Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMENTERIAN Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) mengusulkan kuota penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi dengan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sebesar 110 ribu unit pada tahun depan.
Angka tersebut jauh di atas kuota yang ditentukan pada tahun ini yang hanya 68.858 unit.
Direktur Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian PU-Pera Khalawi Abdul Hamid mengatakan jumlah itu sudah cukup besar.
Untuk memastikan penyaluran berjalan mulus, PT Bank Tabungan Negara (BTN) akan diberi kepercayaan menyalurkan 95% dari total kuota FLPP pada 2020.
"BTN 95% karena mereka memang spesialisasi di situ," ujar Khalawi di Jakarta, Kamis (29/8).
Baca juga: Proyeksi Biaya Awal Infrastruktur Rp865 Miliar
Pada tahun ini, BTN hanya diberikan jatah penyaluran FLPP sebanyak 28.744 unit.
Alhasil, baru pertengahan tahun, perseroan sudah kehabisan kuota dan tidak bisa menyalurkan KPR dengan skema tersebut.
Sementara, kuota di perbankan lain terutama bank-bank pembangunan daerah tidak kunjung habis lantaran kinerja penyaluran yang buruk.
Pemerintah pun mengalihkan kuota FLPP dari 17 bank yang memiliki realisasi penyaluran belum menyentuh 50% dari alokasi yang diberikan.
Kuota mereka diberikan kepada bank-bank yang menunjukkan performa lebih bagus seperti Bank Tabungan Negara (BTN).
Direktur Konsumer BTN Budi Satria mengatakan pihaknya memang telah menerima pengalihan kuota sebanyak 1.900 unit namun itu pun diperkirakan habis September karena banyaknya peminat FLPP. (OL-2)
KENAIKAN harga rumah yang terus tinggi menjadi salah satu faktor harga rumah semakin sulit terjangkau, termasuk oleh gen Z. Di sisi lain, pertumbuhan pendapatan sangat minim.
OJK menegaskan hanya segelintir calon debitur KPR dengan skema FLPP terkendala akibat catatan di Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).
Generasi milenial menjadi kelompok paling banyak menerima manfaat program Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Subsidi yang disalurkan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN).
Kementerian PKP sedang mengkaji skema Rent to Own (RTO) atau sewa-beli untuk mendukung program pembangunan 3 juta rumah, dengan fokus utama pada penyediaan pembiayaan bagi pekerja informal.
BTN menegaskan posisinya sebagai penyalur terbesar Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bersubsidi melalui program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) tahun 2025.
Segmen pasar menengah saat ini menjadi target pasar yang menjanjikan. Hal ini didorong oleh dominasi end-user, khususnya generasi milenial, Gen Z, serta pasangan muda.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved