Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH diharap tak cepat berpuas diri dengan surplusnya neraca perdagangan pada Agustus 2019.
Pasalnya, surplus sebesar US$0,085 miliar itu bukan akibat dari kinerja ekspor yang membaik dari bulan sebelumnya, tetapi lebih disebabkan impor Agustus 2019 yang turun jika dibandingkan dengan Juli 2019.
"Pemerintah tidak boleh lengah dengan data surplus yang terjadi pada Agustus ini karena masih ada pekerjaan rumah, yakni menutupi defisit yang sangat dalam sebesar US$2,28 miliar yang terjadi pada April 2019," kata Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta, kemarin.
Pemerintah, sambungnya, harus terus mewaspadai defisit neraca perdagangan di bulan-bulan berikutnya. Terlebih, kinerja ekspor hingga saat ini masih belum mampu menambal defisit sepanjang Januari hingga Agustus 2019.
Menurut Arif, kinerja neraca perdagangan dibebani impor nonmigas dari salah satu negara mitra dagang terbesar, Tiongkok. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor nonmigas Tiongkok pada Agustus 2019 sebesar US$3,74 miliar, sedangkan ekspor nonmigas Indonesia ke negara itu hanya sebesar US$2,27 miliar.
Kondisi itu meneruskan tren neraca perdagangan Tiongkok dengan Indonesia yang pada 2017 ke 2018 mengalami pelebaran defisit, dari US$14,16 miliar menjadi US$20,84 miliar.
Hal serupa juga terjadi di periode Januari-Juli 2019 jika dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya, dengan defisit yang semakin dalam yakni sebesar 7,01%.
"Defisit perdagangan yang semakin melebar dengan Tiongkok sangat disayangkan karena harusnya Indonesia bisa memanfaatkan perang dagang yang terjadi antara Tiongkok dan Amerika Serikat. Belum lagi secara penduduk, pasar Tiongkok lebih besar daripada Indonesia, yang seharusnya menjadi peluang pasar ekspor Indonesia," ujarnya.
Terganggu perang dagang
Di kesempatan berbeda, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat, pada Juli 2019 ekspor produk minyak sawit sebesar 2,91 juta ton atau tumbuh 16% jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang hanya 2,52 juta ton.
Peningkatan pembelian terbesar itu dibukukan Bangladesh dengan kenaikan hingga 264%, diikuti India dengan lonjakan 77%.
"Seharusnya pertumbuhan ekspor bisa lebih besar, tetapi perang dagang yang terus terjadi antara Amerika Serikat dan Tiongkok mengganggu pasar minyak nabati dunia," ujar Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono, kemarin.
Menurut Mukti, Indonesia tidak boleh terlalu menggantungkan diri kepada pasar global. Penggunaan dalam negeri, baik untuk keperluan pangan maupun biodiesel, tetap harus didorong agar serapan semakin besar.
"Indonesia perlu segera merumuskan mekanisme yang memungkinkan pengaturan stok ke pasar dunia," tandasnya. (*/E-2)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup perdagangan terakhir tahun 2025 dengan kinerja positif, menguat tipis sebesar 2,68 poin.
Anjloknya harga emas pada perdagangan hari ini memberikan tekanan langsung terhadap sentimen saham-saham tambang emas di Bursa Efek Indonesia (BEI).
IHSG mengakhiri perdagangan Selasa sore di zona merah. Tekanan jual muncul seiring investor melakukan aksi ambil untung (profit taking) menjelang libur dan cuti bersama Natal.
Sektor non-migas menjadi pendorong utama surplus perdagangan Batam pada September 2025, dengan mesin dan peralatan listrik (HS 85) mendominasi ekspor dengan nilai US$831,02 juta.
PRESIDEN Prabowo Subianto menyatakan pentingnya dukungan terhadap investasi asing sebagai bagian dari upaya mempercepat kemakmuran nasional.
Indonesia mendorong penyelesaian perundingan reviu ASEAN-India Trade in Goods Agreement (AITIGA) pada akhir 2025.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved