Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Swasta Keluhkan Kredit masih Mahal

Jessica Sihite
23/5/2016 00:00
Swasta Keluhkan Kredit masih Mahal
(ADAM DP)

KALANGAN pengusaha emoh disebut sebagai biang keladi masih rendahnya investasi swasta di Indonesia. Mereka menyebut masih banyak perbankan yang enggan menurunkan suku bunga kredit mereka sehingga tidak menarik bagi pelaku usaha. Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Perdagangan Benny Soetrisno menyatakan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) masih tinggi sehingga suku bunga kredit perbankan tetap mahal. "Bagaimana mau mendorong usaha kalau biaya atau NIM masih belum kompetitif?" cetus Benny melalui sambungan telepon, Minggu (22/5). Menurutnya, penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI) sampai saat ini menjadi 6,75% tidak dibarengi langkah signifikan serupa oleh pihak perbankan.

Apalagi memang tidak ada kewajiban dari BI, pun Otoritas Jasa Keuangan (OJK), agar perbankan menurunkan suku bunga kredit mereka. Ia meminta agar BI dan OJK punya strategi ampuh untuk membuat perbankan bisa menyediakan jasa keuangan yang lebih murah. Di samping itu, perbankan harus 'ramah' kepada pelaku usaha kecil dan menengah (UKM). Bila biaya bunga kredit yang termasuk ongkos produksi masih tinggi, nilai Benny, bukan hal yang tidak mungkin para pengusaha enggan mengembangkan usaha produksi mereka.

Karena itu, dia melihat saat ini produksi yang dihasilkan industri dalam negeri masih seret. "Kalau masih tinggi, mungkin lebih baik impor barang yang lebih murah daripada produksi sendiri. Utilisasi terpasang di industri kita masih rendah. Kalau biaya murah, industri akan menambah utilisasi. Kalau itu bertambah, lapangan pekerjaan akan bertambah. Harusnya itu dipertimbangkan BI dan OJK," tegas Benny. Dewasa ini, NIM industri perbankan relatif stabil di atas 5%. OJK sendiri baru-baru ini merilis insentif untuk memotivasi bank menekan NIM berupa kemudahaan pembukaan cabang.

Senada dengan Benny, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman melihat suku bunga kredit perbankan masih mahal. "Padahal, ada target penurunan suku bunga dari pemerintah, tapi BI sudah berhenti di 6,75%. Dari angka itu, bunga pinjaman perbankan masih di atas 10%," tutur Adhi. Dia mengelak bila swasta disalahkan atas laju pertumbuhan kredit yang rendah. Menurut dia, peran swasta sangat besar karena konsumsi swasta merupakan kontributor terbesar bagi produk domestik bruto (PDB). Karena itu, dia meminta perbankan mau membantu para pengusaha untuk menurunkan suku bunga kredit mereka.

"Dari sisi daya beli konsumen juga menurut saya tidak ada gangguan karena permintaan makin besar kok. Hanya, kredit bank masih mahal dan banyak sektor saat ini juga dilihat perbankan sangat berisiko, seperti kehutanan dan beberapa komoditas yang harganya lagi turun," papar Adhi. Sebelumnya, BI melansir kredit perbankan pada Maret lalu hanya tumbuh 8,7% ketimbang Maret 2015 (year on year/yoy). Laju itu dinilai masih rendah. BI menduga salah satu faktornya ialah permintaan dari swasta yang belum naik signifikan.

"Pertumbuhan kredit 8% ini kurang, perlu didorong. Yang selama ini kami lakukan ialah mendorong sisi penawaran kredit dari perbankan dengan melonggarkan likuiditas, menurunkan bunga, dan melonggarkan kebijakan makroprudensial. Yang perlu didorong dalam hal koordinasi dengan pemerintah ialah dari sisi permintaan. Investasi swasta dan konsumsi yang lain perlu diperkuat agar permintaan kredit naik," ujar Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo, pekan lalu. Ia mengakui, walau sudah mulai berjalan, efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter belum optimal. Secara umum. suku bunga deposito perbankan dalam sebulan terakhir turun rata-rata 57 bps (basis poin), sementara kredit 22 bps. (Ant/E-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya