Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
DI era pemerintahan Joko Widodo, Indonesia banyak menyelesaikan perjanjian kerja sama perdagangan dengan negara-negara mitra, mulai dari Indonesia-Chile Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), Indonesia-EFTA CEPA hingga Indonesia-Australia CEPA.
Berbagai perjanjian itu tentu memberikan banyak dampak bagi perdagangan Tanah Air dan negara-negara yang terlibat. Di satu sisi, Indonesia bisa mendapatkan barang dari luar negeri dengan harga yang lebih murah.
Dengan kelebihan itu, pihak di dalam negeri bisa mengimpor banyak bahan baku untuk kemudian diolah menjadi barang siap pakai dan diperdagangkan secara lokal maupun global.
Di sisi lain, perjanjian itu juga memanjakan produk-produk asing karena mendapat fasilitas bea masuk gratis atau rendah.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai perlu ada kajian khusus yang lebih mendalam terkait dampak dari perjanjian dagang internasional.
"Harus ada harmonisasi dari semua perjanjian dagang. Itu belum pernah dilakukan sebelumnya. Kita harus mempelajari apakah kerja sama itu mendorong industri di dalam negeri atau malah kita keasyikan impor karena lebih murah," ujar Darmin pada Rapat Koordinasi Kementerian Perdagangan di Jakarta, Selasa (12/3).
Baca juga: Pemerintah Pacu Penyelesaian Kerja Sama Perjanjian Dagang
Hal itu yang dititipkan Darmin kepada Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita untuk ditindaklanjuti pada masa mendatang.
"Saya tidak bilang begitu karena itu belum pasti. Tapi ini perlu kita kaji agar kita tahu apakah kita sedang mendorong industri dalam negeri atau jangan-jangan terlalu murah hati kepada mereka (negara mitra). Ini baru sekedar pemikiran saja. Perlu ada studi khusus ke sana," ucap Darmin.(OL-5)
Sebagai salah satu produsen kelapa terbesar di dunia, Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang belum tergarap maksimal.
MENTERI Perdagangan (Mendag) Budi Santoso akan memanggil sejumlah eksportir untuk membahas potensi gangguan pasokan akibat penutupan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz
Bank Indonesia (BI) mengapresiasi catatan surplus neraca perdagangan Indonesia pada Januari tahun ini.
BADAN Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor Indonesia pada Januari 2026 mencapai 22,16 miliar dolar AS atau tumbuh 3,39 persen dibandingkan Januari 2025
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor mencapai US$22,16 miliar. Angka itu meningkat 3,39% secara tahunan.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 mencatat surplus sebesar 0,95 miliar dolar AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved