Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
Kegagalan anak usaha perusahaan tekstil Duniatex Group membayar bunga obligasi dianggap mencoreng kepercayaan investor terhadap instrumen obligasi atau utang swasta yang dikeluarkan korporasi di Indonesia.
"Dampaknya bisa merambat kepada kepercayaan investor terhadap surat-surat utang atau obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan swasta lainnya," tutur Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah saat dihubungi Media Indonesia, kemarin.
Menurutnya, permasalahan itu harus cepat ditanggulangi regulator.
"Apabila tidak cepat ditanggulangi regulator, khususnya oleh OJK dan BEI, bisa merusak upaya pengembangan pasar keuangan di Indonesia dan menyulitkan perusahaan-perusahaan swasta dalam mencari alternatif sumber pembiayaan," pungkas Piter.
Hal senada diungkapkan Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira.
"Tentunya bagi sektor tekstil secara keseluruhan menjadi kurang menarik di mata investor. Yang tadinya mau investasi jadi menahan dulu karena khawatir apa yg terjadi dengan Duniatex adalah masalah seluruh sektor tekstil di Indonesia," ujarnya melalui pesan singkat.
Kasus Duniatex bermula dari anak usahanya, PT Delta Dunia Sandang Textile (DDST), yang gagal membayar bunga senilai US$ 13,4 juta pada 10 Juli 2019 atas pinjaman sindikasi senilai US$260 juta.
Kemudian PT Delta Merlin Dunia Textile (DMDT), anak usaha Duniatex Group lainnya, juga gagal membayar bunga obligasi perdananya senilai US$12,9 juta yang jatuh tempo pada 12 September 2019.
Seharusnya, DMDT menyetor sebagian hasil penjualan obligasi senilai US$300 juta yang diterbitkan pada 12 Maret 2019 ke rekening penampungan untuk membayar bunga pertamanya. Namun, hingga jatuh tempo, pembayaran kupon bunga tidak dilaksanakan.
Secara kumulatif, utang enam anak usaha Duniatex mencapai Rp18,79 triliun, yang berasal dari 20 bank yang memberikan pinjaman bilateral, tiga pinjaman sindikasi, dan utang obligasi.
Bhima mengatakan, yang pertama terdampak gagal bayar Duniatex ialah kreditur, khususnya perbankan ataupun investor pemegang surat utang.
"Buat bank akan berkontribusi ke kenaikan NPL. Sementara untuk pekerja yang terkena dampak efisiensi juga perlu dicermati," ujarnya.
Salah kelola
Ketua Umum Ikatan Tekstil Indonesia (Ikatsi) Suharno Rusdi menilai kasus gagal bayar Duniatex merupakan imbas dari manajemen yang tidak dikelola dengan baik.
"Kami tidak menuduh, tapi kasus Duniatex, menurut hemat kami, karena missmanagement semata plus ada dugaan by design mendekati fraud," kata Suharno kepada Media Indonesia.
Namun, di sisi lain, ia meyakini kasus gagal bayar anak usaha Duniatex Group ialah kasus individual.
Bahwa kemudian ada persepsi dari masyarakat seolah-olah industri tekstil Indonesia akan terkena imbas kasus Duniatex, itu merupakan hal yang tidak dapat dihindari. (Ata/E-1)
Kasus yang awalnya terlihat sebagai persoalan kecil, yakni penagihan oleh "mata elang" kepada kelompok tertentu, kemudian berkembang menjadi konflik kekerasan
AMERIKA Serikat (AS) menjadi penerima terbesar aktivitas kredit resmi Tiongkok di seluruh dunia, demikian menurut sebuah studi baru yang menelusuri arus pembiayaan Beijing.
TIONGKOK mengalihkan fokus pendanaan globalnya, dengan lebih dari tiga perempat kredit atau utang ke negara-negara barat berpendapatan menengah atas dan tinggi misalnya Amerika Serikat.
AMERIKA Serikat (AS) tercatat sebagai negara dengan jumlah pinjaman terbesar dari Tiongkok dalam dua dekade terakhir
Prabowo meminta semua pihak ambil andil dan bertanggung jawab memberikan pelayanan kepada publik dengan baik.
pemda dan Badan Usaha Milik Negara/Daerah (BUMN) dapat mendukung program pemerintah pusat dengan mekanisme pinjaman atau utang oleh pemerintah pusat menggunakan APBN
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved