonesia.
Dengan fasilitas itu, produk-produk tertentu asal Tanah Air mendapat insentif berupa pengurangan tarif bea masuk ke Negeri Paman Sam.
Namun, sayangnya, dari jumlah sebanyak itu, baru 836 produk yang sudah dimanfaatkan oleh para pelaku usaha.
Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo mengungkapkan hal itu terjadi karena masih minimnya informasi terkait fasilitas GSP terutama di daerah-daerah.
"Jadi ini masalah informasi yang belum tersampaikan dengan baik," ujar Iman di Jakarta, Rabu (6/11).
Baca juga : Kunjungi Indonesia, Mendag AS Tepis Berpaling dari Asia Tenggara
Untuk membenahi persoalan tersebut, Kemendag telah membuka banyak FTA Center di berbagai daerah.
"Di situ kami sampaikan informasi mengenai pemanfaatan GSP. Bagaimana caranya, skemanya," tutur dia.
Selain itu, para pelaku usaha juga diberi pemahaman terkait ketentuan barang-barang yang boleh diekspor.
"Kita kan tidak boleh impor barang dari Tiongkok, terus kita ganti kemasan dan mengekspor itu ke AS, kemudian kita klaim itu barang kita sendiri. Itu tidak boleh. Jadi kami beri pemahaman sedetil-detilnya terutama kepada para pemain baru," ucapnya.
Tepat sepekan lalu, sebanyak lima produk ekspor Indonesia kembali memperoleh GSP dari AS.
Baca juga : Komitmen Tidak Jelas, India Bisa Angkat Kaki dari RCEP
Lima produk yang terdiri dari plywood bambu laminasi, plywood kayu tipis kurang dari 66 mm, bawang bombai kering, barang rotan khusus untuk kerajinan tangan serta kelompok sirup gula, madu buatan, dan karamel itu sebelumnya sudah dikeluarkan dari daftar penerima manfaat GSP karena sudah melewati ambang batas competitive need limits (CNL) sehingga dianggap sudah mampu bersaing.
Namun, setelah dicabut, pangsa pasar lima produk tersebut menurun dan pemerintah meminta AS untuk memasukkan kembali lima produk itu ke daftar penerima GSP.
"Setelah melakukan review, akhirnya AS bersedia memberikan kembali fasilitas GSP ke lima produk itu," tandasnya. (OL-7)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup perdagangan terakhir tahun 2025 dengan kinerja positif, menguat tipis sebesar 2,68 poin.
Anjloknya harga emas pada perdagangan hari ini memberikan tekanan langsung terhadap sentimen saham-saham tambang emas di Bursa Efek Indonesia (BEI).
IHSG mengakhiri perdagangan Selasa sore di zona merah. Tekanan jual muncul seiring investor melakukan aksi ambil untung (profit taking) menjelang libur dan cuti bersama Natal.
Sektor non-migas menjadi pendorong utama surplus perdagangan Batam pada September 2025, dengan mesin dan peralatan listrik (HS 85) mendominasi ekspor dengan nilai US$831,02 juta.
PRESIDEN Prabowo Subianto menyatakan pentingnya dukungan terhadap investasi asing sebagai bagian dari upaya mempercepat kemakmuran nasional.
Indonesia mendorong penyelesaian perundingan reviu ASEAN-India Trade in Goods Agreement (AITIGA) pada akhir 2025.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved