Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGAMAT ekonomi Universitas Indonesia Fithra Faisal menilai ekspor bawang merah yang dilakukan Kementerian Pertanian sebagai langkah keliru sebab stok untuk kebutuhan nasional belum tercukupi sehingga harga komoditas tersebut di dalam negeri melonjak dan menimbulkan inflasi.
“Kalau barang tidak ada semestinya stok disimpan dulu untuk menahan lonjakan harga saat Ramadan. Dilihat dari situ saja, pengambilan kebijakannya sudah cacat nalar,” ujar Fithra kepada Media Indonesia, Selasa (7/5).
Ia khawatir jika kesalahan terus diulang ke depan, inflasi akibat produk hortikultura dapat meningkat lagi pada Mei 2019 atau semasa Ramadan. “Jangan sampai ini terus dilakukan hanya untuk memenuhi key performance index (KPI).”
Untuk diketahui, berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), bawang merah dan bawang putih merupakan pemicu utama inflasi April 2019. Inflasi kala itu tercatat 0,44%.
Bahan makanan menjadi kelompok pengeluaran yang memberi kontribusi terbesar yakni mencapai 1,45% atau memiliki andil 0,31% pada tingginya inflasi bulan keempat ini. Secara rinci, bahan makanan yang mengalami eskalasi harga signifikan ialah bawang merah yang naik hingga 22,93%.
Melihat data BPS ini, Fithra menilai ada yang tidak tepat dalam pelaksanaan tata kelola komoditas tersebut. Hal senada diutarakan pengamat sekaligus mantan Menteri Pertanian Anton Supriyantono. Ia menyayangkan keputusan prematur yang diambil terkait ekspor bawang merah. “Mereka tidak memperhatikan keseimbangan pasokan. Tidak ada penghitungan yang tepat, yang matang, nantinya akan kurang atau lebih,” ucapnya.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, pada akhir Maret lalu Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengumumkan ekspor bawang merah sebesar 70.000 ton ke enam negara termasuk Thailand dan India. Mentan mengklaim stok bawang merah hingga awal Mei mencapai 132 ribu ton dengan tingkat kebutuhan sekitar 112 ribu ton sehingga ada surplus 20 ribu ton. (Pra/E-2)
Petani memanen bawang merah saat panen raya akhir tahun di Gondang, Nganjuk, Jawa Timur.
Petani memeriksa instalasi lampu perangkap hama di Rejoso, Nganjuk, Jawa Timur.
Selain beras dan minyak, bawang merah juga masuk kategori tiga besar bahan pokok yang sering mengalami inflasi.
Bawang merah juga mengalami penurunan Rp3.833 dari Rp47.667 menjadi Rp43.834/kg. Sementara bawang putih turun Rp1.000 dari Rp34.317 menjadi Rp33.317/kg.
Dari pengamatan di lapangan, cabai hijau bahkan ada yang dijual Rp60.000 per kilogram. Harga cabai saat ini dinilai cukup mahal dan jauh di atas harga keekonomiannya
Harga bawang merah turun dari sebelumnya Rp56.667 per kilogram, turun sebesar Rp12.500 menjadi Rp44.167/kg.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved