Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Pasar Diprediksi Bereaksi Positif

Andhika Prasetyo
28/6/2019 08:35
Pasar Diprediksi Bereaksi Positif
Wakil Direktur Indef Eko Listiyanto(DOK.INDEF.COM)

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi (MK) terkait dengan sengketa hasil Pemilu Presiden 2019 dinilai tidak akan banyak memengaruhi kondisi perekonomian di Tanah Air.

Hal itu disampaikan Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto. Menurut dia, untuk situasi seperti saat ini, biasanya memang menimbulkan dinamika jangka pendek karena muncul aspek spekulatif.

Namun, tambahnya, isu tersebut dianggap sudah mereda dan tidak lagi menggema di masyarakat.

Ketimbang putusan MK, ungkap Eko, isu yang lebih bersifat global seperti pertemuan Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam KTT G-20 di Osaka, Jepang, pekan ini, dinilai akan lebih memengaruhi kondisi ekonomi di Tanah Air.

"Pertemuan tersebut lebih tinggi pengaruhnya mengingat seluruh dunia menanti hasil pertemuan tersebut. Apakah nanti akan ada kesepakatan baru terkait perang dagang? Mudah-mudahan hasil pertemuan itu positif," ujar Eko kepada Media Indonesia, kemarin.

Senada, Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah menilai putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait dengan sengketa Pilpres 2019 sudah dapat ditebak pasar sehingga tidak banyak berdampak pada pergerakan rupiah.

Menurut Piter, yang justru memberi dampak nantinya ialah respons para pendukung pasangan calon (paslon) terhadap hasil putusan MK.

"Apabila pendukung paslon bisa menerima apa pun hasil MK, dampaknya terhadap pasar keuangan akan positif. Demikian juga sebaliknya," jelas Piter.

Piter menambahkan, terlepas dari hasil putusan MK, pasar keuangan masih sangat dipengaruhi kondisi eksternal. Namun, dia memprediksi belum ada isu baru di eksternal yang akan cukup signifikan menggerakkan pasar keuangan.

"Saya meyakini gabungan kondisi eksternal dan respons pendukung paslon 02 yang tampaknya merespons keputusan MK cukup rasional akan berdampak positif terhadap pasar keuangan," tandasnya.

Di sisi lain, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual menilai presiden terpilih yang akan ditetapkan KPU setelah hasil sidang sengketa pilpres di MK perlu mengeluarkan kebijakan yang radikal untuk memompa investasi ke dalam negeri agar mampu meningkatkan produksi domestik sekaligus mengurangi laju impor yang selama ini membebani neraca transaksi berjalan.

Rupiah menguat

Terkait dengan pergerakan nilai rupiah, jelang putusan MK, rupiah hingga kemarin sore menguat 38 poin atau 0,26% menjadi 14.140 per dolar AS dari sebelumnya 14.178 per dolar AS.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, jika Jokowi kembali menjadi presiden, arah kebijakan secara umum tidak akan berubah banyak. "Tentu itu merupakan hal baik bagi dunia investasi karena ketidakpastian arah kebijakan bisa diminimalisasi," ujar Ibrahim.

Dengan demikian, lanjutnya, dalam pemerintahan ke depan, Jokowi-Ma'ruf Amin akan lebih percaya diri dalam menyusun kabinet sehingga program-program kerja seperti pembangunan infrastruktur dan sumber daya manusia akan menjadi fokus.

Dalam perdagangan akhir pekan, Jokowi effect dinilai akan memengaruhi arah rupiah. "Alhasil, sejumlah investor yang sejak gonjang-ganjing pilpres menahan diri untuk berinvestasi bisa kembali agresif masuk ke instrumen berisiko, apalagi setelah pemeringkat S&P memberikan dari rating BBB- menjadi BBB+ terhadap obligasi Indonesia sehingga potensi untuk gagal bayar berinvestasi sangat kecil," kata Ibrahim. (*/Ant/X-11)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya