Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Produsen Tempe di Aceh Keluhkan Mahalnya Harga Bahan Baku

Antara
05/2/2019 20:08
Produsen Tempe di Aceh Keluhkan Mahalnya Harga Bahan Baku
( ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

PRODUSEN tempe di Desa/ Gampong Suak Timah, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat menggeluh akibat naiknya harga bahan baku kacang kedelai sejak beberapa bulan terakhir.

Produsen tempe  Suak Timah, Cek Man, di Meulaboh, Selasa (5/2), mengatakan, saat ini harga kacang kedelai dibeli dipasar bertahan Rp7.900/kg atau mengalami kenaikan sebesar Rp500/kg dari harga normal sebelumnya Rp7.400/kg.

"Sebenarnya kenaikkan kacang kuning (kedelai) ini sudah sejak Desember
2018 dan sampai hari ini harganya tidak tidak turun-turun lagi. Pasti butuh modal tambahan dari hari-hari biasanya," keluhnya saat ditemui di lokasi usahanya.

Meski pun terjadi kenaikan harga bahan baku utama serta bahan campuran lain seperti ragi, akan tetapi belum menurunkan jumlah produksi rata-rata per hari, karena dirinya telah memiliki langganan atau tempat penjualan ke pasar terdekat.

Pria tersebut mengaku telah memulai membuka usaha produksi tempe berbahan kacang kedelai sejak tahun 2010 atau kurang lebih sudah berhasil berjalan selama sembilan tahun menghidupi keluarga dengan industri rumah tangganya.

Usaha rumah tangganya itu diberi nama Fuji Tempe, setiap hari memproduksi tempe untuk kebutuhan pasar lokal dan membutuhkan bahan baku kedelai rata-rata 100 kg sampai dengan 200 kg per harinya.

"Tempe berbentuk kecil - kecil dibalut dengan kertas plastik, karena ada juga usaha tempe lain yang pakai daun. Harga tempe kami lebih murah, untuk ukuran paling kecil 150 gram dijual ke pasar seharga Rp2 ribu per lempeng," imbuhnya.

Baca juga: Cuaca Pengaruhi Harga Komoditas Pangan

Lebih lanjut dikatakan, meski pun terjadi kenaikan harga pada bahan baku, namun usahanya itu belum berani menaikkan harga jual, walau pun keuntungan yang diperoleh jauh berkurang dari biasanya saat harga kedelai normal.

Selain  itu kata Cek Man, ada pengusaha lain di kawasan setempat maupun dari luar daerah yang berebut akses pasar, persaingan bisnis tempe akan anjlok apabila harga jual sesama produsen tidak sama.

Demikian halnya ukuran tempe masih seperti sebelum terjadi kenaikan harga kedelai yakni 150 gram per lempeng, namun kondisi tersebut
dimungkinkan bisa berubah atau harga bisa dinaikkan menyesuaikan dengan biaya kerja.

"Kalau ukuran tetap, tidak akan dikurangi, ukuran ini sudah standar dengan produk kami buat. Harapan kepada pemerintah semoga harga kacang kuning ini bisa lah diturunkan lagi, paling tidak seperti harga November 2018," pungkasnya. (OL-7)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Budi Ernanto
Berita Lainnya