Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
DI era pemerintahan Joko Widodo, Indonesia banyak menyelesaikan perjanjian kerja sama perdagangan dengan negara-negara mitra, mulai dari Indonesia-Chile Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), Indonesia-EFTA CEPA hingga Indonesia-Australia CEPA.
Berbagai perjanjian itu tentu memberikan banyak dampak bagi perdagangan Tanah Air dan negara-negara yang terlibat. Di satu sisi, Indonesia bisa mendapatkan barang dari luar negeri dengan harga yang lebih murah.
Dengan kelebihan itu, pihak di dalam negeri bisa mengimpor banyak bahan baku untuk kemudian diolah menjadi barang siap pakai dan diperdagangkan secara lokal maupun global.
Di sisi lain, perjanjian itu juga memanjakan produk-produk asing karena mendapat fasilitas bea masuk gratis atau rendah.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai perlu ada kajian khusus yang lebih mendalam terkait dampak dari perjanjian dagang internasional.
"Harus ada harmonisasi dari semua perjanjian dagang. Itu belum pernah dilakukan sebelumnya. Kita harus mempelajari apakah kerja sama itu mendorong industri di dalam negeri atau malah kita keasyikan impor karena lebih murah," ujar Darmin pada Rapat Koordinasi Kementerian Perdagangan di Jakarta, Selasa (12/3).
Baca juga: Pemerintah Pacu Penyelesaian Kerja Sama Perjanjian Dagang
Hal itu yang dititipkan Darmin kepada Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita untuk ditindaklanjuti pada masa mendatang.
"Saya tidak bilang begitu karena itu belum pasti. Tapi ini perlu kita kaji agar kita tahu apakah kita sedang mendorong industri dalam negeri atau jangan-jangan terlalu murah hati kepada mereka (negara mitra). Ini baru sekedar pemikiran saja. Perlu ada studi khusus ke sana," ucap Darmin.(OL-5)
Kejaksaan Agung menetapkan 11 tersangka baru dalam kasus dugaan korupsi ekspor CPO dan produk turunannya, termasuk pejabat ASN yang menerima imbalan untuk meloloskan ekspor.
Kejaksaan Agung menetapkan 11 tersangka baru dalam kasus dugaan korupsi ekspor CPO dan produk turunannya dengan estimasi kerugian negara mencapai Rp14 triliun.
Pada kuartal IV 2025, industri tekstil dan produk tekstil tercatat tumbuh 4,37 persen secara tahunan di tengah tekanan global dan perlambatan permintaan di sejumlah negara tujuan ekspor.
Neraca perdagangan Indonesia yang tetap mencatatkan surplus sepanjang 2025 mencerminkan daya tahan sektor eksternal.
Indonesia kembali mencatatkan kinerja positif dengan mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 68 bulan berturut-turut, di tengah kondisi ekonomi global yang tak pasti.
BPS melaporkan kinerja ekspor Indonesia sepanjang Januari hingga Desember 2025 tercatat mencapai US$282,91 miliar atau mengalami kenaikan sebesar 6,15%.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved