Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Guru Besar ITB Ingatkan Bom Waktu dari Sistem TPA di Indonesia

Bintang Krisanti
05/1/2026 12:06
Guru Besar ITB Ingatkan Bom Waktu dari Sistem TPA di Indonesia
Sejumlah pekerja tampak menyelesaikan pembangunan tanggul, sementara beberapa eskavator dikerahkan untuk melakukan pengerukan guna mengantisipasi risiko longsor di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang, Tangesel, Selasa (30/12/2025).(MI/ Permana)

PENUMPUKAN sampah di sejumlah lokasi di Tangerang Selatan hanya secuil potret dari carut-marutnya pengelolaan sampah di Indonesia, terutama operasional Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Guru Besar ITB bidang Sirkulasi Limbah Padat dan Persampahan, Prof. Emenda Sembiring mengungkapkan bahwa TPA versi Indonesia akan berisiko menjadi bom waktu.

 

Sampai hari ini (5/1), tumpukan sampah masih terdapat di depan Pasar Cimanggis, Ciputat. Tumpukan sampah di wilayah tersebut dan sekitarnya sudah terjadi, setidaknya, sejak pertengahan Desember 2025. Hal itu akibat TPA Cipeucang, Serpong, telah mengalami kelebihan kapasitas sehingga harus ditutup untuk pembenahan.

 

Di Indonesia, setidaknya ada 10 TPA lain yang mengalami masalah sama dan semuanya bersistem open dumping. Sementara, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyebutkan dari 550 TPA yang dikelola pemda, sekitar 343 di antaranya juga bersistem open dumping. KLH pun menargetkan penutupan seluruh TPA open dumping.

 

Dihubungi Media Indonesia, Kamis (1/1), Emenda mengungkapkan bahwa secara desain, TPA sebenarnya dibuat dengan sistem saniter. Di antaranya adalah memiliki lapisan geomembran (terpal geo) di bagian bawah untuk mencegah kebocoran, sistem pembuangan air lindi, sistem pembuangan gas metan, hingga prosedur pemadatan sampah dan pengurukan tanah. Sistem itu dapat membuat TPA tidak cepat penuh dan mencegah kontaminasi.

 

“Harusnya kan tiap hari, begitu selesai diuruk. Sampahnya ditutup pakai tanah, tapi ternyata tidak dilakukan,” kata Emenda.

 

Lebih lanjut ia menjelaskan, di TPA, setelah sampah dikeluarkan dari truk, semestinya dilakukan proses pemadatan dengan alat berat, sehingga mencapai kepadatan 700kg per meter kubik. Setelah itu sampah baru diuruk dengan tanah.

 

Kenyataannya, hal itu kerap tidak dilakukan pemda karena berbagai biaya, mulai dari biaya bahan bakar alat berat hingga biaya pengadaan tanah. “Alat berat maju mundur itu kan perlu bahan bakar… plus kemudian menyediakan tanah harian,” katanya.

 

Emenda melanjutkan bahwa konsep landfill (TPA) yang lebih canggih sekalipun tetap menimbulkan persoalan. “Sebenarnya landfill itu bom waktu,.. Kita pasang liner di bawah itu kan pakai biotekstil atau geomembran itu tetap saja. Kan operasional TPA itu 20 tahun, itu akan tetap ada leakage-nya (kebocoran),” jelasnya.

 

Sebab itu Emenda mengatakan solusi persampahan harus dilakukan dengan menggabungkan berbagai metode dan harus dilakukan berantai, dari mulai rumah tangga. Ia menyebutkan selain dengan pengurangan sampah di tingkat rumah tangga, pemda dan industri juga harus meningkatkan daur ulang. Selain itu, pemda juga dapat menggabungkan TPA sanitary dengan metode termal. Simak pembicaraan lengkap di program Mini Podcast di Instagram @mediaindonesia.com

 

 

 

 

 

 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Bintang Krisanti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik