Headline
Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kumpulan Berita DPR RI
Penelitian terbaru terkait psikologi dan ilmu bahasa dari University College London (UCL) mengungkapkan orang tua yang sering berteriak kepada anak-anak mereka atau menyebut mereka “bodoh” bisa berdampak negatif bagi perilaku dan psikis anak. Hal itu dapat mengakibatkan anak lebih besar berisiko menyakiti diri sendiri dan bertindak kriminal, seperti menggunakan narkoba dan sebagainya.
Para ilmuwan mengatakan berbicara kasar kepada anak-anak diakui sebagai salah satu bentuk pelecehan karena kerusakan yang ditimbulkannya sangat besar. Pelecehan tersebut termasuk dalam kategori verbal dari orang dewasa ke anak yang ditandai dengan berteriak, membentak, merendahkan anak, dan ancaman verbal atau lewat kata-kata.
“Jenis-jenis tindakan orang dewasa yang sering berteriak ini dapat merusak perkembangan anak seperti halnya subtipe penganiayaan, dampak itu sama seperti yang ditimbulkan dari pelecehan fisik dan seksual pada masa kanak-kanak. Hal ini sudah terbukti secara forensik,” ujar para akademisi dalam makalah penelitian seperti dilansir dari Guardian pada Kamis (5/10).
Penelitian yang dipublikasi pada Jurnal Child Abuse & Neglect ini lebih lanjut menjelaskan banyak anak yang mengalami pelecehan verbal daripada pelecehan fisik atau seksual. Jumlahnya kian mengalami peningkatan mencapai 40% dan diperkirakan terus bertambah.
Ahli medis terkait pelecehan anak dari Amerika Serikat dan salah satu penulis studi tersebut, Prof Shanta R Dube dalam penelitiannya menemukan bahwa orang dewasa sering kali tak menyadari bagaimana nada bentakan dan kata-kata yang mengkritik, seperti bodoh dan malas, dapat berdampak negatif pada anak-anak, terutama jika hal itu diadopsi menjadi cara untuk mendidik.
Sementara itu, salah satu penulis makalah dan kepala divisi psikologi dan ilmu bahasa di University College London (UCL) serta kepala eksekutif pusat Anna Freud, Prof Peter Fonagy mengatakan bahwa anak-anak secara genetis dipersiapkan untuk mempercayai apa yang dikatakan orang dewasa, sehingga menganggap perkataan tersebut sebagai sesuatu yang serius dan dianggap benar.
“Jika kita menghancurkan kepercayaan diri anak dengan menggunakan kata-kata untuk melecehkan daripada mengajar, hal ini dapat membuat anak-anak tidak hanya merasa malu, terisolasi, dan dikucilkan, namun juga tidak bisa berkomunikasi secara baik dengan komunitas mereka, bahkan bisa menarik diri dari lingkungan,” ungkapnya.
Studi yang melibatkan responden representatif dari 20.556 penduduk Inggris ini menemukan bahwa sebanyak 19.9% pernah mengalami pelecehan verbal hampir dua kali lipat. Sebanyak 10.8% dari mereka melampiaskan amarah dan rasa tak berdayanya dengan menggunakan ganja. Sementara sekitar 4.4% berakhir di penjara.
Ada pula survei terbaru di Inggris yang melibatkan 1.000 anak berusia 11 hingga 17 tahun yang meneliti lebih lanjut dampak dari makian orang dewasa terhadap anak-anak. Peneliti menemukan ada 41% anak-anak yang mengatakan bahwa orang dewasa terutama orang tua, pengasuh, guru, dan orang tua teman sering menggunakan kata-kata yang menyakitkan dan menjengkelkan untuk menyalahkan, menghina, atau mengkritik mereka. Sekitar 51% dari anak-anak itu mengatakan bahwa mereka mengalami hal itu setiap pekan. Sementara itu 1 dari 10 orang mengatakan bahwa mereka mengalaminya setiap hari.
Ketika ditanya kata-kata apa yang paling menyakitkan dan menjengkelkan yang pernah mereka alami, ada beberapa kata yang sering didengar anak-anak yaitu “kamu tidak berguna”, “kamu bodoh”, dan “kamu tidak bisa melakukan sesuatu dengan benar”. Sebaliknya, kata-kata paling positif yang mereka dengar dari orang dewasa adalah “saya bangga padamu”, “kamu pasti bisa”, dan “saya percaya padamu”.
Words Matter
Keprihatinan di antara para ahli dalam perkembangan anak dan kesehatan mental tentang tingkat pelecehan verbal yang dilakukan orang dewasa, telah mendorong terciptanya badan amal baru yaitu Words Matter. Badan ini memiliki tujuan adalah untuk meningkatkan kesadaran para orang dewasa agar mengakhiri kebiasaan buruk memaki.
“Dari ratusan penelitian terkait kekerasan verbal terhadap anak, terbukti sangat memengaruhi psikologis mereka sehingga memungkinkan anak tumbuh menjadi individu yang kasar terhadap dirinya sendiri dan orang lain serta berperilaku kriminal,” jelas Fonagy.
“Ancaman dengan kata-kata kasar itu bisa membuat anak merasa rendah harga diri, menggunakan nikotin, alkohol, dan obat-obatan terlarang, peningkatan risiko kecemasan, depresi, dan bahkan gangguan psikotik,” tambahnya.
Ada pula makalah yang ditulis oleh Dube, Fonagy, dan akademisi lainnya di UCL yang menemukan bahwa 36,1% anak-anak di seluruh dunia pernah mengalami pelecehan emosional, termasuk pelecehan verbal. Angka tersebut jauh lebih tinggi dari 25% yang mengalami pelecehan seksual dan 22% yang mengalami pelecehan fisik.
Sebuah penelitian terbaru terhadap anak muda di AS oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit juga menemukan bahwa 55% siswa sekolah yang lebih tua pernah dimaki-maki atau mengalami penghinaan verbal lainnya di dalam keluarga.
Dube mengatakan bahwa pelecehan verbal pada masa kanak-kanak tidak masuk dalam radar untuk dideteksi dan sulit dicegah karena hanya sedikit orang dewasa yang menyadari bahwa ini adalah masalah yang umum dan berbahaya.
“Orang tua khususnya perlu disadarkan bahwa cara mereka berbicara kepada anak-anak dapat memiliki dampak seumur hidup, sehingga mereka harus memahami secara baik kalimat yang diungkapkan dan mulai berbicara yang positif kepada anak-anak mereka,” ujarnya. (M-3)
Posisi di tengah membuat seorang anak merasa perlu melakukan upaya ekstra untuk mendapatkan perhatian orangtua yang sering kali terbagi.
Remaja lebih mudah tergoda melakukan hal-hal yang menyenangkan atau sedang tren karena sistem limbik mereka lebih dominan
Ada mekanisme psikologis dan neurologis yang sangat kompleks yang membuat manusia modern begitu terobsesi dengan urusan privasi orang lain, seperti netizen yang terobsesi dengan artis.
PEMAHAMAN mendalam mengenai tahapan perkembangan psikologi anak bukan sekadar wawasan tambahan, melainkan fondasi utama dalam pola asuh modern di tahun 2026.
Psikologi menyebut orang yang memasak sambil membersihkan dapur memiliki 8 kepribadian kuat, mulai dari disiplin, mindfulness, hingga manajemen waktu yang baik.
Studi terbaru mengungkap teknik "meta-cognitive doubt". Meragukan pikiran negatif ternyata lebih efektif untuk kembali berkomitmen pada tujuan jangka panjang.
Adil tidak berarti memberikan perlakuan yang identik kepada setiap anak, melainkan harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing.
Langkah pertama yang harus dilakukan bukanlah memaafkan secara terburu-buru, melainkan menyadari bagaimana pengalaman tersebut membentuk dinamika diri di masa kini.
Kebocoran aliran darah pada jantung dapat memicu tekanan tinggi pada paru yang berujung pada kondisi fatal yang disebut Sindrom Eisenmenger.
Kombinasi gerakan mengayun dan suara mesin kendaraan bekerja secara sinergis menenangkan sistem saraf anak.
Meta menekankan bahwa perlindungan terhadap anak tidak harus dilakukan dengan cara yang mengekang atau memantau seluruh isi percakapan secara berlebihan.
DI tengah upaya pemerintah memperketat pengawasan digital bagi anak-anak, suara dari akar rumput mengingatkan bahwa regulasi teknis saja tidak cukup.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved