Headline

DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.

Ekonomi Global Melambat, Pemerintah Diminta Genjot Manufaktur

Nur Aivanni
16/4/2019 11:05
Ekonomi Global Melambat, Pemerintah Diminta Genjot Manufaktur
Penjaga stan menyimulasikan pengoperasian mesin pembentuk pelat besi, pada Pameran Teknologi Manufaktur di Semarang(ANTARA FOTO/R Rekotomo)

DIREKTUR Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah mengatakan dalam jangka pendek, pemerintah tidak mempunyai pilihan baik untuk menggenjot ekspor ke negara lain maupun mencari pasar baru di tengah perlambatan ekonomi global, selain fokus mendorong industrialisasi.

Permasalahan Indonesia, kata Piter, adalah di defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) dan neraca dagang yang tertekan. Hanya saja, kedua hal tersebut cenderung membaik.

"Yang kita harus fokus bagaimana membangun struktur ekonomi yang lebih kokoh dalam jangka panjang. Membangun kembali industri," kata Piter kepada Media Indonesia, Selasa (16/4).

Untuk mencari pasar baru dalam rangka meningkatkan ekspor, dinilai Piter, tidak lah mudah. Pasalnya, membutuhkan waktu, strategi dan produk yang memiliki daya saing.

"Industri manufaktur lah yang harus digenjot oleh pemerintah di tengah perlambatan ekonomi dunia," ujarnya.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca dagang Indonesia pada Maret 2019 mengalami surplus US$0,54 miliar. Untuk nilai ekspor Maret 2019 tercatat mencapai US$14,03 miliar atau meningkat 11,71% dibandingkan ekspor Februari 2019. Namun, angka tersebut turun 10,01% dibandingkan Maret 2018. BPS menilai perlambatan ekonomi global memang membuat ekspor Indonesia agak sulit untuk digencarkan.

Baca juga: Kemenperin Genjot 5 Sektor Demi Tingkatkan Industri Manufaktur

Sebelumnya, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution pun menyoroti perlambatan ekspor Indonesia di tengah surplusnya neraca dagang Maret 2019.

"Itu kelihatannya hampir semua negara tujuan, memang melambat ekspor kita, artinya ini benar-benar persoalan demand side," kata Darmin di kantornya, Senin (15/4) malam.

Ia mengatakan tidak ada jalan lain selain mencari pasar baru untuk menggenjot ekspor. Pasar baru yang dimaksud seperti ke Afrika, Asia Tengah dan Amerika Latin. Hanya saja, kata Darmin, dampaknya tidak bisa sebesar ekspor ke negara tujuan utama misalnya Tiongkok.

"Artinya ini situasi global, benar-benar demand global sedang merosot, ekonomi dan perdagangan global melambat," pungkasnya.(OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya